Berani Tinggalkan PNS, Hidayat Pakamundi Pilih Wirausaha dan Raih Lompatan Kepemimpinan
- Selasa, 17 Februari 2026 - 09:17 WITA
- Editor: Apri
- | Penulis: Abdy Nusantara
Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sulawesi Tengah (DPRD Sulteng), H. Hidayat Pakamundi, S.E, menghadiri kegiatan Talkshow Leadership Without Borders: Memimpin di Era Global, Digital, dan Kolaboratif yang digelar di Hotel Zamrud Palu, Jalan Munif Rahman, Minggu (15/2/2025).
Faktasulteng.id, Palu – Berawal dari mimpi menjadi dosen, perjalanan karier H. Hidayat Pakamundi, S.E. justru membawanya menempuh jalan berbeda yang penuh lompatan keberanian. Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako serta salah satu pendiri Himpunan Mahasiswa Manajemen FEB Untad itu membagikan kisah inspiratifnya saat menjadi narasumber dalam Talkshow Leadership Without Borders: Memimpin di Era Global, Digital, dan Kolaboratif yang digelar di salah satu Hotel di Palu, Ahad (15/2/2025).
Dalam forum yang dihadiri mahasiswa dan akademisi tersebut, politisi yang kini menjabat Ketua Komisi IV DPRD Sulawesi Tengah itu mengawali ceritanya dengan refleksi masa muda.
“Saya dulu punya cita-cita seperti teman saya juga. Saya ingin jadi dosen. Tapi saya sadar kemampuan akademik saya minim dan formasinya juga tidak banyak,” ungkapnya.
Kesadaran itu membuatnya mencoba jalur lain sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ia pun berhasil diangkat menjadi PNS. Namun, dalam perjalanannya, Hidayat merasa ruang kepemimpinan yang ia miliki masih sangat terbatas.
“Menjadi PNS, leadership kita mungkin hanya bisa memimpin diri sendiri dan keluarga. Untuk memimpin lembaga butuh proses panjang,” katanya.
Di titik itulah ia mengambil keputusan yang tidak mudah: meninggalkan status PNS dan beralih menjadi wirausaha. Keputusan tersebut ia akui sebagai langkah spekulatif, namun penuh keyakinan.
Pilihan Hidayat bukanlah tanpa dasar. Di Sulawesi Tengah, magnet menjadi abdi negara memang sangat kuat. Berdasarkan data Statistik Daerah Provinsi Sulawesi Tengah 2025, tercatat ada 105.266 orang yang berstatus sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan pemerintah provinsi. Dari jumlah tersebut, mayoritas adalah PNS sebanyak 78.209 orang (74%), sementara sisanya merupakan PPPK. Hidayat pernah menjadi bagian dari angka 74 persen tersebut sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari zona nyaman itu.
“Saya melihat wirausaha itu kelihatannya bangun telat, tidur cepat, tapi uangnya banyak. Itu kan mimpi banyak anak muda,” ujarnya disambut tawa peserta.
Namun realitas dunia usaha jauh dari sekadar mimpi instan. Ia memulai dari bawah sebagai kontraktor mitra pemerintah. Justru dari dunia usaha itulah ia merasakan arti dari pengalaman kepemimpinan.
Bagi alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako ini, jalur wirausaha memberikan ruang gerak yang lebih luas untuk berekspresi secara ekonomi dan kepemimpinan. Di saat banyak anak muda bermimpi masuk ke sektor formal, Hidayat justru melihat potensi di sektor swasta yang menjadi penggerak utama ekonomi daerah.
Data ketenagakerjaan Sulawesi Tengah per Agustus 2024 menunjukkan bahwa sektor perdagangan besar dan eceran menempati urutan kedua penyerap tenaga kerja terbanyak dengan 242 ribu pekerja (15,1%), setelah sektor pertanian. Hidayat mengambil celah ini dengan menjadi kontraktor mitra pemerintah.
“Kalau saya tetap PNS, mungkin saya akan terus menjadi bawahan terus pada waktu itu, dan mungkin paling tinggi jadi kepala dinas. Tapi di dunia usaha, saya bisa melakukan lompatan di usia muda,” jelasnya.
Melalui usaha yang ia bangun, Hidayat mengaku memiliki kesempatan berdiskusi langsung dan dengan para kepala daerah mulai dari bupati, wali kota hingga gubernur bahkan saat usianya belum memasuki kepala tiga. Pengalaman yang sebelumnya hanya ia rasakan sebagai “orang di balik layar” ketika masih berdinas, kini berubah menjadi posisi sejajar dalam forum-forum strategis.
“Dulu saya menyiapkan materi, orang lain yang presentasi. Sekarang saya duduk setara untuk berdiskusi,” tuturnya.
Kini, setelah sukses membangun usaha secara profesional, Hidayat mengabdikan pengalamannya di kursi parlemen. Sebagai Ketua Komisi IV DPRD Sulteng, ia merupakan satu dari 55 anggota legislatif yang kini mengemban amanah rakyat. Dari sisi latar belakang pendidikan, ia mewakili profil mayoritas anggota DPRD Sulteng yang didominasi oleh lulusan sarjana (S1) sebanyak 27 orang.
Pengalaman dari dunia usaha, mulai dari manajemen waktu hingga disiplin integritas, menjadi modal utamanya dalam memimpin komisi yang membidangi kesejahteraan rakyat. Ia menegaskan bahwa meskipun kini menjadi wakil rakyat, bisnis yang ia rintis tetap berjalan secara profesional tanpa konflik kepentingan.
Pesan penutupnya kepada generasi muda sangat lugas: keberanian keluar dari zona nyaman adalah kunci. Di tengah struktur penduduk Sulawesi Tengah yang relatif produktif dengan rasio ketergantungan 46,67 (setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 47 penduduk non-produktif), peran wirausaha muda seperti yang pernah ia rintis menjadi krusial untuk menjaga stabilitas pasar kerja yang saat ini memiliki Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 71,10%
Talkshow tersebut menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa tentang makna kepemimpinan di era global dan digital. Kisah Hidayat Pakamundi menjadi bukti bahwa jalan sukses tidak selalu lurus, namun keberanian mengambil risiko dan konsistensi membangun diri dapat membuka peluang yang lebih luas dari yang dibayangkan. (Abdy MS)