Gerakan Mahasiswa Dinilai Insidentil, Isu Strategis Daerah Minim Diangkat ke Level Nasional
- Rabu, 14 Januari 2026 - 19:11 WITA
- Editor: Ananda Ramadan
- | Penulis: Abdy Nusantara
Mahasiswa menggelar aksi di Palu
Faktasulteng.id, Palu — Aksi dan gerakan mahasiswa di sejumlah daerah dinilai masih bersifat insidentil dan cenderung mengikuti garis komando serta imbauan nasional, tanpa upaya serius mengangkat persoalan-persoalan lokal menjadi isu perjuangan yang lebih luas. Kondisi ini terlihat jelas di Sulawesi Tengah, wilayah yang hingga kini masih diwarnai banyak konflik antara masyarakat dengan perusahaan tambang ekstraktif.
Dalam berbagai momentum aksi nasional, mahasiswa kerap hadir dengan tuntutan umum yang seragam. Namun, persoalan konkret di daerah seperti konflik agraria, perampasan ruang hidup, kerusakan lingkungan, hingga kriminalisasi warga yang menolak tambang, jarang dibawa menjadi agenda nasional yang terorganisir dan berkelanjutan. Akibatnya, suara masyarakat terdampak di Sulawesi Tengah tidak mendapatkan gaung yang memadai di tingkat pusat.
Situasi tersebut beriringan dengan melemahnya pengaruh gerakan mahasiswa di basis-basis rakyat, seperti kelompok petani, buruh, nelayan, pedagang kecil, dan masyarakat miskin kota maupun desa. Mahasiswa dinilai semakin berjarak dengan realitas sosial di akar rumput, sehingga peran historisnya sebagai penghubung antara pengetahuan, keberpihakan, dan perjuangan rakyat kian memudar.
Sejumlah pengamat gerakan sosial menilai, jarak itu muncul karena sikap segan, bahkan enggan, sebagian mahasiswa untuk membangun relasi langsung dengan kelompok-kelompok rakyat. Mahasiswa lebih banyak berkutat pada lingkaran elit politik, ruang akademik, dan simbolisme aksi, ketimbang terlibat dalam proses panjang pengorganisasian dan pendampingan masyarakat.
“Mahasiswa hari ini sering terjebak dalam kesombongan intelektual, merasa cukup berjuang di level wacana dan aksi simbolik, padahal esensi perjuangan justru terletak pada keberanian turun dan berproses bersama rakyat di akar rumput,” ujar Abdy, Koordinator Kajian dan Bacaan LMND Kota Palu.
Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi gerakan mahasiswa di Sulawesi Tengah, terutama di tengah masifnya ekspansi industri ekstraktif. Tanpa keberpihakan yang nyata dan konsisten terhadap konflik-konflik rakyat, gerakan mahasiswa dikhawatirkan akan kehilangan relevansi sosial serta peran strategisnya sebagai kekuatan perubahan.
(Abdy HM)