Pemprov Sulteng Apresiasi Uta Dada Fest 2026 sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif

Pemprov Sulteng Apresiasi Uta Dada Fest 2026 sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif Staf Ahli Bidang SDM, Pengembangan Kawasan dan Wilayah Provinsi Sulawesi Tengah, Rusmiadi, mewakili Gubernur Anwar Hafid saat menghadiri dan menyampaikan sambutan pada pembukaan Uta Dada Fest 2026 di Desa Balane, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi.
Pemda

Bagikan Berita ini!

Faktasulteng.id, SIGI – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Uta Dada Fest 2026 yang digelar di Desa Balane, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi. Festival yang berlangsung meriah tersebut sukses menarik ribuan masyarakat dari berbagai wilayah di Kabupaten Sigi. Kegiatan secara resmi dibuka oleh Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae, dan turut dihadiri Staf Ahli Bidang Sumber Daya Manusia, Pengembangan Kawasan dan Wilayah Provinsi Sulawesi Tengah, Rusmiadi, yang mewakili Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid. Hadir pula jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Forkopimda, anggota DPRD Sigi, serta perwakilan Pemerintah Kabupaten dan DPRD Pasangkayu.

Dalam sambutannya, Rusmiadi menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Pemerintah Kabupaten Sigi atas inisiatif dan komitmennya dalam menyelenggarakan kegiatan Telusur Rasa yang lebih dikenal dengan Uta Dada Fest 2026. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bukti nyata bahwa kuliner tradisional memiliki nilai penting tidak hanya dari sisi cita rasa, tetapi juga sebagai identitas budaya dan potensi ekonomi kreatif yang dapat terus dikembangkan.

"Kegiatan ini merupakan bukti nyata bahwa kuliner tradisional bukan sekadar soal rasa, melainkan juga identitas, warisan leluhur, serta potensi besar dalam sektor ekonomi kreatif yang harus terus dikembangkan melalui kekayaan cita rasa dari berbagai resep turun-temurun," ujarnya.

Rusmiadi menegaskan bahwa Uta Dada Fest sejalan dengan program unggulan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, yakni Berani Harmoni, yang lahir dari tekad bersama untuk memperkuat nilai-nilai budaya lokal sekaligus mendorong kemajuan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

"Berani Harmoni bukan hanya sebuah jargon, tetapi kerangka kerja nyata untuk memastikan setiap pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Sulawesi Tengah berakar pada kearifan lokal, menjaga harmoni sosial, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan," jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyebut salah satu bentuk nyata dari komitmen tersebut adalah penyelenggaraan Uta Dada Fest yang berfokus pada promosi, pelestarian, dan pengembangan kuliner tradisional sebagai bagian penting dari identitas daerah.

"Budaya lokal bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama dalam pembangunan pariwisata. Tanpa penguatan budaya, pariwisata akan kehilangan jati diri, daya tarik, dan keunikan yang membedakannya dari destinasi lain. Pada akhirnya, pariwisata juga akan kehilangan maknanya sebagai ruang pertemuan antara manusia, sejarah, dan budaya," katanya.

Menurut Rusmiadi, kegiatan seperti Uta Dada Fest memiliki relevansi langsung bagi masyarakat Sulawesi Tengah karena tidak hanya memperkenalkan kekayaan kuliner daerah kepada khalayak yang lebih luas, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui pengembangan usaha kuliner tradisional.

"Kegiatan ini diharapkan mampu mendorong lahirnya wirausaha-wirausaha baru di bidang kuliner tradisional yang kreatif, inovatif, dan berdaya saing, sehingga dapat memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah," pungkasnya.