Harga Beras di Parigi Moutong Meroket, Gubernur Sulteng Turunkan TPID
- Sabtu, 19 Juli 2025 - 19:47 WITA
- Editor: Ananda Ramadan
rapat persiapan di ruang Wakil Bupati Parigi Moutong. (Foto: Biro Administrasi Pimpinan)
Faktasulteng.id, Parigi Moutong - Lonjakan harga beras di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, memicu reaksi cepat dari Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid. Ia memerintahkan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mengambil langkah strategis untuk mengatasi kenaikan yang sempat menyentuh Rp 18.000 per kilogram—melewati batas Harga Eceran Tertinggi (HET) nasional sebesar Rp 12.500 per kilogram untuk jenis medium.
Padahal, Parigi Moutong selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung beras utama di Sulawesi Tengah. Namun kondisi geografis yang strategis serta dorongan pasar luar daerah membuat beras dari wilayah ini lebih banyak keluar ke provinsi tetangga seperti Gorontalo dan Manado.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Sulteng, Rudi Dewanto, memimpin pengecekan langsung ke dua pasar tradisional, yakni Pasar Sentral Tagonu Parigi dan Pasar Tolai. Dalam rapat persiapan di ruang Wakil Bupati Parigi Moutong, Rudi menjelaskan penyebab utama melonjaknya harga beras.
“Harga di luar provinsi lebih menggiurkan. Banyak petani menjual ke sana. Ini harus disikapi agar pasokan untuk kebutuhan dalam daerah tetap terjaga,” kata Rudi pada Jumat, 18 Juli 2025.
Untuk meredam gejolak, pemerintah daerah mengusulkan agar petani menyisihkan 20 persen hasil panennya ke Perum BULOG. Langkah ini merupakan bagian dari kesepakatan bersama yang telah dirintis awal tahun antara Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Perum BULOG, pelaku usaha penggilingan padi, dan Kodam XIII/Merdeka.
“Kami berharap keseimbangan antara kebutuhan lokal dan keuntungan petani bisa terjaga. Harga tetap stabil, masyarakat tenang,” ujar Rudi.
Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong juga diminta menginventarisasi dan mengusulkan pedagang mitra BULOG untuk memperkuat distribusi beras medium SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan). Tujuannya, menambah pasokan beras ke pasar dan menekan harga di tingkat konsumen.
Dari pengecekan lapangan, harga beras medium di dua pasar tersebut ternyata masih berada pada HET, yakni Rp 12.500 per kilogram. Jenis beras lain dijual seharga Rp 16.000 per kilogram, membantah informasi sebelumnya yang menyebut harga sudah mencapai Rp 18.000.
Di sisi distribusi, Perum BULOG Wilayah Sulawesi Tengah menjamin stok cadangan beras pemerintah mencukupi. Pimpinan Wilayah BULOG Sulteng, Elis Nurhayati, menyebutkan, per 17 Juli 2025 terdapat 10.653 ton beras yang tersebar di tiga gudang di Parigi Moutong.
Selain itu, BULOG mendapatkan mandat dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk menyalurkan 13.056 ton beras SPHP untuk periode Juli hingga Desember 2025. Beras ini dijual seharga Rp 11.000 per kilogram dari gudang, dikemas 5 kilogram, dan disalurkan melalui jalur resmi seperti koperasi desa, pasar rakyat, outlet pemerintah, dan program Gerakan Pangan Murah (GPM).
Bersamaan dengan itu, penyaluran Bantuan Pangan Beras untuk alokasi Juni dan Juli 2025 terus berlangsung. Total 4.483 ton disalurkan kepada 224.148 penerima manfaat di Sulawesi Tengah, berdasarkan data By Name By Address (BNBA) dari Kementerian Sosial.
Langkah kolaboratif lintas sektor ini diharapkan dapat menjaga stabilitas harga beras dan menjamin pasokan di tengah dinamika perdagangan antarwilayah.
Turut hadir dalam koordinasi ini, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Nelson M, Kepala Dinas Pangan Rustam A, Karo Ekonomi Yunarto Pasman, Satgas Pangan Polda Sulteng, pimpinan Bulog Sulteng, serta perwakilan dari Dinas Perindag, Dinas Perkebunan dan Peternakan, Bank Indonesia Sulteng, hingga perangkat Pemkab Parigi Moutong seperti Asisten Ekbang Syamsu Nadjamudin dan Kepala Desa Tolai Timur, Made Sukanto. (**)