Bukan Hanya Ikon KIK Sulteng, Lalampa Toboli Jadi Penopang Ekonomi Warga

Bukan Hanya Ikon KIK Sulteng, Lalampa Toboli Jadi Penopang Ekonomi Warga Aktivitas penjualan Lalampa khas Desa Toboli di jalur Trans Sulawesi, Kabupaten Parigi Moutong, yang menjadi penopang ekonomi warga setempat. (Foto: Laila/Faktasulteng.id)
Peristiwa

Bagikan Berita ini!

Faktasulteng.id, PARIGI MOUTONG – Lalampa khas Desa Toboli, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, bukan hanya dikenal sebagai ikon kuliner jalur Trans Sulawesi, tetapi juga menjadi penopang ekonomi masyarakat setempat. Senin siang, 11 Mei 2026, sejumlah warung penjual Lalampa Toboli terlihat ramai didatangi pembeli yang singgah beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Pada akhir 2025 lalu, Lalampa Toboli juga resmi ditetapkan sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sulawesi Tengah.

Di sepanjang jalur Trans Sulawesi yang melintasi Desa Toboli, aroma daun pisang terbakar bercampur wangi ikan tuna dan ketan menjadi penanda khas kawasan tersebut. Aktivitas produksi Lalampa berlangsung hampir setiap hari di rumah-rumah produksi sederhana milik warga. Para ibu rumah tangga bekerja sejak pagi menyiapkan ketan, mengolah ikan, membungkus adonan, hingga membakar ratusan Lalampa untuk dipasok ke warung-warung di sepanjang jalan.

Nurwani, salah satu pemilik rumah produksi Lalampa di Desa Toboli, mengatakan usaha mereka masih berjalan secara mandiri tanpa memiliki warung sendiri. Produksi dilakukan berdasarkan pesanan dari para penjual.

“Kami hanya menerima pesanan dari warung-warung. Ada yang pesan 500, 600, jadi sesuai pesanan itu kami buatkan Lalampanya. Karena kami tidak punya warung sendiri jadi kami menerima pesanan,” ujarnya saat ditemui tim Faktasulteng.id.
Menurut Nurwani, jumlah produksi tidak selalu sama setiap hari. Permintaan meningkat ketika arus perjalanan ramai, terutama pada akhir pekan atau musim liburan. Meski terlihat menjanjikan, keuntungan yang diperoleh belum sepenuhnya besar karena harus dibagi dengan para pekerja dan biaya produksi yang terus meningkat.

“Kalau penghasilan kotor sehari biasa bisa dua sampai tiga juta rupiah, tapi itu belum dibagi dengan karyawan. Modal juga dari kami sendiri,” katanya.
Di rumah produksinya, Nurwani tidak bekerja sendiri. Ia bersama kelompok ibu-ibu di Desa Toboli membangun sistem kerja berbasis gotong royong. Ada yang bertugas memasak ketan, menyiapkan ikan, membungkus Lalampa, hingga membakar dan mendistribusikan ke warung-warung langganan. Bagi warga setempat, usaha Lalampa bukan sekadar bisnis kuliner, tetapi juga sumber mata pencaharian yang membuka lapangan kerja rumahan bagi perempuan desa.

Sementara itu, Dewi Yulianti, pemilik Warung Lalampa Hilwah Toboli yang telah beroperasi sejak 2013, mengaku permintaan Lalampa bisa mencapai ribuan bungkus dalam sehari ketika kondisi ramai.

“Kalau lagi ramai saya bisa ambil sampai seribu dari pembuat. Kalau tidak cukup, ambil lagi di tempat lain, kadang 500 atau 300,” tuturnya.
Meski penjualan cukup tinggi, Dewi menyebut margin keuntungan yang diperoleh para penjual maupun pembuat Lalampa masih relatif tipis. Banyak biaya operasional yang harus ditanggung sendiri, mulai dari bara api, minyak, hingga kemasan.

“Keuntungannya tipis karena masih tanggung bara, minyak, kantongan. Tapi alhamdulillah masih ada sedikit. Pembuat juga begitu, karena bahan bakunya mahal jadi untungnya tidak terlalu besar,” ungkapnya.
Penetapan Lalampa Toboli sebagai KIK memperkuat identitas kuliner khas Parigi Moutong sekaligus menjadi pengakuan atas tradisi dan pengetahuan lokal masyarakat Toboli yang diwariskan secara turun-temurun. Di tengah tantangan biaya produksi yang meningkat, keberadaan Lalampa tetap memberi dampak nyata bagi perekonomian warga dan menjadi salah satu wajah kuliner Sulawesi Tengah bagi para pelintas jalan Trans Sulawesi.

Bagi masyarakat Toboli, setiap bungkus Lalampa yang terjual bukan sekadar makanan, melainkan harapan yang terus dibakar di atas bara kehidupan.