Jalan Berlumpur dan Dapur Produktif: Memotret Asa Masyarakat Sidondo yang Didengar Komisi II DPRD Sulteng
- Minggu, 12 Oktober 2025 - 15:12 WITA
- Editor: Apri
Dra. Marlelah, M.Si. Serap Aspirasi warga Desa Sidondo, Kabupaten Sigi. (Foto: Rayzka/Faktasulteng.id)
Faktasulteng.id, Sigi – Bukan janji surga atau program politik yang bombastis, melainkan permohonan yang berakar kuat pada bumi. Itulah yang terdengar nyaring dari hati masyarakat Desa Sidondo, Kecamatan Sigi Biromaru, saat menyambut kedatangan Anggota Komisi II DPRD Sulawesi Tengah tiga periode dari Fraksi Demokrat, Ibu Marlelah, dalam agenda reses hari itu.
Reses ini, yang merupakan jembatan komunikasi langsung antara rakyat dan wakilnya, menggarisbawahi urgensi pembenahan infrastruktur dasar dan penguatan ekonomi lokal. Karena Ibu Marlelah berada di Komisi II (yang umumnya membidangi ekonomi dan pertanian), aspirasi warga tentang sawah dan dapur menjadi sangat relevan.
Suara yang paling dominan adalah tentang parit dan jalan.
“Kalau hujan, Pak/Bu Dewan, hasil panen kami seperti berenang di lumpur,” tutur seorang perwakilan petani, suaranya sarat pengharapan.
Permintaan perbaikan drainase bukan sekadar estetika lingkungan, melainkan urat nadi untuk menjaga bibit dan mencegah gagal panen akibat genangan. Sejalan dengan itu, tuntutan perbaikan jalan tani adalah investasi terpenting bagi masyarakat, mengingat Sigi — termasuk Sigi Biromaru — adalah lumbung pangan yang sebagian besar populasinya masih menggantungkan hidup pada sektor pertanian.
Berdasarkan Potret Sensus Penduduk 2020 Provinsi Sulawesi Tengah yang dirilis oleh BPS, Kabupaten Sigi memegang peranan vital dalam perekonomian regional. Mayoritas penduduk di wilayah ini masih menjadikan pertanian sebagai sektor primer. Ini menegaskan bahwa setiap perbaikan infrastruktur, seperti jalan tani, adalah akselerator langsung bagi kesejahteraan ribuan keluarga petani di Sidondo. Aspirasi ini selaras dengan tugas Komisi II dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah berbasis kerakyatan.
Alat Tani dan Dapur Pemberdayaan
Reses kali ini bukan hanya tentang infrastruktur fisik, tetapi juga infrastruktur kemanusiaan. Aspirasi kedua yang ditekankan adalah kebutuhan akan bantuan alat pertanian. Modernisasi alat menjadi kunci bagi petani muda untuk tetap bertahan dan meningkatkan hasil produksi tanpa bergantung penuh pada cara-cara lama yang memakan waktu dan tenaga.
Sementara para petani berjuang di sawah, kekuatan lain di Desa Sidondo juga bersuara: ibu-ibu PKK. Mereka menuntut bantuan peralatan katering. Ini adalah visi pemberdayaan yang cerdas; mengubah perkumpulan ibu-ibu menjadi unit ekonomi produktif. Dapur umum ini adalah simbol ketahanan ekonomi rumah tangga Sidondo, melengkapi perjuangan di sektor pertanian.
Selain itu, kebutuhan untuk memperkokoh moralitas desa juga disampaikan melalui permintaan dukungan untuk kegiatan keagamaan.
Komitmen Fraksi Demokrat di Ujung Reses
Ibu Marlelah, yang dikenal dengan konsistensi tiga periode masa jabatan dalam mengawal isu-isu pedesaan, mencatat setiap detail dengan saksama.
“Aspirasi ini bukan sekadar daftar usulan. Ini adalah peta perjuangan hidup masyarakat Sidondo. Jalan tani yang lancar adalah rezeki yang lancar. Sebagai representasi Fraksi Demokrat dan anggota Komisi II, saya memastikan bahwa poin-poin krusial ini—mulai dari drainase, jalan tani, hingga alat katering PKK—akan menjadi prioritas dalam pembahasan anggaran mendatang,” ujar Ibu Marlelah.
Ia menegaskan, semua aspirasi ini adalah amanah yang harus diperjuangkan, memastikan bahwa suara dari Sidondo—yang berjuang antara lumpur dan potensi panen—akan bergema di tingkat provinsi. (Apri)