Dari Mahasiswa Pemalu ke Kursi DPRD: Proses Panjang Faudzan Adzima Menempa Diri

Dari Mahasiswa Pemalu ke Kursi DPRD: Proses Panjang Faudzan Adzima Menempa Diri Faudzan Adzima, Diruang kerjanya gedung B DPRD Sulteng. (Foto: Apri/Faktasulteng.id)
PolitikUS

Bagikan Berita ini!

Tidak semua wakil rakyat lahir dari ruang debat atau mimbar orasi. Sebagian justru tumbuh dari proses sunyi, penuh keraguan, bahkan rasa malu. Itulah potret perjalanan Faudzan Adzima, Anggota DPRD Sulawesi Tengah dari Daerah Pemilihan Tolitoli–Buol.

Redaksi Faktasulteng.id berkesempatan mewawancarai langsung Faudzan Adzima di Ruang Kerjanya, pada Rabu (14/1/2025) pekan kemarin di Gedung B DPRD Sulteng. Faudzan mengakui, masa awal kuliah bukanlah periode penuh percaya diri. Ia bahkan menyebut dirinya sebagai pribadi yang pemalu dan enggan tampil di depan umum. Titik balik itu bermula ketika ia terlibat dalam organisasi kampus, Keadilan Study Club (KAPAK SC) di Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI), yang menjadi ruang awal pembentukan karakter.

kapak sc

“Di situlah kita berproses. Organisasi itu yang membentuk diri saya sampai hari ini,” ujarnya.

Pengalaman berorganisasi, meski tanpa jabatan ketua, justru memberi ruang belajar yang luas. Ia hanya menjadi pengurus, namun dari sanalah ia memahami dinamika kepemimpinan, kerja kolektif, dan tanggung jawab sosial. Baginya, jabatan bukanlah ukuran utama, melainkan proses pembelajaran itu sendiri.

Proses itu pula yang mengantarkannya ke dunia politik. Duduk sebagai anggota DPRD ia maknai bukan sekadar posisi, melainkan amanah yang harus dijaga. “Ini bentuk kesyukuran, tapi juga tanggung jawab besar,” kata Faudzan.

Ia menegaskan, pendidikan dan pengalaman semasa kuliah menjadi bekal penting bagi siapa pun yang ingin terjun ke ruang publik. Pengalaman, menurutnya, harus berjalan seiring dengan pemahaman teori. Tanpa keduanya, seseorang akan pincang dalam mengambil keputusan.

 

Pendidikan sebagai Jalan Panjang: Komitmen Faudzan Adzima Melanjutkan Studi Hukum

Bagi Faudzan Adzima, pendidikan bukan sekadar syarat administratif, melainkan kebutuhan strategis untuk menghadapi masa depan politik dan pemerintahan yang kian kompleks.

Ia mengakui, semasa awal kuliah, membaca bukan kebiasaan yang ia sukai. Namun waktu mengubah segalanya. Dari rasa malas, ia mulai menemukan bahwa buku dan teori adalah pintu masuk memahami realitas secara lebih utuh.

faudzan mahasiswa

“Orang bisa punya pengalaman, tapi kalau tidak punya teori, itu ibarat rumah tanpa fondasi,” ujarnya.

Setelah menuntaskan pendidikan sarjana selama lima tahun dan diwisuda pada 2021—di tengah situasi pandemi Covid-19—Faudzan sempat merasa jenuh dengan dunia akademik. Namun refleksi panjang membawanya pada satu kesimpulan: berhenti belajar justru akan menjadi kerugian besar.

Kini, ia bersiap melanjutkan pendidikan Magister Hukum di Universitas Hasanuddin (Unhas). Langkah ini ia ambil bukan semata untuk gelar, tetapi sebagai investasi kapasitas diri. Ia menilai, ke depan, standar pendidikan bagi pejabat publik akan semakin tinggi.

“Tidak menutup kemungkinan nanti syarat jabatan juga akan makin ketat. Kita harus siap,” katanya.

Nilai pendidikan itu pula yang ia warisi dari orang tua. Meski ayahnya hanya menamatkan pendidikan hingga SMA, dorongan untuk sekolah selalu ditanamkan sejak dini.

“Orang tua pasti ingin anaknya sukses, meski akses pendidikan dulu tidak semudah sekarang,” tuturnya.

Faudzan juga mengakui bahwa panggilan politik pada dirinya terinspirasi dari sang Ayah. Ayahnya merupakan sosok inspirasi bagi Faudzan, perjalanan politik sang ayah dari Kepala Desa hingga menduduki Kursi nomer satu di Kota Cengkeh Tolitoli, menjadi bekal tersendiri bagi Faudzan dalam menapaki karir politiknya yang saat ini telah dimulai.

Saat ditanya mengenai rencana kedepan, Anggota DPRD sulteng termuda ini menjawab dengan optimis bahwa jalur politik sudah mantap dipilihnya. "Kedepan saya akan tetap dijalur politik, sebab disini saya bisa berbuat dengan dampak yang lebih luas bagi kebaikan masyarakat terutama untuk daerah yang saya wakili" jelas Faudzan.

 

Politik Baik dan Buruk: Pandangan Fudzan Adzima soal Sistem, Sinergi, dan Pilkada DPRD

Hampir satu tahun duduk di kursi DPRD Sulawesi Tengah, Pemuda kelaran Soni tahun 1999 ini berusia 25 tahun saat dilantik menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulteng 2024. Faudzan sukses memboyong 1 kursir DPRD SULTENG dari Partai Bulan Bintang dengan perolehan suara 16,180 pemilih.

Pelantikan Faudzan Adzima

Faudzan Adzima melihat politik sebagai ruang belajar sekaligus pengabdian. Baginya, politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan alat untuk membangun daerah dan menyelaraskan kepentingan bangsa.

Ia membagi politik dalam dua wajah: politik yang baik dan politik yang buruk. Pilihan ada pada rasionalitas dan keberanian untuk menunjukkan contoh yang benar.

“Kalau mau daerah baik, perlihatkan politik yang baik,” tegasnya.

Pandangan itu pula yang mendasari sikapnya terkait wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD. Faudzan secara terbuka menyatakan dukungannya, khususnya untuk pemilihan gubernur.

Menurutnya, gubernur merupakan perpanjangan tangan pemerintah pusat dan tidak memiliki wilayah administratif langsung seperti bupati atau wali kota. Karena itu, mekanisme pemilihan melalui DPRD dinilai lebih relevan dan efisien.

“Supaya visi misi pusat sampai ke daerah itu sejalan,” katanya.

Ia menyoroti persoalan klasik pembangunan daerah: pergantian kepala daerah yang selalu diiringi perubahan kebijakan dan program. Padahal, dengan keterbatasan anggaran, pembangunan membutuhkan kesinambungan jangka panjang, bukan sekadar lima tahun.

“Kalau semua bersinergi, siapa pun pemimpinnya, pembangunan akan lebih cepat terlihat,” ujarnya.

Soal pro dan kontra, Faudzan mengakui setiap kebijakan pasti memiliki risiko. Namun ia menekankan pentingnya mendahulukan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Termasuk dalam alasan efisiensi anggaran, yang menurutnya menjadi pertimbangan besar jika pilkada tidak lagi dilakukan secara langsung.

“Anggaran politik bisa ditekan, dan itu penting,” pungkasnya. (Fatimah/Apri)