Purna Tapi Tak Padam: Hidup Kedua Kasnawir di Dunia Pendidikan Donggala

Purna Tapi Tak Padam: Hidup Kedua Kasnawir di Dunia Pendidikan Donggala Kasnawir Repadjori (ditengah, berkacamata) Bersama Pengurus PGRI Kabupaten Donggala.
Pendidikan

Bagikan Berita ini!

Donggla, Faktasulteng.id - Di sebuah ruang rapat kecil di kantor PGRI Kabupaten Donggala, seorang pria berkacamata duduk sembari merapikan map lusuh berisi catatan-catatan tangan. Rambutnya memutih, tetapi suara dan sorot matanya tetap jernih. Dialah Kasnawir, mantan Kepala Sekolah SMPN 1 Pinembani, yang sejak pensiun justru semakin aktif mengurus persoalan guru di daerahnya. Seakan waktu tak pernah membawanya menjauh dari dunia yang ia cintai: pendidikan.

Perjalanan pengabdian Kasnawir tidak dimulai di ruang rapat berpendingin udara. Tiga puluh tahun hidupnya justru dihabiskan di sudut-sudut terjauh Sulawesi Tengah. Di Lakatan, sebuah desa kecil di Tolitoli, ia pertama kali merasakan bagaimana mengajar tanpa listrik dan tanpa buku. Di Sigi, ia sempat masuk menjadi guru di sekolah-sekolah yang siswanya lebih sering membantu orang tua di ladang daripada duduk di bangku kelas. “Yang penting mereka datang. Sisanya kita akali,” katanya suatu ketika.

Puncak pengabdiannya tiba pada 2007, ketika ia diangkat menjadi Kepala Sekolah SMPN 1 Pinembani, sekolah terpencil di Desa Tamodo. Desa yang sulit dijangkau, bahkan bagi warga sendiri. Jika cuaca buruk datang, jalanan berubah menjadi lintasan lumpur. Jika hujan deras mengguyur, longsor menghadang.

Kasnawir hafal betul jalur itu. Delapan desa harus ia lewati: Porame, Balane, Matantimali, Vayu, Dombu, Ungu Lero, No’o, dan Tavanggeli. Motor jenis bebek tak mampu menembusnya. Ia memodifikasi kendaraannya menyerupai motor trail. Terkadang ia membawa sebotol bensin tambahan dan tali pengikat, berjaga-jaga jika harus menarik motor melewati kubangan lumpur.

Di sekolah, ia bukan saja kepala sekolah. Ia sekaligus guru, tata usaha, hingga penjaga sekolah. Pada awal berdirinya, hanya ada dua guru honor: Neli dan Sulastri. Ketiganya berbagi tugas mengajar apa pun yang dibutuhkan. Matematika hari ini, IPA besok, PPKn lusa. “Tidak bisa pilih. Yang penting anak-anak belajar,” ujar Kasnamir.

Perjuangannya terdengar heroik, tetapi baginya itu hanyalah bagian dari pekerjaan. Justru yang lebih menyakitkan adalah saat ia harus menjadi tukang ojek untuk menyambung hidup. Ia pernah ditegur sesama tukang ojek karena dianggap “pengojek liar” tanpa pangkalan. Peristiwa itu ia ceritakan sambil tertawa kecil—sebuah tawa yang menghapus getir.

Namun negara tak buta pada pengabdiannya. Pada 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan Satya Lencana Karya Satya kepadanya. Sebuah penghargaan yang ia simpan rapih di lemari kayu seperti menyimpan riwayat hidup.

Piagam Penghargaan dari Presiden RI Ke-6, Susilo Bambang Yudoyono

Kini, setelah tiga tahun pensiun, tepatnya pada 2022 kemarin, bukannya berhenti, justru ladang perjuangan Kasnawir melebar. Di PGRI Donggala, ia mengurus advokasi guru honorer, kualitas pembelajaran desa terpencil, hingga perlindungan profesi guru. “Sekarang saya tidak lagi mengajar di satu sekolah. Saya membantu banyak sekolah,” katanya.

Ia sudah tidak lagi setiap hari menembus jalan rusak Pinembani. Namun semangat yang membawanya ke sekolah selama belasan tahun itu tak pudar. Ia masih hadir di pertemuan-pertemuan, memberi masukan, membimbing guru muda, dan menjadi rujukan bagi sekolah-sekolah yang bertanya tentang manajemen pendidikan desa terpencil.

Peringatan Hari Guru Nasional 2025 di Kecamatan Sojol Utara, Kabupaten Donggala.

Caption: Peringatan Hari Guru Nasional 2025 di Kecamatan Sojol Utara, Kabupaten Donggala

Jika pengabdian punya bentuk, ia mungkin menyerupai perjalanan Kasnawir: tidak berisik, tidak mengharapkan sorotan, tetapi terus bergerak hari demi hari. Dari Tamodo hingga Donggala, dari ruang kelas berdinding papan hingga ruang sidang PGRI, langkahnya belum berhenti. “Selama saya masih bisa bicara dan duduk di rapat, saya tetap guru,” tutupnya. (Ap)