Ketika Prof Katili Mengingatkan Palu 55 Tahun Lalu dan Alam Membuktikannya

Ketika Prof Katili Mengingatkan Palu 55 Tahun Lalu dan Alam Membuktikannya Jembatan IV Palu, Rubuh Akibat Gempa Bumi dan Tsunami Palu 28 September 2018.
Peristiwa

Bagikan Berita ini!

Lima puluh lima tahun lalu, seorang ahli geologi berdarah Sulawesi telah menyampaikan peringatan yang hingga kini masih relevan. Namanya Prof. J.A. Katili. Pada 1970, ketika pemerintah tengah mengembangkan Palu sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah, Katili mengingatkan agar kota itu tidak dijadikan pusat pemerintahan.

Alasannya sederhana, tetapi mengandung konsekuensi besar: di jantung Kota Palu membentang salah satu patahan paling aktif di dunia, Sesar Palu-Koro.

Peringatan itu kembali diungkap mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati. Menurut dia, Prof. Katili memahami betul karakter geologi Palu yang berada di wilayah pertemuan tiga lempeng tektonik besar dunia, yakni Indo-Australia, Pasifik, dan Eurasia.

Patahan-Patahan di Sulawesi Tengah (Foto: Wikipedia)
Patahan-Patahan di Sulawesi Tengah (Foto: Wikipedia)

 

Di atas wilayah yang terus bergerak itu, membentang Sesar Palu-Koro sepanjang sekitar 240 kilometer. Di daratan Sulawesi Tengah, patahan tersebut mengikuti alur Sungai Palu, melintasi Danau Lindu, Kulawi, hingga Gimpu sebelum berakhir di Teluk Bone.

Dilansir Tirto.id, ketika itu Palu sedang dipersiapkan menjadi pusat pemerintahan provinsi. Namun, sebagai ahli kebumian, Katili melihat risiko yang jauh lebih besar dibandingkan manfaat pembangunan yang sedang direncanakan.

Peringatan tersebut ternyata tidak berhenti pada satu penelitian.

Pada tahun 2000, pakar BMKG Dr. Jaya Murjaya memetakan kawasan rawan tsunami di Teluk Palu. Sejumlah akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama tim peneliti dari Selandia Baru kemudian menggelar berbagai pelatihan kesiapsiagaan, termasuk program Sekolah Lapang Gempa bagi masyarakat.

Namun upaya itu perlahan meredup.

"Tapi sampai tahun 2010 program itu berhenti. Tidak terjadi satu kali pun gempa dan tsunami," kata Dwikorita.

Alam seolah memberi jeda yang panjang.

Hingga 28 September 2018, peringatan yang selama puluhan tahun hanya tersimpan dalam laporan penelitian berubah menjadi kenyataan. Gempa berkekuatan 7,4 magnitudo mengguncang Palu dan Donggala. Tsunami menerjang Teluk Palu. Likuefaksi menelan permukiman di Petobo, Balaroa, dan Jono Oge.

Sekitar 4.000 orang meninggal dunia. Puluhan ribu lainnya mengalami luka-luka dan kehilangan tempat tinggal.

Salah satu bangunan di Jl Cumi-Cumi, Palu Barat, Kota Palu, Yang terdampak Gempa dan Tsunami Palu 2018. Jarak Rumah dengan bibir Pantai kurang lebih 200 meter.
Salah satu bangunan di Jl Cumi-Cumi, Palu Barat, Kota Palu, Yang terdampak Gempa dan Tsunami Palu 2018. Jarak Rumah dengan bibir Pantai kurang lebih 200 meter.

 

Pasca-bencana itu, simulasi kebencanaan kembali digalakkan. Pemerintah, lembaga pendidikan, hingga komunitas masyarakat mulai rutin menggelar latihan evakuasi. Namun frekuensinya masih jauh dari cukup jika dibandingkan dengan besarnya ancaman yang mengintai.

Padahal tujuan utama simulasi bukan sekadar memenuhi agenda tahunan, melainkan membentuk kebiasaan.

 
Delapan tahun setelah tragedi 2018, bumi Sulawesi Tengah kembali bergetar.

Pada 16 Juni 2026, gempa berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang wilayah Palu, Sigi, dan Parigi Moutong. Berdasarkan analisis Badan Geologi, gempa kali ini bukan dipicu aktivitas Sesar Palu-Koro, melainkan diduga berasal dari sistem sesar aktif di kawasan Palolo. Beberapa kajian lain menyebut kemungkinan keterkaitannya dengan Sesar Sausu.

Wilayah yang mengalami dampak cukup berat berada di Kecamatan Nokilalaki dan Palolo, Kabupaten Sigi.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 18 Juni 2026 mencatat tiga orang meninggal dunia, 17 orang mengalami luka berat, 91 orang luka ringan, sementara jumlah warga terdampak mencapai 2.109 kepala keluarga atau sekitar 6.412 jiwa.

Salah Satu rumah warga di Kawasan Transmigrasi Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, terdampak gempa 6,7 M, pada 16 Juni 2026. (Foto: Istimewa)
Salah Satu rumah warga di Kawasan Transmigrasi Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, terdampak gempa 6,7 M, pada 16 Juni 2026. (Foto: Istimewa)

 

Gempa itu menjadi pengingat bahwa ancaman kebencanaan di Sulawesi Tengah tidak hanya berasal dari Sesar Palu-Koro. Banyak sumber gempa aktif lain yang tersebar di wilayah ini dan sewaktu-waktu dapat melepaskan energi.

 
Jika melihat kondisi geologinya, Sulawesi Tengah sebenarnya memiliki banyak kesamaan dengan Jepang.

Jepang berdiri di atas pertemuan empat lempeng tektonik besar dunia, yaitu Pasifik, Filipina, Eurasia, dan Amerika Utara. Sementara Sulawesi Tengah berada di persimpangan tiga lempeng utama dunia yang juga aktif bergerak.

Jepang memiliki sejumlah sesar aktif seperti Median Tectonic Line dan Fukushima Fault System. Sulawesi Tengah memiliki Sesar Palu-Koro yang dikenal sebagai salah satu sesar dengan pergerakan tercepat di dunia.

Dari kondisi geologi tersebut lahirlah ancaman yang serupa: gempa bumi, tsunami, longsor, hingga likuefaksi.

Jepang pernah mengalami Gempa dan Tsunami Tohoku pada 2011 yang menewaskan lebih dari 18 ribu orang. Negara itu juga mengalami fenomena likuefaksi besar saat Gempa Niigata 1964 dan Tohoku 2011.

Ishinomaki, Jepang - 29 Juni 2011: Gambar ini diambil 3 setengah ngengat setelah bencana, memberikan gambaran tentang kehancuran yang ditinggalkan tsunami di wilayah tersebut. Pembersihan adalah prioritas bagi kota.
Ishinomaki, Jepang - 29 Juni 2011: Gambar ini diambil 3 setengah ngengat setelah bencana, memberikan gambaran tentang kehancuran yang ditinggalkan tsunami di wilayah tersebut. Pembersihan adalah prioritas bagi kota.

 

Namun skala likuefaksi di Palu pada 2018 tetap menjadi salah satu yang paling ekstrem dalam sejarah modern karena menyebabkan perpindahan massa tanah dalam jumlah sangat besar dan menghancurkan ribuan bangunan dalam hitungan menit.

 
Karena itu, mungkin sudah saatnya Sulawesi Tengah tidak hanya belajar dari pengalaman pahitnya sendiri, tetapi juga belajar dari Jepang.

Di negeri sakura tersebut, mitigasi bencana telah menjadi bagian dari budaya sehari-hari.

Sistem peringatan dini gempa terhubung langsung ke telepon seluler warga. Dalam hitungan detik setelah gempa terdeteksi, informasi bahaya langsung muncul di layar ponsel. Ketika potensi tsunami teridentifikasi, sirene berbunyi dan masyarakat segera bergerak menuju lokasi evakuasi.

Pendidikan kebencanaan bahkan dimulai sejak taman kanak-kanak. Anak-anak diajarkan mengenali jalur evakuasi, menggunakan tas siaga bencana, memahami titik kumpul keluarga, hingga melakukan simulasi penyelamatan berkali-kali setiap tahun.

Di sektor pembangunan, setiap bangunan baru wajib memenuhi standar ketahanan gempa. Tata ruang kota disusun berdasarkan peta kawasan rawan bencana. Daerah yang berisiko tinggi dibatasi penggunaannya atau bahkan tidak boleh dibangun.

Akibatnya, ketika gempa besar terjadi, bangunan dapat bergoyang hebat tetapi tidak langsung runtuh.

Jepang tidak mampu menghentikan gempa bumi.

Namun mereka berhasil mengurangi jumlah korban.

Pelajaran itulah yang tampaknya masih relevan bagi Sulawesi Tengah hari ini. Sebab gempa berikutnya mungkin bukan persoalan "jika", melainkan "kapan".

Dan ketika saat itu tiba, keselamatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kekuatan alam, tetapi juga oleh seberapa serius manusia belajar dari peringatan-peringatan yang telah diberikan sejak puluhan tahun lalu.

 

Penulis: Apriawan Repadjori/Faktasulteng.id