Fathur Razaq Kunjungi Souraja Palu, Tegaskan Komitmen Pelestarian Budaya Sulteng
- Senin, 02 Juni 2025 - 11:38 WITA
- Editor: Ananda Ramadan
(foto: IST)
Faktasulteng.id, PALU - Tokoh muda Sulawesi Tengah, Fathur Razaq Anwar, mengunjungi Rumah Adat Souraja di Kota Palu, Jumat, 30 Mei 2025. Didampingi istrinya, Athalla Tiara, Fathur menekankan pentingnya pelestarian budaya sebagai fondasi pembangunan daerah di tengah gempuran modernisasi.
Kedatangan Fathur disambut Mehdi Datupalinge, pengelola Souraja sekaligus keturunan ketujuh Raja Palu. Dalam perbincangan keduanya, Mehdi mengungkapkan keprihatinannya terhadap minimnya perhatian pemerintah terhadap pelestarian budaya. “Nilai-nilai luhur leluhur masih sangat relevan. Tapi sering kali hanya jadi hiasan seremonial,” kata Mehdi.
Ia menyebut era Gubernur Anwar Hafid sebagai satu-satunya periode di mana tokoh adat mendapat tempat terhormat dalam forum kenegaraan. “Baru di masa Gubernur Anwar Hafid, tokoh adat diundang resmi dalam perayaan ulang tahun provinsi,” ujarnya.
Fathur menilai pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan pengakuan simbolik. Menurut dia, sudah saatnya anggaran kebudayaan dialokasikan secara serius. “Kenapa daerah lain seperti keraton bisa menjadikan budaya sebagai bagian penting dari struktur pemerintahannya? Kita di Sulteng ini punya kekayaan intelektual yang luar biasa, tapi belum dikemas dengan rapi” ujarnya.
Ia menyebut kekayaan budaya Sulawesi Tengah memiliki potensi ekonomi yang belum tergarap. “Kalau dikemas profesional, budaya bisa jadi kekuatan ekonomi, seperti halnya migas. Jangan sampai kita bicara pariwisata tapi melupakan pilar utamanya: budaya,” kata Fathur.
Dalam pertemuan itu juga mengemuka kondisi koleksi Museum Sulawesi Tengah yang dinilai tidak optimal. Dari sekitar 7.200 koleksi, sebagian besar tidak ditampilkan secara maksimal. “Bahkan belum dimaknai ulang sesuai konteks kekinian,” ujar Mehdi.
Fathur menegaskan pentingnya pendekatan baru dalam pengelolaan budaya yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian, tetapi juga inovasi dan pemanfaatan ekonomi. “Kita punya tiga kekuatan: culture, venture, dan nature. Tapi kalau tidak ada kemasan, semuanya jadi sia-sia.”
Kunjungan ke Souraja itu menjadi lebih dari sekadar silaturahmi. Ia menjadi pernyataan sikap: bahwa masa depan Sulawesi Tengah tidak bisa dilepaskan dari warisan budayanya sendiri. (**)