NGOPI Bersama FKUB, Gubernur Anwar Hafid Tekankan Pembangunan Daerah Harus Berlandaskan Nilai Spiritual dan Toleransi
- Jumat, 15 Mei 2026 - 16:51 WITA
- Editor: Ananda Ramadan
- | Penulis: Redaksi
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, saat menghadiri kegiatan NGOPI bersama FKUB Sulawesi Tengah di Circle Coffee Palu, Jumat (15/5/2026), membahas pentingnya nilai spiritual dan toleransi dalam pembangunan daerah.
Faktasulteng.id, PALU – Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid menghadiri kegiatan Ngobrol Pintar (NGOPI) bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah di Circle Coffee Palu, Jumat (15/5/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua FKUB Sulteng Zainal Abidin, para pemangku adat, tokoh agama, serta sejumlah pemuka lintas agama di Sulawesi Tengah. Dalam forum itu, gubernur menegaskan bahwa kemajuan daerah harus berpijak pada nilai spiritual dan toleransi sebagai fondasi pembangunan masyarakat.
Dalam dialog tersebut, Anwar Hafid menjelaskan bahwa sejak awal dirinya terus mendorong pembangunan daerah dengan memanfaatkan energi kepemimpinan, jaringan, dan berbagai potensi yang dimiliki. Namun di tengah berbagai kemajuan pembangunan, ia merasa pendekatan fisik semata belum cukup sehingga perlu menghadirkan landasan spiritual dalam kehidupan masyarakat.
Pemikiran itu kemudian melahirkan program Morowali Berjamaah dan Morowali Mengaji pada 2014. Menurutnya, program tersebut melibatkan seluruh tokoh lintas agama mulai dari ustaz, pendeta hingga pemangku adat guna memperkuat kehidupan spiritual masyarakat. Ia menilai perubahan mulai terasa setelah nilai-nilai spiritual diperkuat dalam kehidupan sosial masyarakat karena mampu menghadirkan rasa damai, memperkuat kebersamaan, sekaligus menciptakan stabilitas sosial yang berdampak pada masuknya investasi ke Morowali.
“Waktu itu saya mulai berpikir mungkin ada yang salah dari cara kita membangun. Saya kemudian belajar lagi dan melihat bahwa pembangunan tidak cukup hanya fisik. Harus ada landasan spiritual yang hadir di tengah masyarakat,” ujar gubernur.
Anwar Hafid juga mengungkapkan bahwa pengalamannya membangun pendekatan spiritual dalam pembangunan daerah sempat menarik perhatian kalangan akademisi internasional. Ia mengaku pernah diundang berbicara di hadapan perwakilan 28 negara dalam forum di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta untuk membahas hubungan antara landasan spiritual dan pembangunan bangsa.
“Semua sepakat bahwa negara yang ingin maju harus menjadikan nilai spiritual sebagai landasan utama. Bahkan ada rekomendasi agar nilai spiritual diinternalisasi dalam sistem pemerintahan,” katanya.
Ia juga menyebut sempat mendapat undangan dari Jepang dan Thailand untuk mendalami konsep tersebut. Menurutnya, sejumlah negara maju telah memadukan pembangunan dengan nilai budaya dan spiritual dalam sistem kehidupan masyarakat maupun pemerintahan.
Dalam kesempatan itu, gubernur menegaskan bahwa toleransi di Indonesia merupakan warisan besar para pendiri bangsa. Ia menyinggung proses lahirnya Pancasila dan Piagam Jakarta sebagai bukti besarnya semangat saling menghargai demi menjaga persatuan Indonesia.
“Tokoh-tokoh dahulu mungkin tidak secanggih kita sekarang, tapi toleransinya luar biasa. Mereka berpikir jauh ke depan bahwa Indonesia hanya akan maju kalau toleransi dijaga,” ujarnya.
Anwar Hafid turut mendorong seluruh umat beragama untuk kembali meramaikan rumah-rumah ibadah. Menurutnya, masjid, gereja, pura, dan tempat ibadah lainnya tidak hanya menjadi bangunan simbolik, tetapi harus berfungsi sebagai pusat pembinaan moral dan penguatan kehidupan sosial masyarakat.
“Kalau rumah ibadah ramai dengan jamaah, jemaat dan umat, siapa yang berani masuk memprovokasi? Nilai spiritual itu menghadirkan rasa damai dan rasa aman,” katanya.
Ia menilai suasana keagamaan yang hidup akan memperkuat ketertiban sosial dan mencegah munculnya provokasi di tengah masyarakat. Menurutnya, pembangunan fisik semata tidak akan cukup tanpa pembangunan moral masyarakat. Rumah ibadah yang megah, kata dia, tidak akan memiliki makna apabila tidak diisi dengan pembinaan umat dan kehidupan spiritual yang kuat.
Dalam dialog itu, gubernur turut menjelaskan visi Berani Berkah yang kini menjadi salah satu pendekatan pembangunan di Sulawesi Tengah. Ia meyakini kesejahteraan dan keamanan hanya dapat tercapai apabila nilai spiritual hadir dalam kehidupan masyarakat.
Di akhir penyampaiannya, gubernur mengapresiasi FKUB Sulawesi Tengah yang dinilainya berhasil menjaga kerukunan antarumat beragama di daerah itu hingga mulai menjadi rujukan daerah lain.
“Beberapa hari lalu ada FKUB dari luar daerah datang khusus belajar ke Sulawesi Tengah. Ini menunjukkan kerukunan kita sudah dikenal luas,” tutupnya.