Gelombang Suara Mahasiswa Palu Menggugat, Dari Jalanan untuk Rakyat

Gelombang Suara Mahasiswa Palu Menggugat, Dari Jalanan untuk Rakyat Ratusan mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Palu menggelar aksi damai di depan DPRD Sulteng. (Foto: Abdy/Faktasulteng.id)
Nusantara

Bagikan Berita ini!

Faktasulteng.id, Palu - Terik matahari siang itu tak mampu meredam semangat ratusan mahasiswa yang memadati depan Kantor DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Senin (25/8/2025). Spanduk berisi kritik terentang, poster tuntutan diacungkan tinggi, sementara lantunan orasi bergema, menandai kembalinya suara mahasiswa dan rakyat ke jalanan Kota Palu.

Sekitar 500 orang yang tergabung dalam Aliansi Rakyat dan Mahasiswa Kota Palu Menggugat berdiri bersama menyuarakan keresahan masyarakat.

Di barisan terdepan, Fauzi selaku Koordinator Lapangan menggenggam pengeras suara. Dengan lantang ia memimpin yel-yel, diiringi sorak dukungan dari peserta aksi yang datang dari berbagai kampus: Universitas Tadulako (Untad), Universitas Alkhairaat (Unisa), Universitas Muhammadiyah (Unismuh), hingga UIN Datokarama.

“Hari ini kita berdiri bukan hanya sebagai mahasiswa, tapi sebagai rakyat yang menagih janji dan menolak penindasan!” teriaknya disambut tepuk tangan meriah.

Aksi ini tidak sekadar turun ke jalan. Massa membawa sepuluh tuntutan besar, mulai dari pembubaran DPR, penolakan RKUHP, evaluasi menyeluruh tambang di Sulteng, evaluasi alih fungsi lahan untuk pertambangan, hingga desakan pengesahan RUU Perampasan Aset. Mereka juga menolak upaya penulisan ulang sejarah Indonesia, menagih janji penciptaan 19 juta lapangan kerja, menuntut jaminan sosial bagi perempuan dan anak, serta menyoroti gaji buruh yang tak kunjung naik.

“Tuntutan ini lahir dari keresahan rakyat yang selama ini tak didengar,” ujar Fauzi usai orasi.

Ilmi, mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat Untad, mengaku hadir karena kepedulian terhadap arah kebijakan pemerintah. “Kami ingin menyampaikan aspirasi agar kebijakan yang menyimpang dievaluasi,” ucapnya dengan mata berbinar meski peluh mengalir di wajahnya.

Hal serupa dirasakan Gita, kawan satu fakultasnya, yang ikut tergerak turun ke jalan. “Saya resah dengan kebijakan pemerintah. Berjuang bersama kawan-kawan membuat saya merasa tidak sendirian,” katanya.

Aksi berlangsung tertib di bawah pengawalan aparat kepolisian. Namun semangat massa tak surut. Dengan suara lantang mereka menegaskan, perjuangan tidak akan berhenti sebelum tuntutan rakyat benar-benar dikabulkan.

Dari jalanan Kota Palu, mahasiswa ingin menunjukkan bahwa demokrasi sejati tidak hanya hidup di ruang-ruang elite, melainkan dari suara rakyat yang menggema dari bawah. (Abdy HM)