Rapor Merah: Bahasa Daerah Tolitoli Terancam Punah

Rapor Merah: Bahasa Daerah Tolitoli Terancam Punah Wakil Bupati Tolitoli, Moh. Besar Bantilan, saat membuka Forum Group Discussion (FGD) revitalisasi Bahasa Daerah Tolitoli bersama para guru di Aula Hotel Bumi Harapan. (Foto: Nasha/Faktasulteng.id)
Pendidikan

Bagikan Berita ini!

Faktasulteng.id, Tolitoli – Fenomena kepunahan bahasa daerah di Indonesia kini menjadi perhatian serius para ilmuwan, terutama para linguis. Berbagai upaya telah dan sedang dilakukan untuk menyelamatkan bahasa-bahasa daerah yang kian terancam punah, termasuk salah satunya Bahasa Tolitoli.

Bahasa Tolitoli merupakan salah satu bahasa daerah di Provinsi Sulawesi Tengah yang kini terancam punah. Balai Bahasa Sulteng sejak lama telah menegaskan ancaman ini. Kekhawatiran tersebut muncul karena semakin sedikit masyarakat yang menggunakan Bahasa Tolitoli dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan, ketika Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah melakukan kunjungan ke Kabupaten Tolitoli beberapa tahun lalu, mereka tidak menemukan penggunaan Bahasa Tolitoli di pasar tradisional maupun perkantoran. Hingga kini, jumlah penutur bahasa ini terus menurun. Ketika orang tua yang masih menguasai bahasa tersebut meninggal dunia, maka tidak ada lagi yang mengajarkan maupun meneruskannya.

Kondisi tersebut dibenarkan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tolitoli yang diwakili oleh Sekretaris Dinas, Ayatullah, ST. Ia menegaskan bahwa Bahasa Tolitoli kini hilang ditelan zaman dan mulai punah.

Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Bupati Tolitoli, Moh. Besar Bantilan. Ia mengaku khawatir terhadap keberlangsungan bahasa daerah di wilayahnya, bahkan menyesal karena tidak sejak dulu mempelajarinya.

Sebagai upaya pelestarian, digelar kegiatan Forum Group Discussion (FGD) Vitalitas Konservasi dan Revitalisasi Bahasa Daerah dan Sastra dengan tema “Bahasa Daerahku, Budayakan Bahasaku”. Acara ini berlangsung pada Kamis, 28 Agustus 2025, pukul 09.00 WITA di Aula Hotel Bumi Harapan, Kelurahan Tuweley, Kecamatan Baolan, Tolitoli.

Kegiatan tersebut resmi dibuka oleh Wakil Bupati Tolitoli, Moh. Besar Bantilan, dan diikuti oleh 32 guru dari Kecamatan Baolan. Dalam pengantarnya, Kabid Pembinaan Ketenagaan, Harton, SPd., MM, menyampaikan pentingnya kegiatan ini agar dapat diimplementasikan kepada para guru.

“Yang sebelumnya telah dilakukan pendataan dari para guru dan nantinya dibuat semacam Bimbingan Teknis (Bimtek) dalam bentuk Muatan Lokal berdurasi 2 jam,” ujarnya.

Sementara itu, Ayatullah, ST, juga menekankan tujuan kegiatan ini sebagai upaya mencari solusi.
“Karena kita sendiri berada di wilayah Kabupaten Tolitoli, namun merasa asing menggunakan Bahasa Tolitoli yangmana saat ini telah hilang dimakan zaman dan mulai punah,” katanya.

Wakil Bupati Tolitoli juga menaruh harapan besar agar melalui kegiatan FGD ini peran guru semakin diperkuat dalam penggunaan bahasa daerah di sekolah. “Karena mulai dari sekolah bisa ditanamkan bahasa sejak dini,” ungkapnya.

Diskusi berlangsung aktif dan interaktif. Para guru menyampaikan keluh kesah serta tantangan yang dihadapi dalam melestarikan Bahasa Tolitoli. Meski demikian, mereka tetap antusias dan bersemangat mengajarkan Bahasa Tolitoli kepada anak didik agar bahasa tersebut tidak hilang ditelan zaman. (Nasha)