Forum Kolaborasi Pengembangan Kawasan Transmigrasi Palolo: Tiga Akademisi Paparkan Temuan Strategis di Kabupaten Sigi

Forum Kolaborasi Pengembangan Kawasan Transmigrasi Palolo: Tiga Akademisi Paparkan Temuan Strategis di Kabupaten Sigi Tiga akademisi dari Undip, IPB, dan UI memaparkan temuan strategis pengembangan kawasan transmigrasi Palolo dalam Forum Kolaborasi di Kabupaten Sigi.
Pemda

Bagikan Berita ini!

Fakasulteng.id, Sigi Pada kegiatan Forum Kolaborasi Pengembangan Kawasan Transmigrasi Palolo Kabupaten Sigi, tiga narasumber memaparkan output hasil temuan yang diperoleh oleh tim Ekspedisi Patriot di wilayah transmigrasi Kabupaten Sigi.

Tiga narasumber tersebut adalah Dr. Sariffuddin (Ketua TEP Undip), Dr. Bramada Winiar Putra (Ketua TEP IPB), dan Prof. Dr. Teguh Kurniawan (Ketua TEP UI).

Dalam pemaparannya, Dr. Sariffuddin menyoroti persoalan evaluasi Kawasan Transmigrasi Palolo. Ia menyampaikan bahwa setiap kawasan transmigrasi memiliki potensi masing-masing. Misalnya, Kawasan Transmigrasi Bulu Pountu dan Lemban Tongoa pasti memiliki potensi dan komoditas unggulan yang berbeda.

“Dari sini kami menemukan bahwa di Oloboju misalnya memiliki satu potensi yang tidak dimiliki oleh daerah lain, salah satunya lokasinya itu sendiri yang tidak jauh dari pusat pemerintahan. Itu merupakan salah satu potensi,” ujar Dr. Sariffuddin.

Sementara itu, Dr. Bramada Winiar Putra dalam pemaparannya yang mengangkat tema komoditas unggulan menjelaskan bahwa budaya pertanian masyarakat telah lama terbentuk dan diperkuat oleh pengalaman praktis puluhan tahun, yang menghasilkan local wisdom yang diwariskan lintas generasi untuk menopang kehidupan pertanian berbasis inovasi teknologi.

“Di Kabupaten Sigi, sebelum transmigrasi ada mereka sudah bertani, dasarnya dari bertani sudah ada sehingga kawasan ini dibuka dan kemudian lahan pertanian ini berkembang maka budaya itu muncul lebih kuat lagi,” ujar Dr. Bramada.

Ia menambahkan bahwa masyarakat Sigi telah mengenal konsep emas hijau (sayur-sayuran), emas kuning (bulir padi), serta berpotensi mengembangkan emas hitam (biji kopi), emas coklat (kakao), bahkan emas putih (santan kelapa).

Artinya kita punya banyak sekali emas tanpa harus menggali, karena emasnya akan tumbuh di permukaan tanah,” tuturnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Teguh Kurniawan, yang membahas kelembagaan ekonomi kawasan transmigrasi, mengungkapkan bahwa daerah dengan tingkat risiko bencana tinggi cenderung mengalami penurunan kepercayaan investor.

“Karena permasalahan gempa Pasigala orang masih banyak berpikir untuk melakukan investasi, dan itu yang harus kita atasi situasinya,” ujar Prof. Teguh.

Dukungan kebijakan pemerintah daerah terhadap sektor pertanian melalui arah kebijakan Sigi Hijau menempatkan pertanian sebagai lokomotif pembangunan berkelanjutan. Namun demikian, dinamika perubahan iklim, fluktuasi pasar, serta keterbatasan fasilitas pengolahan menyebabkan potensi besar tersebut belum mampu memberikan nilai tambah optimal bagi masyarakat maupun meningkatkan PAD Kabupaten Sigi.