Penolakan MBG di SMA Negeri 7 Sigi Viral, Sekolah Tegaskan Masalah Utama Keterlambatan Distribusi 525 Porsi

Penolakan MBG di SMA Negeri 7 Sigi Viral, Sekolah Tegaskan Masalah Utama Keterlambatan Distribusi 525 Porsi Kepala SMA Negeri 7 Sigi, Sukardin, menjelaskan penolakan MBG terjadi akibat keterlambatan pengantaran makanan saat seluruh siswa telah pulang.
Peristiwa

Bagikan Berita ini!

Faktasulteng.id, SIGI — Penolakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMA Negeri 7 Sigi menjadi perbincangan di media sosial setelah lebih dari 500 porsi makanan ditolak karena datang terlambat pada hari Jumat, saat seluruh siswa telah pulang. Kepala Sekolah SMA Negeri 7 Sigi, Sukardin, menegaskan bahwa pihak sekolah tidak menolak program MBG secara keseluruhan, melainkan mempersoalkan keterlambatan pengantaran oleh pihak SPPG Kaleke.

Peristiwa tersebut terjadi ketika makanan baru diantarkan sekitar pukul 15.30 WITA. Sementara pada hari Jumat, kegiatan belajar di SMA Negeri 7 Sigi berakhir lebih awal, yakni sebelum salat Jumat, sehingga tidak ada siswa yang berada di sekolah untuk menerima makanan tersebut. Akibatnya, lebih dari 500 porsi makanan terpaksa ditolak. Diketahui, jumlah siswa di SMA Negeri 7 Sigi mencapai 525 orang.

Kepala Sekolah SMA Negeri 7 Sigi, Sukardin, menjelaskan bahwa persoalan utama terletak pada ketepatan waktu distribusi makanan. “Pada dasarnya sekolah tidak menolak program ini. Yang kami tolak adalah keterlambatan pengantaran,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa keterlambatan serupa sebenarnya sudah beberapa kali terjadi. Namun, pada hari Senin hingga Kamis kondisi tersebut masih dapat dimaklumi karena siswa pulang sekitar pukul 16.00 WITA, sehingga makanan masih bisa diterima. “Namun karena kejadian ini terjadi pada hari Jumat, saat siswa sudah pulang sekitar pukul 11.00 WITA, maka lebih dari 500 porsi makanan terpaksa ditolak karena tidak ada siswa di sekolah,” jelasnya.

Sukardin menambahkan, pihak SPPG Kaleke telah mengirimkan surat permohonan maaf kepada sekolah terkait kejadian tersebut. Dalam surat itu, pihak SPPG menyatakan akan memperbaiki sistem distribusi dengan mengantarkan makanan mulai pukul 11.00 WITA setiap hari, dari Senin hingga Jumat.

Pihak sekolah berharap kejadian serupa tidak kembali terulang dan meminta SPPG lebih memperhatikan ketepatan waktu pengantaran. “Harapan kami hanya satu, yaitu jangan terlambat. Anak-anak tentu sangat membutuhkan makanan tersebut. Untuk sementara, karena program MBG belum kembali berjalan, siswa disarankan membawa bekal dari rumah,” tambah Sukardin.

Peristiwa ini menjadi perhatian masyarakat di Sulawesi Tengah karena program MBG diharapkan dapat membantu pemenuhan gizi pelajar. Ketepatan distribusi dinilai menjadi faktor penting agar manfaat program benar-benar dirasakan siswa di sekolah penerima.