Kabupaten Sigi Masih di Peringkat Bawah Penanganan Stunting di Sulteng
- Senin, 25 Agustus 2025 - 18:12 WITA
- Editor: Andry
Narasumber sekaligus motivator Bdn. Azima Rais saat menyampaikan materi pencegahan stunting dalam seminar di Kabupaten Sigi. (Foto: Andry/Faktasulteng.id)
Faktasulteng.id, Sigi - Narasumber sekaligus motivator, Bdn. Azima Rais, dalam seminar terkait stunting menjelaskan bahwa prevalensi stunting di Indonesia dari tahun 2018 hingga 2024 mengalami penurunan signifikan. Pada tahun 2018 angka stunting nasional berada di 30,8%, dan kini pada tahun 2025 turun menjadi 14%.
Namun, kondisi berbeda terjadi di Kabupaten Sigi. Dari tahun 2021 hingga 2023, penurunan angka stunting tidak signifikan. Pada 2021 angka stunting di Sigi mencapai 29%, dan pada 2023 hanya turun sedikit menjadi 27%. Padahal, target nasional RPJMN 2020-2024 menetapkan angka stunting 14%. Hal ini menempatkan Kabupaten Sigi di posisi 12 dari 14 kabupaten/kota di Sulawesi Tengah.
Azima menjelaskan tujuan dari penyuluhan stunting adalah meningkatkan pengetahuan ibu dan keluarga mengenai apa itu stunting, penyebab, serta dampaknya bagi tumbuh kembang anak. Selain itu, juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pemenuhan gizi selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia 2 tahun.
“Ibu-ibu yang berpikir yang penting kenyang adalah pendapat yang salah. Seharusnya nasinya sedikit, ikannya banyak, proteinnya yang dibanyakin. Protein tidak harus mahal, ada tahu dan tempe. Jadi jangan berpikir bahwa orang kaya saja yang bisa memenuhi gizi anaknya, karena dari tahu dan tempe saja kita sudah bisa memenuhi gizi protein,” ujar Azima.
Ia menambahkan, penyebab stunting antara lain gizi buruk akibat asupan makanan yang tidak cukup secara jumlah maupun kualitas. Selain itu, kekurangan zat penting seperti protein, zat besi, seng, vitamin A, dan asam folat, pola asuh yang kurang baik, sanitasi lingkungan yang buruk, serta kesehatan ibu saat hamil juga menjadi faktor penyebab.
Azima juga menyoroti pernikahan dini sebagai salah satu faktor besar penyebab stunting di Kabupaten Sigi.
“Salah satu dampak terbesar dari permasalahan stunting yang ada di Kabupaten Sigi adalah pernikahan dini,” tegasnya.
Adapun dampak stunting bervariasi tergantung lamanya dialami seorang anak. Dalam jangka pendek, anak akan mengalami gangguan pertumbuhan fisik, mudah sakit, serta perkembangan otak yang tidak optimal. Sementara dalam jangka panjang, anak berisiko mengalami penurunan kemampuan belajar, penyakit kronis di usia dewasa seperti jantung dan diabetes, produktivitas rendah, serta menjadi hambatan bagi kemajuan ekonomi dan kualitas generasi bangsa. (Andry)