Santri Asal Parigi Moutong Belajar Cybersecurity Secara Otodidak, Raih Apresiasi BSSN
- Selasa, 08 September 2026 - 16:31 WITA
Hafid Fajar Santri Berprestasi asal Parigi Moutong (Foto/IST)
Faktasulteng.id, PARIGI MOUTONG – Hafid Fajar, pemuda asal Desa Margapura, Kecamatan Bolano Lambunu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, menorehkan perjalanan di bidang teknologi dan keamanan siber meski tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang tersebut.
Hafid yang dikenal di media sosial dengan nama Hafid Qlaver merupakan santri lulusan Al Fatah Temboro, Magetan. Ia mengaku mulai mempelajari teknologi, cybersecurity, ethical hacking hingga bug hunting secara mandiri sejak duduk di kelas 1 Madrasah Tsanawiyah (MTs).
Dari proses belajar secara otodidak tersebut, Hafid kemudian mulai menemukan dan melaporkan sejumlah celah keamanan pada website maupun aplikasi milik sejumlah instansi melalui jalur pelaporan yang bertanggung jawab.
Atas kontribusinya tersebut, Hafid mengaku memperoleh sejumlah sertifikat apresiasi dari berbagai instansi dan organisasi. Di antaranya Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Agama, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, Pemerintah Kota Salatiga, BMKG, Detik.com, Pemerintah Kota Depok, Pemerintah Kabupaten Sukoharjo, Pemerintah Kota Palu, serta sejumlah organisasi dan program lainnya.
Apresiasi terbaru yang diterimanya berasal dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Republik Indonesia atas kontribusinya dalam menemukan dan melaporkan celah keamanan pada sistem atau aset BSSN.
Menurut Hafid, perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan latar belakang pendidikan maupun tempat tinggal bukan alasan untuk berhenti belajar dan berkarya di bidang teknologi.
“Bagi saya, pencapaian tersebut bukan hanya tentang penghargaan, tetapi juga menjadi bukti bahwa seseorang yang berasal dari daerah dan memiliki latar belakang sebagai santri, bahkan tanpa pendidikan formal di bidang cybersecurity, tetap bisa belajar, berkembang, dan memberikan kontribusi positif apabila memiliki kemauan untuk terus belajar,” kata Hafid.
Ia berharap pengalamannya dapat menjadi motivasi bagi generasi muda, khususnya di daerah-daerah di Sulawesi Tengah, untuk mulai mengenal dan mempelajari teknologi serta keamanan siber.
Hafid menilai perkembangan teknologi tidak semestinya hanya menjadi ruang bagi mereka yang tinggal di kota besar atau memiliki latar belakang pendidikan teknologi. Menurutnya, kemauan untuk belajar dan menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab menjadi hal penting dalam mengembangkan kemampuan tersebut.
Ia berharap kisah perjalanannya dapat menjadi contoh bagi anak-anak muda di daerah yang ingin mempelajari cybersecurity dan teknologi, sekaligus mendorong mereka menggunakan kemampuan di bidang tersebut secara etis dan bertanggung jawab.