Lauk Basi di Meja MBG Palupi

Lauk Basi di Meja MBG Palupi (Foto: Ilustrasi/Ai)
Pendidikan

Bagikan Berita ini!

Faktasulteng.id, Palu – Di ruang makan sederhana SDI Nurul Ikhlas, Palupi, aroma tak sedap sempat menyergap piring makan siang para murid. Ayam yang disajikan sebagai lauk Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) pada Senin siang, 15 September 2025, tercium seperti daging busuk. Beberapa siswa tetap melahapnya—hingga kemudian seorang siswa muntah-muntah sepulang ke rumahnya.

Kabar itu cepat beredar di grup WhatsApp wali murid. Seorang orang tua, dengan suara panik melalui pesan suara, mengabarkan anak kembarnya sakit perut setelah menyantap ayam MBG. “Anakku juga muntah-muntah habis makan lauk basi itu,” ujarnya.

Suara protes makin nyaring. Mahdalena, 39 tahun, salah satu wali murid, menegaskan kekecewaannya. Ia bahkan berencana membawa persoalan ini ke media massa agar publik mengetahui bagaimana kualitas makanan yang disajikan. “Ini harus ditindaklanjuti. Tidak boleh dibiarkan,” katanya.

Program MBG, yang digagas Presiden Prabowo Subianto melalui Badan Gizi Nasional, sejatinya dirancang untuk memastikan anak sekolah memperoleh asupan gizi seimbang—empat sehat lima sempurna. Namun, di Palupi, idealisme itu kembali berbalik arah: dari menu bergizi berujung ada yang sakit.

Hingga laporan ini disusun, pihak sekolah maupun penyelenggara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Palupi belum memberikan klarifikasi. Sementara itu, gelombang kritik terus bergulir di ruang digital wali murid, menuntut transparansi dan perbaikan.

Insiden lauk basi ini menambah catatan buram pelaksanaan MBG di Sulawesi Tengah. Pertanyaan yang menggantung: mampukah penyelenggara menjamin standar gizi dan higienitas—atau program unggulan nasional ini justru kehilangan kepercayaan publik di meja makan anak-anak sekolah? (Ibrahim/Apri)