Pemuda Bahodopi Tolak Perayaan HUT Kecamatan 1–5 Mei, Soroti Minim Partisipasi dan Dugaan Pemborosan Dana CSR
- Sabtu, 02 Mei 2026 - 17:43 WITA
- Editor: Ananda Ramadan
- | Penulis: Redaksi
Asrar, pemuda asli Bahodopi, menyampaikan kritik terhadap pelaksanaan HUT Kecamatan Bahodopi yang dinilai minim partisipasi masyarakat dan lebih mengedepankan kegiatan seremonial.
Faktasulteng.id, MOROWALI — Puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kecamatan Bahodopi yang berlangsung pada 1–5 Mei menuai sorotan tajam dari sejumlah kalangan. Kegiatan tersebut dinilai terkesan dipaksakan, tidak melibatkan tokoh masyarakat setempat, serta dianggap menghamburkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan. Kritik itu disampaikan Asrar, pemuda asli Bahodopi dan mantan Ketua Umum Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Kabupaten Morowali (IP2MM) tahun 2024.
Asrar menyatakan penolakan terhadap format perayaan HUT yang baru saja digelar. Menurutnya, pelaksanaan kegiatan dilakukan secara mendadak tanpa ruang partisipasi bagi warga lokal, termasuk kalangan pemuda di Kecamatan Bahodopi. Ia menilai masyarakat setempat seolah hanya menjadi penonton dalam momentum hari jadi daerahnya sendiri.
“Kegiatan ini dilakukan secara tiba-tiba. Tahu-tahu sudah ada acara. Pelaksanaannya sama sekali tidak melibatkan tokoh-tokoh yang ada di Kecamatan Bahodopi, termasuk kami dari kalangan pemuda-pemudi. Kami di daerah sendiri seolah hanya dijadikan penonton,” ujar Asrar kepada awak media.
Selain menyoroti keterlibatan masyarakat, Asrar juga menyinggung dana CSR dari kawasan industri yang disebut mengalir dalam jumlah besar untuk membiayai kegiatan tersebut. Ia menilai penggunaan anggaran besar untuk kegiatan seremonial tidak sejalan dengan kondisi riil masyarakat lingkar tambang yang masih menghadapi berbagai persoalan mendasar.
“Informasi yang kami dapatkan, dana CSR yang dikucurkan untuk acara ini sangat fantastis. Sementara di luar sana, banyak hal-hal urgen yang perlu diperhatikan secara serius. Misalnya masalah infrastruktur yang masih buruk dan kurangnya pemberdayaan ekonomi untuk masyarakat asli. Hal-hal seperti ini jauh lebih penting dibanding kegiatan yang sifatnya hanya seremonial semata,” tegasnya.
Menurut Asrar, peringatan hari jadi kecamatan seharusnya menjadi momentum refleksi sejarah, bukan sekadar hiburan sesaat. Ia menilai esensi peringatan tanggal 30 April sebagai hari bersejarah bagi Bahodopi perlu dijaga dan dimaknai bersama seluruh elemen masyarakat.
“HUT itu bukan hanya kegiatan hura-hura yang dilakukan begitu saja lalu selesai. Ini adalah ajang untuk merefleksi sejarah. Sejarah daerah kita ini harus dipertahankan dan diingat, bukan ditutupi dengan acara hiburan sesaat,” jelas Asrar.
Meski melontarkan kritik keras, Asrar menegaskan dirinya tetap mengapresiasi kinerja panitia penyelenggara. Ia menyebut kritik yang disampaikan merupakan bentuk pengingat agar ke depan komunikasi dan pelibatan masyarakat dapat diperkuat.
"Kita tidak saling menyalahkan, tapi sebatas mengingatkan. Sebagai putra asli Kecamatan Bahodopi, mari kita bangun komunikasi yang baik, silaturahmi, dan persaudaraan yang erat. Sekiranya ke depan rekan-rekan panitia bisa menginisiasi adanya pertemuan dalam satu forum untuk membahas kegiatan, agar semua pihak dapat berpartisipasi," pungkas Asrar, seraya mendesak pemerintah kecamatan dan perusahaan agar lebih memprioritaskan program yang bersentuhan langsung dengan hajat hidup orang banyak.