Fakta Terungkap Kasus Jenazah Dibonceng Motor di Ulubongka, Baharuddin Sapi’i Dorong Tambahan Ambulans dan Perbaikan Jalan

Fakta Terungkap Kasus Jenazah Dibonceng Motor di Ulubongka, Baharuddin Sapi’i Dorong Tambahan Ambulans dan Perbaikan Jalan Anggota DPRD Sulawesi Tengah Dapil Poso–Tojo Una-Una, Baharuddin Sapi’i, S.P
Peristiwa

Bagikan Berita ini!

Faktasulteng.id, Tojo Una-Una — Peristiwa viral pengantaran jenazah menggunakan sepeda motor di Desa Uematopa, Kecamatan Ulubongka, Kabupaten Tojo Una-Una, memicu polemik di tengah masyarakat. Menanggapi kejadian tersebut, Anggota DPRD Sulawesi Tengah Daerah Pemilihan Poso–Tojo Una-Una, Baharuddin Sapi’i, S.P., membeberkan kronologi berdasarkan informasi lapangan sekaligus mendorong solusi konkret agar peristiwa serupa tidak terulang.

Baharuddin menjelaskan, peristiwa tersebut bermula ketika seorang warga Desa Uematopa—yang masuk wilayah pelayanan Puskesmas Dataran Bulan—hendak dirujuk ke RSUD Ampana menggunakan mobil pribadi milik bidan desa. Kondisi pasien saat itu sudah menurun dan secara medis dinilai perlu dirujuk ke rumah sakit. Namun, dalam perjalanan menuju Ampana, pasien tersebut meninggal dunia sebelum tiba di rumah sakit.

Karena pasien telah meninggal dunia, mobil pribadi bidan desa tidak bersedia digunakan untuk mengangkut jenazah. Jenazah kemudian dibawa kembali ke Puskesmas Dataran Bulan. Pada saat yang bersamaan, ambulans milik puskesmas tersebut sedang digunakan untuk merujuk pasien lain ke Ampana.

“Bukan berarti ambulans tidak ada. Ambulans di Puskesmas Dataran Bulan ada, hanya saja saat kejadian sedang membawa pasien rujukan ke Ampana. Karena yang bersangkutan meninggal di perjalanan dan dibawa balik ke puskesmas, disarankan menunggu ambulans dari Ampana, tetapi keluarga sudah tidak sabar,” ujar Baharuddin saat diwawancarai, Sabtu (17/1/2026).

Ia menambahkan, keputusan keluarga membawa jenazah menggunakan sepeda motor juga didorong oleh kondisi geografis dan jarak tempuh yang cukup jauh. Perjalanan dari Dataran Bulan ke Ampana memakan waktu sekitar satu hingga dua jam, dengan kondisi jalan yang masih tergolong ekstrem dan belum memadai, baik dari Desa Uematopa ke Dataran Bulan maupun dari Dataran Bulan ke Ampana.

Menurut Baharuddin, kondisi tersebut menjadi pertimbangan keluarga yang khawatir harus menunggu terlalu lama apabila menanti ambulans kembali dari Ampana, sehingga memilih solusi tercepat dengan keterbatasan yang ada.

Ia menilai persoalan utama dalam kejadian ini bukan ketiadaan layanan kesehatan, melainkan keterbatasan sarana pendukung, khususnya jumlah armada ambulans di wilayah dengan cakupan desa yang luas dan akses jalan yang sulit.

“Solusi konkretnya adalah penambahan armada ambulans. Minimal satu untuk melayani pasien dan satu khusus untuk jenazah, karena jarak tempuh jauh dan kondisi jalan kurang baik. Pemerintah provinsi maupun kabupaten harus menambah armada, terutama di daerah-daerah terpencil,” tegasnya.

Selain penambahan ambulans, Baharuddin juga menyoroti pentingnya peningkatan infrastruktur jalan sebagai solusi jangka panjang. Menurutnya, akses jalan yang ekstrem tidak hanya memperlambat layanan kesehatan, tetapi juga berdampak langsung pada aspek keselamatan dan kemanusiaan warga.

Ia berharap pemerintah daerah, baik tingkat kabupaten maupun provinsi, menjadikan peristiwa ini sebagai bahan evaluasi serius agar pelayanan kesehatan di wilayah terpencil dapat berjalan lebih optimal dan kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.

(Abdy HM)