Posko Sahur Gratis Alkhairaat, 14 Tahun Menjaga Semangat Kemanusiaan di Kota Palu

Posko Sahur Gratis Alkhairaat, 14 Tahun Menjaga Semangat Kemanusiaan di Kota Palu Posko Sahur Gratis di Sekretariat Himpunan Pemuda Al-Khairaat, Jl. Wahid Hasyim,Kecamatan Palu Barat, Kota Palu. (Abdy/FaktaSulteng).
Peristiwa

Bagikan Berita ini!

Faktasulteng.id, Palu – Menjelang waktu sahur di Jalan Wahid Hasyim, Kecamatan Palu Barat, suasana di Sekretariat Himpunan Pemuda Alkhairaat tampak berbeda. Sejumlah relawan terlihat sibuk menata nasi bungkus, sebagian lainnya melayani warga yang datang untuk menikmati santapan sahur. Tempat ini dikenal sebagai Posko Sahur Gratis, sebuah gerakan kemanusiaan yang telah berjalan selama 14 tahun.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Pemuda Alkhairaat, Habib Husen Idrus Alhabsy, yang kala itu merasa prihatin melihat banyak warga kesulitan mendapatkan makanan saat sahur di bulan Ramadan. Dari kegelisahan itulah lahir gerakan sederhana yang kini berkembang menjadi salah satu kegiatan sosial terbesar di Kota Palu selama Ramadan.

Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Himpunan Pemuda Alkhairaat, Abdul Rahman, menjelaskan bahwa kegiatan ini awalnya dilakukan secara sederhana melalui program Sahur on the Road dengan membagikan ratusan paket makanan kepada warga.

“Jadi awal atau inisiator awal dari kegiatan sahur gratis ini diinisiasi oleh Habib Husen Idrus Alhabsy selaku Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Pemuda Alkhairaat. Yang 14 tahun lalu itu merasa ada kegelisahan melihat warga banyak yang kesusahan untuk sahur. Nah, kalau untuk buka puasa banyak orang bisa menyediakan, tapi untuk sahur itu sangat-sangat terbatas,” ujarnya saat ditemui di Posko Sahur Gratis, Sabtu (7/3/2026).

Seiring berjalannya waktu, kegiatan tersebut terus berkembang. Jika sebelumnya dimulai dari Pondok Pesantren Putri Alkhairaat di Jalan Sis Aljufri, dalam lima tahun terakhir posko sahur dipusatkan di Sekretariat Himpunan Pemuda Alkhairaat di Jalan Wahid Hasyim.

Setiap malam, ribuan porsi makanan disiapkan bagi warga yang datang. Tidak hanya untuk dibungkus dan dibawa pulang, sebagian juga dinikmati langsung di lokasi dengan suasana kebersamaan yang hangat.

Menariknya, kegiatan ini sepenuhnya berjalan dari sumbangan para donatur yang memberikan bantuan secara sukarela. Donasi datang dari berbagai kalangan tanpa memandang latar belakang agama maupun status sosial.

Bagi pengelola posko, semangat yang dipegang sejak awal tetap sama: kemanusiaan. Posko ini terbuka bagi siapa saja yang ingin makan sahur, baik mereka yang membutuhkan maupun masyarakat umum yang ingin merasakan kebersamaan di bulan Ramadan.

Dalam tiga tahun terakhir, jumlah makanan yang dibagikan bahkan mencapai sekitar 3.000 porsi setiap malam, baik untuk makan di tempat maupun dibawa pulang.

“Ini temanya adalah kemanusiaan. Jadi berbagi untuk semua, tidak terkecuali dan tidak dilatarbelakangi karena apapun, hanya satu prinsipnya: alasan kemanusiaan agar orang bisa makan,” jelas Abdul Rahman.

Puluhan relawan turut terlibat setiap malam dalam kegiatan ini. Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi seperti UIN, Universitas Tadulako, dan UNISA, hingga masyarakat umum yang secara sukarela ingin membantu.

Tak sedikit pula relawan yang dulunya berasal dari lingkungan jalanan, seperti mantan anggota geng motor atau pekerja parkir, yang kini hijrah dan memilih terlibat dalam kegiatan sosial selama Ramadan.

Sekitar 40 relawan setiap malam bergantian menyiapkan makanan, melayani warga, hingga membersihkan lokasi setelah kegiatan selesai.

Meski telah berjalan lebih dari satu dekade dan memberi manfaat bagi ribuan warga, pengelola Posko Sahur Gratis memilih untuk tetap berdiri secara independen tanpa melibatkan bantuan atau kepentingan politik tertentu.

Bagi mereka, menjaga kemurnian tujuan adalah hal yang paling penting agar kegiatan ini tetap menjadi ruang berbagi yang tulus bagi siapa saja yang membutuhkan.

Di tengah kesibukan Kota Palu saat Ramadan, Posko Sahur Gratis ini bukan sekadar tempat makan sahur. Ia telah menjadi simbol solidaritas dan kebersamaan, di mana manusia saling membantu tanpa memandang latar belakang. Sebuah pengingat sederhana bahwa kepedulian masih hidup, dan kemanusiaan selalu punya ruang untuk tumbuh. (Abdy HM).