Pemimpin Di Persimpangan Zaman || Oleh: Salihudin M Awal

Pemimpin Di Persimpangan Zaman || Oleh: Salihudin M Awal Salihudin M Awal Bersama Penulis Buku Pemimpin Era Globalisasi Ala Gen Z, Harnida Wahyuni Adda
Nombaca

Bagikan Berita ini!

Membaca buku Pemimpin Era Globalisasi Ala Gen Z karya Harnida Wahyuni Adda terasa seperti menyusuri jalan reflektif antara masa lalu dan masa depan kepemimpinan. Buku ini bukan sekadar kumpulan teori manajemen modern, melainkan cermin atas perubahan besar dalam cara kita memaknai kepemimpinan di tengah arus globalisasi dan disrupsi digital.

Dengan gaya bahasa yang ringan namun tajam, Harnida mengajak pembaca berpikir ulang, apakah kepemimpinan yang kita anut selama ini masih relevan? Dalam kalimat pembuka Bab 1, ia menulis, “Dunia sedang berubah dengan cepat. Tapi apakah kepemimpinan kita ikut berubah?” Kalimat simple yang terasa mengguncang. Dari pertanyaan itulah keseluruhan gagasan buku ini mengalir, bahwa kepemimpinan bukan lagi soal kuasa dan jabatan, melainkan tentang arah, makna, dan keberanian untuk beradaptasi.

 

Menelanjangi Karakter Gen Z dan Aspirasi Kepemimpinan Baru

Buku ini menempatkan generasi Z (mereka yang lahir di era digital dan tumbuh di tengah globalisasi) sebagai subjek utama perubahan. Dalam Bab 2 berjudul Mengenal Gen Z: Nilai, Aspirasi, dan Tantangan, Harnida menulis bahwa generasi ini memiliki karakter yang unik: adaptif, multitasking, kritis, namun rentan terhadap kejenuhan dan overthinking. Mereka hidup dalam budaya connectivity (selalu terhubung) tetapi sering kehilangan kedalaman relasi manusiawi.

Harnida menyajikan hasil survei mini yang dilakukan terhadap mahasiswa dan profesional muda. Dari survei itu muncul empat karakter pemimpin ideal versi Gen Z: visioner (57%), empatik (44%), kritis (38%), dan disiplin (18%). Temuan ini menggambarkan betapa generasi ini lebih menghargai keaslian dan nilai-nilai emosional dibandingkan simbol formal kekuasaan. Mereka tidak mencaribos,” melainkanpemimpin yang bisa didengarkan.”

Ia menulis dengan humor halus, “Gen Z nggak butuh bos, mereka butuh pemimpin. Kalimat ini kemudian berkembang menjadi tesis utama dalam Bab 4 bahwa gaya kepemimpinan lama yang berbasis hierarki dan otoritas tunggal tidak lagi efektif. Dunia kerja kini bergerak menuju model yang lebih terbuka dan partisipatif.

 

Transformasi Kepemimpinan: Dari Otoritas ke Keaslian

Dalam Bab 4, Harnida memperkenalkan beberapa pendekatan kepemimpinan modern yang dianggap sesuai untuk Gen Z, di antaranya Transformational Leadership, Servant Leadership, dan Authentic Leadership. Ia tidak sekadar mengutip teori, melainkan mengaitkannya dengan realitas lokal, dari ruang kelas hingga kantor startup.

Kepemimpinan transformatif, misalnya, dijelaskan sebagai gaya yang menumbuhkan semangat perubahan dan inspirasi, bukan ketakutan. Pemimpin seperti ini mampu menyalakan api visi dalam diri orang lain. Sementara servant leadership menekankan pentingnya melayani dan mendengarkan; bukan memerintah, melainkan memberdayakan. Sedangkan authentic leadership menuntut keaslian dan transparansi, bahwa pemimpin harus jujur terhadap dirinya sendiri sebelum bisa dipercaya oleh orang lain.

Harnida menulis, Pemimpin autentik bukan yang sempurna, tapi yang berani mengakui ketidaksempurnaannya.” Kalimat itu menohok, terutama bagi generasi lama yang sering memandang kepemimpinan sebagai citra tanpa cela. Di mata Gen Z, kejujuran jauh lebih penting daripada simbol kewibawaan yang dibuat-buat.

 

Empat Pilar di Era Global: Sadar Diri dan Integritas

Bab 5 membawa pembaca ke level refleksi yang lebih tinggi. Harnida menegaskan bahwa di tengah dunia yang serba cepat dan terfragmentasi, kepemimpinan yang bertahan bukan yang paling populer, melainkan yang paling sadar diri. Dunia tidak kekurangan pemimpin pintar, katanya, tetapi kekurangan pemimpin yang punya empati dan integritas.

Di bab ini ia memperkenalkan empat pilar penting kepemimpinan masa depan: Pertama, Empati, sebagai dasar kemanusiaan dalam mengambil keputusan. Kedua, komunikasi lintas generasi, karena kepemimpinan hari ini terjadi di ruang multiusia dan multibudaya. Ketiga, Etika spiritual, yang menegaskan bahwa nilai moral harus menjadi fondasi tindakan. Keempat, Ketahanan mental, agar pemimpin mampu bertahan di tengah tekanan informasi dan disrupsi teknologi.

Menariknya, ia mengaitkan ide ini dengan fenomena influencer leadership. Banyak orang mengira punya pengaruh hanya karena punya banyak followers. Padahal, kata Harnida, pengaruh sejati bukan diukur dari jumlah orang yang melihatmu, tapi dari berapa banyak yang kamu ubah.”

 

Menjadi Pemimpin Berkelanjutan: Panduan Praktis

Bab 6 menjadi semacam panduan praktis. Harnida menegaskan bahwa menjadi pemimpin tidak harus menunggu gelar atau jabatan. Siapa pun bisa memimpin mulai dari diri sendiri. Ia menulis, “Dunia tidak sedang kekurangan pemimpin yang pintar, tetapi sedang mencari pemimpin yang berani bergerak dari dirinya sendiri.

Dalam bab ini, Harnida mengajak pembaca untuk menyusun langkah-langkah sederhana namun nyata, misalnya: merancang perubahan diri yang realistis, bukan instan, menanamkan nilai jangka panjang seperti integritas dan konsistensi, dan mengukur pengaruh dari hal-hal kecil yang kita lakukan hari ini.

Ia menyebutnya kepemimpinan berkelanjutan konsep bahwa seorang pemimpin sejati adalah yang mampu melahirkan pemimpin lain. Di bagian ini, ia menyitir teori James Clear tentang kebiasaan kecil dari bukunya Atomic Habits: perubahan besar lahir dari tindakan sederhana yang dilakukan setiap hari.

 

Refleksi Akhir: Pertanyaan Terbesar untuk Diri Sendiri

Buku ini ditutup dengan epilog singkat yang kuat: Pemimpin itu kamu.” Kalimat itu bukan sekadar penutup, tapi pernyataan moral. Harnida seolah ingin mengatakan bahwa setiap individu punya potensi untuk memimpin, sejauh ia berani mengambil tanggung jawab atas dirinya sendiri.

Sebagai seorang akademisi, Harnida menulis dengan keseimbangan antara data dan empati. Buku ini bukan hanya penting bagi mahasiswa atau profesional muda, tapi juga bagi para dosen, pejabat publik, dan pemimpin organisasi yang ingin memahami cara berpikir generasi baru. Ia menulis dengan gaya yang tidak menggurui, melainkan menuntun.

Refleksi yang paling menarik dari buku ini adalah kesadarannya bahwa globalisasi tidak sekadar mengubah ekonomi, tetapi juga psikologi manusia. Dunia yang serba cepat membuat kepemimpinan harus bertransformasi menjadi lebih lentur dan kolaboratif. Pemimpin di era global tidak bisa hanya mengandalkan pengetahuan teknis, tetapi juga kecerdasan emosional dan sosial.

Dari halaman ke halaman, terasa jelas bahwa Harnida ingin membangun jembatan antar-generasi. Ia tidak memuja Gen Z, tapi juga tidak menghakimi mereka. Ia memahami bahwa generasi ini lahir dalam tekanan kompetisi global yang tinggi, namun sekaligus membawa potensi besar untuk mengubah dunia melalui kreativitas dan empati.

Maka, ketika buku ini ditutup, pembaca tidak hanya membawa teori baru, tetapi juga cermin baru. Sebuah kesadaran bahwa kepemimpinan bukan lagi tentang siapa di atas siapa, melainkan tentang bagaimana kita tumbuh bersama.

Buku Pemimpin Era Globalisasi Ala Gen Z terasa relevan dengan konteks Indonesia hari ini, ketika banyak anak muda sedang mencari peran dan makna di tengah dunia yang terus berubah. Dengan bahasa yang mudah dicerna namun reflektif, Harnida berhasil menyalakan percikan penting bahwa kepemimpinan bukan warisan, tetapi perjalanan.

Dan seperti ia tulis di halaman terakhir: “Dunia tidak kekurangan pemimpin yang cerdas. Dunia hanya menunggu pemimpin yang berani berubah.”

Kalimat itu menutup buku dengan ketenangan, tapi juga tantangan. Sebab di akhir semua teori dan refleksi, pertanyaan terbesar tetaplah, "apakah kita sudah mulai memimpin diri kita sendiri?"