Kadis DP3A Tolitoli Paparkan Dampak Psikologis Kekerasan pada Anak dan Pentingnya Sekolah Ramah Anak

Kadis DP3A Tolitoli Paparkan Dampak Psikologis Kekerasan pada Anak dan Pentingnya Sekolah Ramah Anak Kepala DP3A Tolitoli Halima Setyoningrum memaparkan dampak psikologis kekerasan pada anak dalam Talkshow Pendidikan HGN 2025.
Pendidikan

Bagikan Berita ini!

Faktasulteng.id, TOLITOLI  Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Tolitoli, Halima Setyoningrum, menegaskan bahwa kekerasan terhadap anak memiliki dampak psikologis yang serius dan sering kali tidak disadari oleh orang tua, sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Pernyataan itu disampaikannya dalam Talkshow Pendidikan menyambut Hari Guru Nasional (HGN) 2025 yang dirangkaikan dengan HUT PGRI ke-80, Rabu (19/11/2025).

Menanggapi kasus seorang anak yang melakukan aksi peledakan di sebuah SMA di Jakarta akibat perundungan dan tekanan emosional, Halima menyebut kejadian tersebut sebagai contoh nyata bagaimana kurangnya perhatian dapat mendorong anak melakukan tindakan ekstrem.

Kasus itu sudah merupakan bukti dampak sosial psikologis dari kekerasan yang dialami anak. Anak tersebut merasa tidak memiliki tempat bercerita, baik di rumah maupun di sekolah. Dia merasa sendiri dan tidak mendapatkan perhatian dari lingkungan sekitarnya,” jelas Halima.

Ia menguraikan bahwa kekerasan pada anak terdiri dari kekerasan fisik, psikis, dan seksual. Kekerasan psikis, yang berkaitan dengan emosi, disebutnya sering tidak disadari sehingga luput dari penanganan.

“Anak yang mengalami kekerasan psikis bisa menjadi penakut, cemas, minder, dan tidak percaya diri. Dalam aspek sosial, mereka bisa menarik diri, suka menyendiri, hingga melakukan tindakan yang seharusnya tidak dilakukan,” ujarnya.

Halima menegaskan bahwa upaya perlindungan anak tidak dapat berdiri sendiri, melainkan membutuhkan keterlibatan keluarga, masyarakat, dan sekolah. Ia menyebut adatiga P” yang harus diperhatikan:

Peka

Mendeteksi perubahan pada perilaku anak sedini mungkin.

Peduli

Tidak mengabaikan tanda-tanda kekerasan atau perubahan sikap yang tidak biasa.

Percaya

Ketika anak bercerita, orang dewasa harus mendengarkan, bukan mengabaikan.

“Banyak anak korban kekerasan mengatakan bahwa mereka sudah bercerita ke guru, tapi tidak ditanggapi. Akhirnya mereka memilih diam dan menarik diri,” tambah Halima.

Lebih lanjut, Halima menjelaskan bahwa Sekolah Ramah Anak merupakan satuan pendidikan, baik formal maupun informal, yang mampu memenuhi hak-hak anak dan menyediakan mekanisme penanganan kasus kekerasan di lingkungan sekolah.

Ini program yang sangat bagus dan harus ditopang. Jika sekolah menerapkan konsep sekolah ramah anak, maka kekerasan dan bullying bisa ditekan secara signifikan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa setiap sekolah wajib membentuk Tim Pencegahan Kekerasan yang bertugas melakukan deteksi dini, pencegahan, serta penanganan awal ketika terjadi kekerasan di lingkungan sekolah.

(Kartika)