Viral Pengibaran Bendera “One Piece” Jelang Kemerdekaan RI, Kabid Kesbangpol Tolitoli Ajak Generasi Muda Agar Tidak Terpengaruh
- Selasa, 05 Agustus 2025 - 20:23 WITA
- Editor: Nasha
Kabid Kesbangpol Tolitoli, Salmia Daud, imbau generasi muda agar tidak mudah terpengaruh fenomena viral pengibaran bendera One Piece menjelang HUT RI ke-80. (Foto: Nasha/Faktasulteng.id)
Faktasulteng.id, TOLITOLI – Menjelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) tahun 2025, muncul sebuah fenomena yang menggemparkan publik dan media sosial. Bendera bergambar simbol bajak laut dari serial anime Jepang “One Piece” berkibar di sejumlah kota besar di Indonesia seperti Bogor, Surabaya, Bali, Batam, dan berbagai wilayah lainnya. Kejadian ini menuai beragam reaksi dari tokoh-tokoh masyarakat.
“One Piece” merupakan serial anime asal Jepang yang digemari oleh anak-anak hingga kalangan muda. Serial ini dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, penindasan, dan kekuasaan yang menindas moralitas. Tokoh utamanya, Luffy, bersama kru bajak lautnya, digambarkan sebagai sosok yang berjuang demi kebebasan dan menentang kekuatan tirani demi meraih impian. Nilai-nilai perjuangan inilah yang menginspirasi banyak penonton untuk tidak menyerah dalam menghadapi berbagai rintangan hidup.
Namun, lambang tengkorak bertopi jerami atau Jolly Roger dari “One Piece” yang dikibarkan dalam bentuk bendera, turut dipasang di rumah-rumah dan kendaraan pribadi. Fenomena ini juga meluas ke media sosial seperti Instagram, TikTok, X (Twitter), dan Facebook. Bahkan, beberapa warganet mengganti foto profil mereka dengan simbol tersebut.
Kondisi ini pun memunculkan pertanyaan publik mengenai maksud dan tujuan pengibaran bendera One Piece, terutama karena dilakukan menjelang perayaan hari kemerdekaan.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Ideologi, Wawasan Kebangsaan, dan Karakter Bangsa pada Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Tolitoli, Salmia Daud, memberikan tanggapan saat ditemui di Taman Kota Tolitoli pada sore hari dalam suasana mendung selepas hujan.
“Namun kita juga harus mempelajari dan menyikapinya dengan baik kapan maksud dan tujuan dari hal tersebut. Kita juga harus melihat lebih jauh lagi dan tidak langsung bereaksi secara berlebihan,” kata Salmia Daud.
Ia menambahkan, fenomena ini kemungkinan besar muncul akibat situasi politik nasional yang belum stabil. Menurutnya, beberapa kelompok tertentu bisa saja memanfaatkan momentum menjelang kemerdekaan untuk mengekspresikan kebebasan yang selama ini terpendam.
Meski begitu, ia bersyukur karena hingga saat ini di Kota Cengkeh, Tolitoli, belum ditemukan adanya pengibaran bendera One Piece maupun masyarakat yang terpengaruh dengan tren tersebut.
Terlepas dari fenomena ini, Salmia Daud berharap agar generasi muda dan seluruh masyarakat tetap waspada dan tidak mudah terpancing. (Nasha)