Waspada! Kasus Suspek Campak di Palu Meningkat, Berikut Faktanya
- Selasa, 17 Maret 2026 - 16:46 WITA
- Editor: Apri
- | Penulis: Redaksi
Puskesmas Talisa (Foto: Fatimah/Faktasulteng.id)
Palu, Faktasulteng.id - Wilayah kerja Puskesmas Talise, Kota Palu, melaporkan lonjakan signifikan kasus suspek campak pada awal tahun 2026. Data tren menunjukkan akumulasi 50 kasus terjadi sepanjang Januari hingga Februari, dengan rata-rata 25 kasus per bulan, yang menandai alarm serius bagi ketahanan kesehatan di ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah.
Berdasarkan data yang dihimpun tim surveilans Puskesmas Talise, peningkatan ini terlihat kontras jika dibandingkan dengan periode tahun 2025. Sepanjang tahun lalu, kasus cenderung rendah dan tersebar dalam jumlah kecil, dengan puncak tertinggi hanya menyentuh angka 11 kasus pada November 2025 sebelum sempat menurun di bulan Desember. Namun, memasuki awal 2026, grafik menunjukkan lonjakan tajam yang bertahan hingga Maret dengan tambahan 10 kasus baru.
Petugas Surveilans Puskesmas Talise, Tia Septi Inggriani, mengonfirmasi bahwa kelompok usia yang paling terdampak dalam fenomena ini adalah bayi, balita, dan anak usia sekolah. "Hampir seluruh pasien yang datang menunjukkan gejala klinis yang identik, mulai dari demam tinggi, ruam kemerahan pada kulit, batuk, pilek, hingga mata merah. Bahkan, beberapa pasien mulai menunjukkan komplikasi berat seperti diare dan pneumonia," jelas Tia saat ditemui di ruang kerjanya.
Kondisi ini diperparah oleh status demografi Kota Palu. Merujuk pada data Statistik Daerah Provinsi Sulawesi Tengah 2025, Kota Palu merupakan wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di provinsi ini, yakni mencapai 84,12 per kilometer persegi, jauh melampaui rata-rata provinsi yang berada di angka 71,66. Kepadatan ini secara teoritis mempercepat laju transmisi penyakit menular melalui udara (airborne) seperti campak, terutama di wilayah padat seperti Talise.
Temuan lapangan juga menunjukkan mayoritas suspek memiliki riwayat imunisasi yang tidak lengkap. Hal ini menjadi paradoks mengingat akses terhadap sarana pendidikan dan informasi di Kota Palu tergolong yang terbaik di Sulawesi Tengah. Tia Septi menekankan bahwa gejala awal campak sering kali mengecoh orang tua karena hanya berupa demam, sehingga kerap dianggap sebagai demam biasa (febris).
“Biasanya ruam kemerahan sebagai ciri khas campak baru muncul setelah tiga sampai empat hari demam. Saat itulah orang tua baru menyadari dan membawa anak ke puskesmas, padahal risiko penularan sudah terjadi sejak masa inkubasi,” tambah Tia.
Kendala Laboratorium Rujukan
Meski secara klinis mengarah kuat pada campak, hingga saat ini belum ada satu pun kasus yang terkonfirmasi secara laboratoris (positive rate). Kendala utamanya adalah keterbatasan fasilitas pemeriksaan spesimen di tingkat lokal. Seluruh spesimen yang diambil dari pasien suspek di Talise harus dikirim ke laboratorium rujukan di luar Kota Palu, yang memakan waktu tunggu cukup lama untuk mendapatkan hasil pasti.
Pihak Puskesmas Talise kini mengintensifkan edukasi kepada masyarakat untuk melengkapi imunisasi dasar lengkap bagi anak. Langkah ini dinilai sebagai satu-satunya cara paling efektif untuk memutus rantai penularan di tengah cuaca Sulawesi Tengah yang pada tahun 2024 tercatat lebih basah dengan curah hujan mencapai 810 mm, kondisi yang seringkali menurunkan imunitas tubuh anak-anak. (Fatimah)