BADKO HMI Sulawesi Tengah Gelar FGD Series 2, Bahas Krisis Ekologi dan Masa Depan Sulteng

BADKO HMI Sulawesi Tengah Gelar FGD Series 2, Bahas Krisis Ekologi dan Masa Depan Sulteng Ketua Umum BADKO HMI Sulawesi Tengah bersama narasumber FGD Series 2 bertajuk “Menakar Krisis Ekologi dan Masa Depan Sulawesi Tengah” di Cafe Nagaya, Kota Palu, Senin (29/6/2026), membahas pengelolaan sumber daya alam yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Mahasiswasulteng

Bagikan Berita ini!

Faktasulteng.id, PALU – Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO HMI) Sulawesi Tengah menggelar Focus Group Discussion (FGD) Series 2 bertajuk “Menakar Krisis Ekologi dan Masa Depan Sulawesi Tengah” di Cafe Nagaya, Jalan Sisingamangaraja, Kota Palu, Senin (29/6/2026). Kegiatan yang mempertemukan unsur kepolisian, akademisi, DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, mahasiswa, dan organisasi kepemudaan ini menjadi ruang dialog lintas sektor untuk membahas tantangan krisis ekologi serta merumuskan langkah strategis menjaga keberlanjutan pembangunan daerah.

Dalam FGD tersebut hadir IPDA Dr. Lukman, S.H., M.H. dari Ditreskrimsus Polda Sulawesi Tengah, akademisi Muhammad Feir Chalifardy Na’a, Tenaga Ahli Komisi III DPRD Provinsi Sulawesi Tengah Ruslan Husen, serta Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Provinsi Sulawesi Tengah M. Sadly Lesnusa, S.Sos., M.Si. Diskusi juga diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan organisasi kepemudaan di Sulawesi Tengah.

BADKO HMI Sulawesi Tengah dalam forum tersebut menyoroti aktivitas eksploitasi sumber daya alam yang masih berlangsung di berbagai wilayah Sulawesi Tengah. Organisasi tersebut menilai praktik pemanfaatan sumber daya alam yang selama ini berjalan belum sepenuhnya mempertimbangkan prinsip keadilan ekologis serta keadilan antargenerasi. Akibatnya, berbagai dampak lingkungan yang ditimbulkan berpotensi mengancam keberlanjutan ekosistem dan mengurangi hak generasi mendatang untuk menikmati lingkungan hidup yang sehat dan produktif.

Ketua Umum BADKO HMI Sulawesi Tengah, Renaldi Kuamas, menegaskan bahwa penyelesaian berbagai persoalan publik, termasuk isu lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam, tidak harus selalu dilakukan melalui aksi demonstrasi di jalan. Menurutnya, dialog publik dan forum diskusi merupakan instrumen penting dalam membangun solusi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.

“Tidak semua permasalahan harus diselesaikan melalui aksi turun ke jalan. Penyampaian aspirasi juga dapat dilakukan melalui mekanisme yang lebih konstruktif, seperti dialog publik, forum diskusi, maupun audiensi dengan pihak-pihak terkait agar solusi yang dihasilkan lebih efektif,” ujarnya.
Renaldi juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh berbagai isu yang berpotensi memecah belah persatuan. Ia menilai sikap kritis harus tetap diimbangi dengan kebijaksanaan dalam menyikapi setiap dinamika yang berkembang di tengah masyarakat.

Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga situasi keamanan dan ketertiban agar tetap aman, damai, dan kondusif. Menurutnya, stabilitas daerah menjadi faktor penting dalam memastikan penyampaian aspirasi dapat berlangsung secara tertib tanpa mengganggu kepentingan masyarakat luas.

“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengedepankan sikap bijaksana dalam menyikapi berbagai persoalan yang berkembang, serta bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban. Dengan demikian, ruang demokrasi dapat berjalan dengan baik dan aspirasi masyarakat dapat tersampaikan secara efektif,” tambahnya.
Melalui FGD Series 2 ini, BADKO HMI Sulawesi Tengah berharap dapat memperkuat budaya dialog, mempertemukan berbagai perspektif dari pemangku kepentingan, serta menghasilkan rekomendasi yang konstruktif terkait tata kelola sumber daya alam yang lebih berkeadilan, berkelanjutan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat serta generasi yang akan datang.