Semangat Kartini, Ibu Penjual Kue di Tolitoli Sukses Sekolahkan Tiga Anak hingga Perguruan Tinggi
- Selasa, 21 April 2026 - 07:57 WITA
- Editor: Ananda Ramadan
- | Penulis: Aisyah Galuh , Kartika
Seorang ibu penjual kue dan nasi kuning di Tolitoli
Faktasulteng.id, TOLITOLI – Semangat Kartini tercermin dari perjuangan seorang ibu penjual kue dan nasi kuning berinisial WN di Kabupaten Tolitoli yang sejak 2018 berjuang sendiri menghidupi keluarga dan menyekolahkan tiga anaknya hingga perguruan tinggi, meski harus menghadapi penurunan pendapatan hingga hampir 50 persen.
WN mulai berjualan kue dan nasi kuning sejak tahun 2018, saat suaminya sakit-sakitan hingga akhirnya meninggal dunia. Kondisi tersebut membuatnya harus mengambil alih peran sebagai tulang punggung keluarga. Setiap hari, ia memulai aktivitas sejak dini hari, memasak dan menyiapkan dagangan untuk dijual hingga siang hari.
“Karena almarhum suami saya sakit-sakitan, jadi saya harus biayai anak-anak sekolah,” ujarnya.
“Sekarang mulai jam 03.00 subuh masak nasi kuning dan kue. Setelah salat subuh langsung jualan sampai sekitar jam 12 siang,” katanya.
Kue yang dijual sebagian merupakan titipan, sementara nasi kuning dan sokko ia buat sendiri. Dari usaha sederhana tersebut, ia mampu menyekolahkan ketiga anaknya.
“Alhamdulillah anak saya tiga. Sekarang semuanya sekolah. Yang satu kuliah di salah satu kampus yang ada di Makassar, yang satu di salah satu kampus di Tolitoli, dan satu lagi masih SMA kelas dua,” tuturnya.
Ia juga mengaku sangat terbantu dengan adanya program bantuan pendidikan dari pemerintah. Dua anaknya yang sedang kuliah diketahui menerima beasiswa Berani Cerdas serta KIP Kuliah.
“Alhamdulillah ada bantuan beasiswa Berani Cerdas dan KIP Kuliah, itu sangat membantu sekali untuk biaya anak-anak yang kuliah,” ungkapnya.
Meski demikian, kondisi ekonomi yang tidak stabil menjadi tantangan tersendiri. Ia menyebut pendapatan dari hasil jualan kini mengalami penurunan cukup signifikan.
“Sekarang tidak seperti dulu, penjualan berkurang hampir 50 persen,” ungkapnya.
Ia menilai, salah satu penyebabnya adalah dampak dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang membuat jumlah pembeli dari kalangan pelajar menurun.
“Dulu anak-anak sekolah dari TK sampai SMA biasa beli pagi. Sekarang sejak ada MBG, pembeli berkurang. Itu sangat terasa bagi kami yang usaha kecil,” jelasnya.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, ia mengurangi jumlah produksi agar tidak mengalami kerugian.
“Kalau sepi, kita kurangi porsinya. Kalau tidak habis, biasanya saya bagi saja,” katanya.
Di tengah berbagai keterbatasan, ia mengaku tidak pernah merasa ingin menyerah. Baginya, pendidikan anak-anak adalah prioritas utama yang harus diperjuangkan.
“Tidak pernah mau menyerah, karena saya ini tulang punggung keluarga. Anak-anak harus tetap sekolah,” tegasnya.
Ia pun berharap ketiga anaknya dapat meraih masa depan yang lebih baik.
“Semoga anak-anak saya bisa sukses semua,” harapnya.
Menutup ceritanya, ia berpesan kepada perempuan lain yang tengah berjuang agar tetap kuat dan tidak putus asa.
“Kita harus berdoa dan berusaha. Yang penting pendidikan anak-anak kita harus lebih baik dari kita sebagai orang tua,” pungkasnya.