Peringati Hari Anak Nasional, GPIBT Bukit Zaitun Tolitoli Pertama Kalinya Gelar Berbagai Lomba Bertema “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”
- Sabtu, 09 Agustus 2025 - 18:21 WITA
- Editor: Nasha
(Foto: Nasha/Faktasulteng.id)
Faktasulteng.id, TOLITOLI - Kabupaten Tolitoli menjadi salah satu wilayah di Provinsi Sulawesi Tengah dengan tingkat kasus kekerasan pada anak yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil wawancara media ini dengan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Tolitoli, angka kekerasan terhadap anak pada tahun ini tergolong tinggi. Kondisi tersebut mendapat sorotan dari Pemerintah Daerah, khususnya Bupati Tolitoli, H. Amran Hi. Yahya.
Sebagai bentuk upaya pencegahan, pemerintah telah melakukan edukasi dan sosialisasi secara langsung di Lapangan Taman Kota Gaukkan Bantilan Tolitoli dalam kegiatan “Car Free Day” pada 27 Juli 2025 lalu.
Situasi ini juga menarik perhatian Gereja Protestan Indonesia di Buol-Tolitoli (GPIBT) Bukit Zaitun Kabupaten Tolitoli. Untuk pertama kalinya, pada Sabtu, 9 Agustus 2025, GPIBT Bukit Zaitun Tolitoli menggelar berbagai lomba dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli 2025. Lomba ini mengangkat tema “Anak Terlindungi, Indonesia Maju” yang sekaligus menjadi upaya menekan angka kekerasan pada anak di Kota Cengkeh.
“Lomba ini dilakukan dengan tujuan agar anak-anak menyadari bahwa dirinya adalah anak-anak yang hebat, berprestasi, dan berhak untuk mendapatkan haknya untuk hidup, tumbuh, dan berkembang,” kata Arta Uli Simanjuntak, Ketua Pelayanan Kategori Anak Sinode GPIBT Bukit Zaitun Tolitoli.
Ia menegaskan, lomba ini digelar karena masih banyak anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan layak dan mengalami kekerasan di rumah, sekolah, maupun lingkungan. “Sehingga harapannya melalui lomba ini, anak-anak dapat turut berpartisipasi dalam pembangunan melalui prestasi yang dimilikinya untuk membangun bangsa ini,” tambahnya.
Lomba yang dilaksanakan hanya satu hari ini terdiri dari Lomba Bercerita tentang Kasih Sayang Yesus, Lomba Doa Bapa Kami, dan Lomba Hasil Karya Anak-Anak Sekolah Minggu. Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari anak-anak dan orang tua, serta berlangsung meriah.
Pendeta Cornelius Agustinus Montol, Ketua Pendeta Majelis Jemaat GPIBT Bukit Zaitun, mengaku senang dan mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. “Karena bisa membangun hubungan bersaudara antar jemaat Geraja GPIBT Bukit Zaitun,” ujarnya.
Ia juga menilai lomba ini sebagai salah satu upaya penting menekan kekerasan pada anak di keluarga, sekolah, maupun lingkungan sekitar. “Sehingga lomba ini juga menekankan agar anak-anak bisa lebih mengerti dan menghargai perbedaan satu sama lain serta saling melindungi, karena hal itu bisa menyadarkan anak-anak lebih bisa menghormati dan menghargai dalam pertemanan seusianya sehingga bisa menghindarkan diri dari adanya kasus kekerasan pada anak,” jelasnya.
Arta Uli menambahkan, “Diharapkan dengan adanya lomba ini, anak-anak menjadi lebih sadar dan terlindungi serta memotivasi anak-anak agar tidak takut, lebih berani, menolak bullying, menolak kekerasan, agar dapat hidup dengan penuh sukacita dan damai sehingga menjadi sahabat yang saling berbagi satu sama lain sesuai dengan ajaran Yesus Kristus untuk mengasihi satu sama lain, sehingga dengan hal itu akan dapat terhindar dari kasus kekerasan.”
Lebih lanjut, Arta menilai kasus kekerasan pada anak sering kali terjadi akibat faktor “Amati dan Tiru”. “Jadi, apa yang anak-anak tonton dan lihat melalui gadget kemudian ditirunya sehingga membawa hal-hal negatif akibat kurang adanya pengawasan dari orang tua,” tutupnya. (Nasha)