Disdikbud Sulteng Bantah Ada Kelemahan Sistem Pendaftaran Online Berani Cerdas
- Senin, 16 Juni 2025 - 14:55 WITA
- Editor: Ananda Ramadan
(foto: IST)
Faktasulteng.id, PALU - Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah, Yudiawati V. Windarrusliana, meluruskan pemberitaan salah satu media daring yang menyoroti dugaan kelemahan pada sistem pendaftaran online dalam program Berani Cerdas.
Klarifikasi ini disampaikan setelah muncul keluhan dari orang tua calon peserta didik asal Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali. Mereka mengaku kesulitan saat melakukan pendaftaran online ke dua sekolah negeri berbeda, yakni SMAN 1 Bahodopi dan SMAN 5 Palu.
Yudiawati menegaskan bahwa sistem penerimaan peserta didik baru (SPMB) tahun 2025 telah berjalan sesuai ketentuan teknis. Setiap calon siswa, kata dia, hanya diperbolehkan mendaftar secara daring ke satu sekolah negeri. Jika ingin pindah pilihan, maka pendaftaran sebelumnya harus dibatalkan lebih dahulu melalui mekanisme resmi.
“Dalam kasus ini, calon siswa sudah lebih dulu mendaftar di SMAN 1 Bahodopi. Namun kemudian langsung mencoba mendaftar ke SMAN 5 Palu tanpa membatalkan pendaftaran sebelumnya. Akibatnya, sistem masih mencatat siswa tersebut terdaftar di sekolah pertama, sehingga proses ke sekolah kedua otomatis tertolak,” ujar Yudiawati, Sabtu, 15 Juni 2025.
Ia juga menjelaskan ketentuan soal jalur domisili. Sesuai petunjuk teknis, calon siswa wajib telah berdomisili minimal satu tahun di wilayah sekolah yang dituju. Bukti administratif seperti KTP atau surat keterangan domisili resmi menjadi syarat mutlak.
“Dalam kasus yang beredar, terjadi miskomunikasi dari pihak orang tua terkait pemahaman atas syarat domisili,” katanya.
Dinas Pendidikan menambahkan bahwa meski pendaftaran daring ditutup, siswa tetap bisa mengakses jalur SPMB Lite, yakni jalur luring yang tersedia di sekolah-sekolah dengan sisa kuota. Jalur ini, menurut Yudiawati, menjamin tidak ada calon siswa yang kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan.
Soal tudingan layanan Berani Cerdas tidak merespons aduan, Yudiawati memberikan penjelasan. Nomor yang dihubungi pihak keluarga, kata dia, adalah kontak Program Beasiswa Kuliah Berani Cerdas, bukan layanan teknis untuk pendaftaran siswa baru. “Jadi wajar jika tidak mendapat tanggapan yang sesuai, karena memang berbeda divisi,” ucapnya.
Yudiawati memastikan pihaknya terus mengevaluasi sistem pendaftaran agar makin inklusif dan ramah bagi calon siswa dan orang tua. Ia menegaskan komitmen Dinas Pendidikan dalam menyempurnakan integrasi sistem daring dan luring.
“Kami terbuka terhadap setiap masukan masyarakat. Prinsip kami adalah menjaga proses yang informatif, transparan, dan akuntabel,” ujar Yudiawati menutup keterangannya. (**)