Wagub Buka Rakorwil BI, Sulteng Didorong Jadi Pusat Pertumbuhan Industri Kawasan Timur
- Jumat, 16 Mei 2025 - 18:52 WITA
- Editor: Ananda Ramadan
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny A. Lamadjido, membuka secara resmi Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Sulampua Triwulan II Tahun 2025. (foto: Biro Administrasi Pimpinan)
Faktasulteng.id, PALU - Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny A. Lamadjido, membuka secara resmi Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Sulampua Triwulan II Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tengah, Kamis, 15 Mei 2025. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Pogombo, Palu, itu mengusung tema “Peta Jalan Industri di Sulampua”.
Dalam sambutannya, Reny menyampaikan bahwa Sulawesi Tengah (Sulteng) berkomitmen untuk terus menjadi salah satu pilar utama dalam pertumbuhan ekonomi kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua). Ia mengungkapkan, berdasarkan data tahun 2024, Sulteng berkontribusi sebesar 17,08 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulampua — tertinggi kedua setelah Sulawesi Selatan.
“Pertumbuhan ekonomi Sulteng tahun 2024 tercatat mencapai 9,89 persen secara tahunan, jauh melampaui rata-rata nasional yang hanya 5,03 persen,” ujar Reny.
Kontribusi terbesar terhadap PDRB Sulteng berasal dari sektor industri pengolahan, yang menyumbang lebih dari 39,89 persen. Lonjakan ekspor besi baja dan nikel yang menembus angka US$ 16,8 miliar turut mengangkat ekspor daerah hingga menyumbang 78,74 persen dari total ekspor Sulampua.
Meski demikian, Reny menyoroti ketimpangan dalam struktur ketenagakerjaan. Sektor industri yang mendominasi PDRB justru hanya menyerap sekitar 10,66 persen dari total angkatan kerja, kalah jauh dibanding sektor pertanian (44,56 persen) dan perdagangan (12,71 persen).
“Ketimpangan ini menjadi tantangan besar. Kita harus memastikan sektor industri juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan agar pertumbuhan ekonomi bisa dirasakan merata,” katanya.
Rakorwil ini bertujuan merumuskan strategi industri berkelanjutan yang mengintegrasikan berbagai sektor serta meningkatkan daya saing kawasan. Menurut Reny, sinergi antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem industri yang sehat dan kompetitif.
Ia juga menekankan pentingnya pendidikan dan pelatihan vokasi guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia lokal. “Kita perlu menyiapkan tenaga kerja yang adaptif terhadap perkembangan industri yang semakin kompleks,” ucapnya.
Reny berharap Rakorwil tak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga melahirkan rekomendasi konkret yang bisa segera diimplementasikan. Ia menutup sambutannya dengan menegaskan harapan agar Sulawesi Tengah menjadi pusat pertumbuhan industri baru di kawasan timur Indonesia.
Hadir dalam Rakorwil ini antara lain Kepala Koordinator Wilayah Sulampua, para perwakilan pemerintah daerah dari Sulawesi, Maluku, dan Papua, Kepala Perwakilan BI Sulawesi Tengah Rony Hartawan, serta sejumlah narasumber dan mitra kerja strategis lainnya. (**)