Jaga Alam Lestari untuk Masa Depan Bangsa
- Minggu, 15 Juni 2025 - 14:26 WITA
- Editor: Andry
(foto: Ilustrasi/Ai)
Faktasulteng.id, SIGI - Isu kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang nikel di Raja Ampat tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak pihak, khususnya para pegiat alam di Kabupaten Sigi, menyuarakan keprihatinannya terhadap kondisi tersebut. Mereka khawatir keindahan kawasan wisata alam yang terkenal secara internasional itu akan rusak akibat pertambangan yang tidak ramah lingkungan.
“Hal ini tentu mengganggu keseimbangan ekosistem dan mencemari lingkungan. Dampaknya mungkin tidak langsung dirasakan masyarakat luas, tapi bagi warga sekitar tambang maupun kondisi lingkungan sekitarnya, jelas akan sangat berpengaruh,” ujar Eja, seorang mahasiswa yang juga tergabung dalam komunitas pecinta alam di Sigi.
Menurutnya, pembalakan liar dan deforestasi akibat tambang dapat memicu bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Tagar #SaveRajaAmpat yang viral di media sosial, menurutnya, menjadi simbol kepedulian masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian alam.
Ia juga mengapresiasi langkah-langkah pemerintah daerah yang menunjukkan keberpihakan terhadap lingkungan, seperti Gubernur Sulawesi Tengah yang mencabut izin tambang di Kalora dan Bupati Sigi yang menutup aktivitas tambang ilegal di kawasan Lindu.
Dukungan serupa juga datang dari pegiat alam lainnya yang enggan disebutkan namanya. Ia menegaskan masih banyak tambang di wilayah Sulawesi Tengah yang menyebabkan kerusakan serius terhadap lingkungan.
“Tindakan tambang yang merusak alam sudah sangat jelas terlihat. Sayangnya, kami para pecinta alam hanya bisa menyuarakan aspirasi. Keputusan tetap berada di tangan pemerintah,” ujarnya.
Ia menambahkan, banyak kawasan yang dulunya menjadi tempat bermain dan menjelajah alam kini rusak akibat aktivitas pertambangan. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat mengenai jenis-jenis kawasan hutan seperti hutan produksi, hutan tanaman rakyat, dan hutan lindung.
“Ini adalah pekerjaan rumah bagi kami para pecinta alam, untuk terus menyuarakan agar masyarakat berhenti merusak alam. Sudah banyak contoh nyata seperti banjir, longsor, dan pencemaran yang terjadi akibat pengabaian terhadap lingkungan,” pungkasnya. (Andry)