Musda Demokrat Sulteng 2026 Berpotensi Aklamasi, Evaluasi Kepengurusan Jadi Perhatian Utama
- Selasa, 05 Mei 2026 - 16:33 WITA
- Editor: Abdy Nusantara
- | Penulis: Abdy Nusantara
Mantan Sekertaris Partai Demokrat Sulteng Talitti Paluge, mengungkapkan bahwa evaluasi kepengurusan harus menjadi perhatian penting dalam pelaksanaan Musda 2026. (Abdy/Faktasulteng).
Faktasulteng.id, Palu – Menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Demokrat Sulawesi Tengah tahun 2026, mekanisme pemilihan ketua hingga arah pembenahan struktur partai mulai mengemuka. Mantan Sekretaris DPD Partai Demokrat Sulteng, Talitti Paluge, mengungkapkan bahwa sistem pemilihan dalam Musda bersifat fleksibel, menyesuaikan dinamika kandidat yang muncul.
Menurutnya, tradisi yang umum digunakan adalah voting terbuka, terutama jika hanya terdapat satu figur kuat yang didorong oleh mayoritas pemilik suara. Namun, mekanisme tertutup tetap dimungkinkan jika terdapat lebih dari satu kandidat yang bersaing.
“Biasanya tradisi kita memakai voting terbuka. Kalau hanya satu figur yang didorong dan mengarah aklamasi, maka itu dilakukan secara terbuka. Tapi kalau ada kandidat lain, maka diberikan ruang menggunakan sistem voting tertutup,” jelas Talitti dalam wawancaranya dengan Faktasulteng pada Selasa (5/5/2026).
Lebih lanjut, Talitti menegaskan bahwa seluruh tahapan Musda berada di bawah kendali Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat, sesuai Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Setelah jadwal ditetapkan, panitia akan dibentuk lengkap dengan Organizing Committee (OC) dan Steering Committee (SC), yang bertugas menyusun tata tertib hingga mengawal jalannya persidangan.
Ia menyebut, inti dari seluruh rangkaian Musda tetap berfokus pada pemilihan ketua. Bahkan, jika berlangsung secara aklamasi, proses persidangan dapat berjalan singkat.
Dari hasil komunikasi internal dan survei terbatas, dukungan mayoritas kader disebut mengarah pada Anwar Hafid sebagai calon kuat Ketua DPD Demokrat Sulteng. Di sisi lain, isu penting yang mengemuka adalah perlunya evaluasi menyeluruh terhadap struktur kepengurusan partai pasca-Musda. Talitti menilai, perbaikan tata kelola organisasi menjadi kunci untuk memperkuat kinerja partai ke depan.
“Persoalan utama itu di roda organisasi, terutama komposisi ketua, sekretaris, dan bendahara. Ini yang harus dievaluasi secara serius agar diisi oleh figur yang profesional dan berintegritas,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya regenerasi kader serta penguatan struktur hingga tingkat DPC dan ranting, yang dinilai sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia dan kepemimpinan, serta pengalaman organisasi.
Menurutnya, keberhasilan partai tidak semata diukur dari perolehan kursi legislatif maupun eksekutif, melainkan juga dari tata kelola organisasi yang baik dan akuntabel di mata publik.
Talitti menambahkan, peran formatur dalam menyusun kepengurusan pasca-Musda menjadi tahap krusial untuk memastikan organisasi diisi oleh figur yang kompeten, bukan berdasarkan kedekatan personal.
Dengan demikian, Musda Demokrat Sulteng 2026 tidak hanya menjadi ajang pemilihan ketua, tetapi juga momentum strategis untuk membenahi internal partai demi menghadapi tantangan politik ke depan. *(Abdy HM).