Plot Twist di SPBU Tolitoli: Ketika Gula Pasir Disangka Narkoba
- Selasa, 17 Juni 2025 - 15:10 WITA
- Editor: Nasha
Foto: IST.
Faktasulteng.id, Tolitoli – Suara tembakan memecah keramaian lalu lintas di sekitar SPBU Tolitoli. Polisi bersenjata mengepung sebuah Avanza putih yang mencurigakan. Diduga membawa narkoba, ternyata hanya memuat gula pasir.
Matahari baru saja bergeser ke barat ketika situasi di kawasan SPBU Tolitoli, Sulawesi Tengah, mendadak berubah tegang. Sebuah mobil Avanza putih dicegat aparat kepolisian, disusul suara tembakan peringatan yang memecah suasana. Polisi bersenjata lengkap mengepung kendaraan tersebut, sementara warga yang tengah mengantre BBM atau sekadar lewat, berhenti dengan rasa ingin tahu.
Dari dalam mobil itu, dua pria digiring keluar. Belakangan diketahui mereka berinisial EC (43) dan SF (21), warga dari luar daerah Tolitoli. Polisi kemudian menggeledah kendaraan. Di balik dus mi instan, ditemukan dua bungkusan mencurigakan berbalut lakban coklat—kemasannya mengingatkan pada modus pengiriman sabu atau ganja dalam skala besar.
Namun ketika dibuka, isi bungkusan itu bukanlah kristal putih mematikan, melainkan… gula pasir. Dua kilogram.
Insiden ini bermula dari laporan masyarakat yang mencurigai aktivitas transaksi narkoba di sekitar wilayah tersebut. Kepala Satuan Narkoba Polres Tolitoli, Iptu Herman, S.H., M.H., menjelaskan bahwa kedua pria itu sudah berada di Tolitoli sejak Sabtu, 14 Juni 2025, dengan maksud menemui seseorang untuk menyerahkan barang.
“Mereka datang untuk menjemput uang sebesar Rp100 juta dari calon pembeli. Namun, sebelum uang diberikan, mereka diminta menunjukkan barang bukti terlebih dahulu,” ujar Herman. Barang bukti yang dimaksud: dua bungkus gula pasir yang dibalut rapi seperti narkoba.
Meski tak ditemukan zat terlarang dalam penggeledahan, polisi masih menahan keduanya untuk pemeriksaan lebih lanjut. “Modus ini patut dicurigai sebagai bagian dari skenario untuk mengelabui pembeli atau mungkin sebagai tes pasar,” kata seorang penyidik.
Warga sekitar mengaku terguncang dengan kejadian ini. Selain karena dramatisasi pengejaran, mereka juga menyayangkan praktik jual beli yang makin menyerupai adegan film laga, meski pada akhirnya hanya menghasilkan kesimpulan manis: bukan narkoba, hanya gula.
Namun di balik drama yang sempat menghebohkan itu, tersimpan kekhawatiran yang lebih besar. “Jangan hanya rantingnya saja yang dibabat, akar jaringannya juga harus dicabut,” kata seorang warga yang enggan disebutkan namanya. Tolitoli, seperti sejumlah wilayah pesisir lainnya, memang dikenal sebagai titik rawan peredaran narkoba.
Kini, publik menanti pernyataan resmi dari pihak kepolisian. Tak sekadar klarifikasi, tapi juga langkah konkret yang lebih serius untuk membongkar mata rantai peredaran narkoba di daerah ini. Karena di balik gula pasir, siapa tahu ada jejak yang lebih kelam. (Nasha)