Gempa M 6,7 di Sigi: 1 Warga Meninggal, 20 Luka-Luka dan 466 Rumah Terdampak
- Selasa, 16 Juni 2026 - 21:38 WITA
- Editor: Ananda Ramadan
- | Penulis: Redaksi
Rumah Warga di Tongoa Kabupaten Sigi Yang terdampak Gempa Cukup Parah
Faktasulteng.id, SIGI – Dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, terus didata oleh Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Sigi. Berdasarkan data kaji cepat BPBD yang diperbarui hingga pukul 20.29 WITA, Selasa (16/6/2026), tercatat satu orang meninggal dunia, 20 orang mengalami luka ringan, dan 13 orang luka berat.
Korban meninggal dunia dilaporkan berasal dari Desa Ampera, Kecamatan Palolo. Sementara korban luka terbanyak tercatat di Desa Kamarora A, Kecamatan Nokilalaki, dengan 16 orang mengalami luka ringan. Di desa yang sama juga terdapat korban terdampak paling besar dengan total 461 kepala keluarga atau 1.193 jiwa.
Selain menimbulkan korban jiwa, gempa juga menyebabkan kerusakan pada ratusan rumah warga. Data BPBD mencatat sebanyak 390 rumah mengalami rusak ringan, 64 rumah rusak sedang, dan 12 rumah rusak berat. Secara keseluruhan terdapat 466 unit rumah yang terdampak di sejumlah desa.
Kerusakan terparah tercatat di Desa Kamarora A dengan 325 rumah rusak ringan, enam rumah rusak sedang, dan lima rumah rusak berat. Desa Tongoa di Kecamatan Palolo juga mengalami dampak signifikan dengan 44 rumah rusak, terdiri dari 41 rumah rusak sedang dan tiga rumah rusak berat.
Gempa turut merusak sejumlah fasilitas umum. BPBD mencatat dua bangunan kantor, tiga masjid, sebelas gereja, serta satu unit usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) mengalami kerusakan akibat guncangan gempa.
Beberapa desa terdampak antara lain Bora dan Watunonju di Kecamatan Sigi Kota, Ampera, Tongoa, Uwenuni, Ranteleda, Lembantongoa, Sejahtera, Rahmat, Bakubakulu, dan Rejeki di Kecamatan Palolo, Kamarora A dan Kamarora B di Kecamatan Nokilalaki, Sibalaya Utara dan Sibalaya Barat di Kecamatan Tanambulava, serta Desa Puroo di Kecamatan Lindu.
BPBD Kabupaten Sigi menyatakan pendataan masih terus berlangsung sehingga jumlah korban maupun kerusakan berpotensi berubah seiring masuknya laporan dari lapangan.