Berlayar Bersama Fathur Razaq: Menjaga Warisan, Merawat Laut
- Senin, 26 Mei 2025 - 11:56 WITA
- Editor: Ananda Ramadan
(foto: Ist)
Faktasulteng.id, PALU - Tiga puluh dua perahu layar tradisional membelah lautan dari Donggala menuju Tawaeli, Minggu, 25 Mei 2025. Sorak sorai masyarakat Boya Talise mengiringi keberangkatan mereka. Bukan sekadar lomba, ini adalah seruan untuk kembali pada akar budaya dan menyelamatkan lingkungan.
Lomba Perahu Layar Tradisional & Aksi Bersih Pantai bertajuk “Berlayar Bersama Fathur Razaq” digelar oleh komunitas Rembuk Pemuda Sulteng. Di tengah semangat yang berkibar, Muhammad Fathur Razaq koordinator acara sekaligus penggagas gerakan menegaskan makna di balik layar yang terkembang.
“Kita tidak sedang mengadakan kompetisi semata. Ini adalah upaya membangkitkan kembali nilai-nilai yang hampir hilang: kecintaan pada budaya, solidaritas sosial, dan kepedulian terhadap alam,” ujar Fathur dalam sambutannya.

Menurut Fathur, perlombaan ini adalah bentuk penghormatan kepada warisan leluhur masyarakat pesisir yang hidup berdampingan dengan laut. Namun, ia mengingatkan, warisan budaya tak akan berarti bila lingkungan tak lagi mampu menopangnya.
Ia mencontohkan kegagalan program penanaman pohon beberapa waktu lalu. Dari 2.222 pohon yang ditanam, hanya 1.000 yang berhasil tumbuh. “Banyak yang gagal tumbuh karena akarnya tak mampu menembus lapisan sampah plastik,” ungkap Fathur. “Itulah kenapa kami sangat concern terhadap persoalan sampah. Ini bukan hal kecil, sampah plastik sudah masuk ke laut, jadi mikroplastik, dimakan ikan, kita makan ikannya, dan itu bisa sebabkan kanker.”
Bagi Fathur, krisis lingkungan bukan lagi soal masa depan. “Kita sudah mengalaminya sekarang. Tapi saya percaya, perubahan bisa dimulai dari hal kecil. Termasuk dari acara seperti ini,” katanya.
Ia mengajak generasi muda untuk tak apatis. Kolaborasi lintas generasi, katanya, menjadi kunci. “Anak muda harus menghormati yang tua, dan yang tua mesti menyayangi yang muda. Kita tidak bisa berjalan sendiri, Kita butuh saling topang, saling jaga.”
Sebelum menutup acara, Fathur mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah menyambut dan mendukung inisiatif ini. “Ina dan manggeku semua, terima kasih karena sudah menerima saya untuk bersilaturahmi. Mari jadikan hari ini momentum kebangkitan—budaya kita, lingkungan kita, dan semangat pemuda kita.” (**)