Memetik "Emas Hitam" di Lemban Tongoa: Harapan Baru Ekonomi Sulawesi Tengah
- Kamis, 05 Juni 2025 - 19:21 WITA
- Editor: Andry
(foto: andry/faktasulteng.id)
Faktasulteng.id, SIGI – Senyum merekah di perkebunan kopi Lemban Tongoa, Sigi, kala Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara bersama Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid, dan Bupati Sigi Mohamad Rizal, turut serta dalam kegiatan petik kopi. Bukan sekadar seremonial, kunjungan ini menjadi penanda perhatian pemerintah terhadap potensi “emas hitam” yang tersembunyi di tanah transmigrasi ini.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (5/6/2025) ini tak hanya bertujuan melihat kualitas biji kopi, namun juga mengamati langsung praktik panen yang baik dari masyarakat setempat. Sebuah pemandangan yang menarik, para petani memetik kopi dengan cara yang terbilang sederhana namun efektif. Pohon kopi yang tidak terlalu tinggi memudahkan proses pemetikan langsung, lalu ditampung dalam wadah modifikasi dari jeriken minyak yang digantungkan di leher—praktis, efisien, dan mencerminkan kearifan lokal.
Meskipun panen raya belum tiba, dengan tingkat kematangan buah baru sekitar 30%, optimisme tetap membara. Masyarakat Lemban Tongoa mengungkapkan bahwa pohon kopi di daerah mereka memiliki keistimewaan: dapat dipanen sebulan sekali, dengan hasil mencapai 200 kg per orang. Sebuah angka yang menjanjikan, mengindikasikan produktivitas tinggi yang dapat menopang ekonomi keluarga.
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, bahkan tak ragu menyebut Lemban Tongoa sebagai “emas hitam”. “Daerah ini adalah daerah transmigrasi yang sangat untung dan di sini ada emas hitam,” ujarnya. Lebih jauh, ia berharap potensi kopi ini akan menjadi “tonggak ekonomi baru bagi Sulawesi Tengah.”
Pernyataan Gubernur ini bukan tanpa alasan. Keberadaan kopi berkualitas tinggi dengan frekuensi panen yang terbilang sering, menjadi modal besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan percepatan pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut. Dukungan pemerintah melalui kunjungan ini diharapkan mampu mendorong pengembangan lebih lanjut, mulai dari peningkatan kualitas budidaya, pengolahan pascapanen, hingga akses pasar yang lebih luas.
Lemban Tongoa, dengan “emas hitam” yang dimilikinya, kini menatap masa depan dengan penuh harapan. Kopi bukan lagi sekadar komoditas, melainkan simbol kemakmuran dan motor penggerak ekonomi yang akan membawa nama Sulawesi Tengah semakin bersinar. (Andry)