Desa Buntuna Menuju Desa Cinta Statistik: Wujud Asta Cita Prabowo di Tolitoli
- Rabu, 18 Juni 2025 - 23:19 WITA
- Editor: Nasha
Kepala BPS Tolitoli bersama Sekda Tolitoli, perangkat Desa Buntuna, dan perwakilan instansi terkait berfoto bersama usai pencanangan program Desa Cantik di Aula Kantor Desa Buntuna, Kecamatan Baolan, Rabu (18/6/2025). Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola data desa untuk mendukung pembangunan yang lebih terarah. đź“· Foto: Nasha/faktasulteng.id
Faktasulteng.id, Tolitoli - Suasana khidmat mengawali pagi Rabu, 18 Juni 2025 di Aula Kantor Desa Buntuna, Kecamatan Baolan. Lagu Indonesia Raya, Patriot Baolan, hingga Mars Statistik berkumandang, membuka rangkaian acara penting: pencanangan Desa Cinta Statistik atau yang populer disebut Desa Cantik, oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Tolitoli.
Di tengah deret bangku yang diisi oleh pejabat lintas instansi—dari Bapenda, Kominfo, Dinas Ketahanan Pangan, hingga para perangkat desa—resmi diumumkan bahwa Desa Buntuna menjadi pionir program Desa Cantik tahun ini di Tolitoli.
“Kami bersyukur terpilih,” ujar Kepala Desa Buntuna, Irwan Harid, dalam sambutannya. Ia menekankan pentingnya program ini untuk memperbaiki pemahaman masyarakat soal data, sekaligus mengajak warga terlibat aktif dalam pengumpulan dan pemanfaatan statistik. “Kami berharap BPS terus mendampingi. Agar datanya benar-benar akurat dan bisa dipakai untuk mengambil keputusan-keputusan penting di tingkat desa.”
Program ini bukan sekadar pencitraan statistik. Kepala BPS Tolitoli, Sunu Hari Ismawan, menyampaikan bahwa Desa Cantik bertujuan membenahi tata kelola data desa agar menjadi rujukan pembangunan yang terarah. “Di daerah lain, data desa bahkan bisa mendongkrak penjualan produk secara online. Kita ingin Desa Buntuna menempuh jalan yang sama,” kata Sunu.
Lebih dari itu, program ini disebut selaras dengan visi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto—terutama dalam kerangka Asta Cita, delapan agenda besar pembangunan nasional. Salah satunya: menciptakan pemerataan ekonomi dan menghapus kemiskinan struktural dari pinggiran, mulai dari desa.
Sekretaris Daerah Kabupaten Tolitoli, Moh. Asrul Bantilan, yang hadir mewakili Bupati, menegaskan hal itu. “Desa kini tak lagi sekadar objek pembangunan. Lewat data yang valid dan dikelola langsung oleh warganya, desa menjadi subjek dalam pembangunan nasional,” ujarnya.
Acara puncak ditandai dengan penandatanganan piagam komitmen bersama dan MOU antara BPS dan pemerintah daerah. Disusul penyematan atribut kepada aparat Desa Buntuna yang resmi menjadi Agen Statistik—para pengumpul, penjaga, sekaligus penjuru data di level desa.
Program Desa Cantik memang bukan sulap. Tapi ia menawarkan satu jalan penting: mendorong masyarakat desa menjadi lebih cerdas dan berdaya, bukan hanya sebagai penerima program, tapi sebagai pencipta data dan arah pembangunan itu sendiri.
Jika berhasil, Desa Buntuna bisa jadi pelita di antara gelapnya ketimpangan data desa. Dan barangkali, menjadi contoh kecil dari janji besar: bahwa dari desa, Indonesia bisa lebih maju—statistik demi statistik. (Nasha)