Hilirisasi Siniu: Membayangkan Wajah Baru Ekonomi Parigi Moutong
- Senin, 02 Februari 2026 - 12:06 WITA
- Editor: Apri
- | Penulis: Redaksi
Yusri Mahendra. (Foto: Dok. Pribadi)
Parigi Moutong bukan sekadar bentang garis pantai sepanjang 472 kilometer. Di balik luas wilayah 5.805,610 kilometer persegi ini, terdapat struktur ekonomi yang selama ini "setia" pada sektor tradisional. Mengacu pada data Parigi Moutong Dalam Angka 2025, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi tulang punggung utama dengan sumbangsih 42,47% terhadap PDRB. Sementara itu, Industri Pengolahan (manufaktur) masih terseok di angka 2,33%.
Ketimpangan angka ini menjadi alasan mengapa pernyataan Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, pada 25 Januari 2026 lalu di pelantikan Kadin Parimo, memicu diskursus hangat. Rencana pembangunan industri nikel di Siniu bukan sekadar "proyek masuk desa", melainkan upaya paksa untuk menggeser kurva ekonomi dari sektor primer ke sekunder.
Informasi seputar Industri Pengolahan Nikel di Kabupaten Parigi Moutong sudah masuk telinga sejak Tahun 2024, tapi tidak cukup menggiurkan dibandingkan awal Tahun 2026. Bukan hanya itu, bahkanm ada banyak isu terkait akan kehadiran Industri di Parigi Moutong dari entah itu Pertambangan maupun Manufaktur beberapa Tahun silam, namun terus mengalami penolakan dari sebagian Masyarakat dengan dasar dampak negatifnya, yakni; Kerusakan Lingkungan hingga Pendapatan Masyarakat yang notabene berasal dari Sektor Pertanian dan Perikanan.
Penyampaian Gubernur Sulawesi Tengah terkait Pembangunan Industri Nikel low grade di Kabupaten Parigi Moutong katanya akan ramah terhadap lingkungan. Hal tersebut disampaikan pada momen Pelantikan Kadin Parigi Moutong pada 25/01/2026.
Setelah itu dilanjutkan dengan semacam Jumpa Pers, yang bertanya seputaran Industri Nikel diatas. Beliau menyampaikan ada Proyek Strategis Nasional (PSN) yang terlebih dahulu perlu dibangun di Banggaiba Kabupaten Sigi, yakni PLTA. Jika proyek itu selesai nantinya akan dibangun jaringan Listrik tersebut menuju ke Siniu, tempat akan didirikannya Insdutri Nikel di Parigi Moutong.
Ada beberapa hal mungkin yang perlu diperhatikan secara seksama bahwa; Pembangunan Industri Nikel tersebut tidak sama persis dengan IMIP, kenapa? Karena IMIP merupakan Kawasan yang didalamnya terdapat berbagai Industri. Ya Namanya saja Kawasan Industri, tentu ada beberapa bidang Indutri, bukan hanya pertambangan. Kawasan IMIP hadir bukan hanya pada bidang Pertambangan sebagai sektor primernya, namun juga terdapat sektor sekunder dan tersier.
---
Rencana Pembangunan Industri Nikel di Kabupaten Parigi Moutong harusnya bukan hanya surga telinga bagi Masyarakat, sebagai Putra Daerah turut mendukung. Kenapa? dengan hal tersebut akan berdampak positif terhadap Ekonomi masyarakat lokal, diantaranya; Pembukaan Lapangan Kerja baru sesuai dengan target Pemprov dan juga akan hadirnya UMKM di sekitar Industri. Cerita sederhananya begini.
Pendapatan Baru & Pendapatan Tambahan
Anggaplah Industri tersebut sudah mulai jalan dan terus berkembang, dan kita fokuskan pada masyarakat lokal.
Pembukaan lapangan kerja akan menyerap tenaga kerja lokal sekitar 60% hingga 80%, dengan hal tersebut Masyarakat akan menghasilkan pendapatan baru dan pendapatan tambahan. Pendapatan baru yang dimaksud disini ialah, bagi mereka yang sebelumnya belum bekerja, yang nantinya akan bekerja untuk mendapatkan upah dari sumber penghasilan baru. Kemudian untuk pendapatan tambahan ialah, bagi mereka yang sudah memiliki usaha-usaha kecil maupun hasil tani dan laut. Jumlah dari yang mereka hasilkan/perjualkan akan bertambah seiring berjalannya waktu untuk memenuhi kebutuhan para pekerja yang tinggal di sekitar Industri. Jadi, secara tidak langsung itu akan menambah pendapatan tambahan atau sumber penghasilan tambahan bagi Masyarakat, bahkan bukan hanya itu, mereka juga akan membutuhkan anggota/pekerja baru untuk membantu mereka menghasilkan produk maupun menjual barang lebih banyak.
---
Jadi, seperti apa Industri Nikel yang akan hadir di Siniu, Parigi Moutong? Cukup menjadi pertanyaan besar bukan. Yap sebelumnya sudah terdapat perbandingan sekilas sebagai salah satu ungkapan yang cukup terus menjadi perbincangan hangat dengan kehadiran IMIP. Secara tidak langsung pernyataan Anwar Hafid selaku Gubernur Sulteng bahwa Industri tersebut masuk dalam kategori sektor sekunder, yaitu Industri Pengolahan (Manufaktur) yang bahan bakunya merupakan barang setengah jadi Nikel yang berasal dari Morowali, dan tidak menutup kemungkinan juga berasal dari Daerah lain.
Adapun beberapa produk setengah jadi dari Nikel, yakni; Nickel Pig Iron (NPI), Ferronickel (FeNi), Nickel Matte & Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Berikut beberapa produk yang dihasilkan dari 4 produk diatas jika diolah lagi.
NPI & FeNi, kedua bahan ini hampir seluruhnya lari ke industri baja. Produk manufaktur yang dihasilkan meliputi: 1) Peralatan Rumah Tangga: Sendok, garpu, panci, wajan, dan wastafel dapur (sink). 2) Alat Kesehatan: Meja operasi, gunting bedah, jarum suntik, dan pinset (karena sifatnya yang steril dan antikarat). 3) Konstruksi & Arsitektur: Panel dinding gedung, pagar stainless steel, lift, dan eskalator. 4) Otomotif (Eksterior): Knalpot mobil, velg, dan aksesoris krom.
Kemudian untuk Nickel Matte & MHP, karena kadar nikelnya tinggi dan mengandung kobalt, kedua bahan ini adalah "jantung" dari revolusi energi hijau. Produk manufakturnya meliputi: 1) Baterai Kendaraan Listrik (EV Battery): Sel baterai untuk mobil listrik, motor listrik, dan bus listrik. 2) Baterai Gadget: Baterai Lithium-ion untuk smartphone, laptop, dan tablet. 3) Penyimpanan Energi (ESS): Baterai skala besar untuk menyimpan energi dari panel surya atau kincir angin. 4) Superalloy (Logam Super): Turbin mesin pesawat terbang dan mesin roket (karena tahan suhu sangat panas).
Sampai sini pahamkan?
“Kukira sederhana, rupanya cukup panjang untuk menceritakan kisah hingga alurnya”
“Sengaja kutulis beberapa bagiannya, agar kita dapat sedikit membuka mata terhadap isu gorengannya”
Seperti itulah sekiranya jika Industri Nikel di Parigi Moutong yang dicanangkan oleh Pemerintah Daerah.
Jika, nantinya Industri tersebut berjalan tentu akan menjadi pendongkrak tambahan terhadap PRDB Parigi Moutong dari sektor sekunder sebagai Industri Pengolahan. Harapannya, agar tidak perlu terlalu skeptis terhadap setiap policy yang hadir, mengapa? Karena setiap perubahan pasti akan dihantui dengan pengorbanan sesuatu terhadap sesuatu yang dihasilkan. Hanya saja apakah lebih banyak mudaratnya atau manfaatnya.
Marilah melakukan telaah lebih lanjut, dengan menyampaikan lebih banyak hingga detail terkait “informasi sekilas maupun yang cukup ambigu” agar Masyarakat lebih teredukasi dari setiap policy.
Terimakasih, saya Yusri Mahendra salahsatu penduduk yang lahir, besar, menempuh Pendidikan SD hingga SMA di Kabupaten Parigi Motung, Kuliah di Kota Palu, dan saat ini bekerja di salah satu Tenan di PT IMIP.
Salam Hormat, untuk semua
Salam Manis, untuknya
Morowali, 30 Januari 2025
Penulis: Yusri Mahendra
Editor: Apri