Sebagian Besar Kasus Suspek Campak di Talise Dialami Anak dengan Imunisasi Tidak Lengkap, Mobilitas Warga Picu Risiko Penularan

Sebagian Besar Kasus Suspek Campak di Talise Dialami Anak dengan Imunisasi Tidak Lengkap, Mobilitas Warga Picu Risiko Penularan Puskesmas Talise, Kota Palu, yang menjadi lokasi pelayanan kesehatan masyarakat sekaligus pemantauan kasus suspek campak di wilayah tersebut.
Kesehatan

Bagikan Berita ini!

Faktasulteng.id, PALU — Kasus suspek campak di wilayah kerja Puskesmas Talise, Kota Palu, didominasi oleh anak-anak dengan status imunisasi tidak lengkap. Kondisi ini diperparah oleh tingginya mobilitas masyarakat yang berpotensi mempercepat penularan, khususnya pada kelompok rentan seperti bayi, balita, dan anak-anak.

Petugas Surveilens Puskesmas Talise, Tia Septi Inggriani, SKM, mengungkapkan bahwa sebagian besar anak yang terdata sebagai suspek campak belum mendapatkan imunisasi campak secara lengkap. Rendahnya cakupan imunisasi ini berdampak pada menurunnya kekebalan kelompok atau herd immunity, sehingga risiko penyebaran penyakit di lingkungan masyarakat semakin meningkat.

“Sebagian besar kasus yang ditemukan memiliki status imunisasi yang tidak lengkap,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa imunisasi campak atau measles-rubella (MR) merupakan langkah paling efektif untuk mencegah penyakit tersebut. Selain memberikan perlindungan individu pada anak, imunisasi juga berperan penting dalam menekan penyebaran penyakit di lingkungan sekitar.

Selain faktor imunisasi, mobilitas masyarakat juga dinilai turut memengaruhi penyebaran campak. Aktivitas seperti perjalanan antarwilayah, kunjungan ke tempat wisata, hingga kegiatan di pusat keramaian dapat meningkatkan risiko penularan penyakit.

Tia Septi Inggriani menjelaskan bahwa gejala awal campak sering kali tidak disadari oleh orang tua karena hanya berupa demam. Ruam kemerahan biasanya baru muncul setelah tiga hingga empat hari.

“Gejala awal campak biasanya demam. Setelah tiga sampai empat hari baru muncul ruam kemerahan. Saat masih demam, sebagian orang tua tetap membawa anak bepergian sehingga berpotensi menularkan penyakit,” jelasnya.

Penularan campak sendiri dapat terjadi melalui percikan batuk atau bersin dari penderita. Oleh karena itu, aktivitas di tempat ramai menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai dalam upaya pencegahan.

Ia pun mengimbau masyarakat, khususnya para orang tua, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan campak. Anak yang sedang sakit sebaiknya tidak dibawa bepergian, terutama ke tempat keramaian. Bayi juga disarankan dijauhkan dari keramaian serta tidak sembarang disentuh atau dicium oleh orang lain.

Selain itu, orang tua diminta rutin membawa anak ke posyandu atau fasilitas kesehatan guna memastikan imunisasi dasar maupun lanjutan telah diberikan secara lengkap.

“Dengan melengkapi imunisasi, kita bukan hanya melindungi anak sendiri, tetapi juga membantu melindungi anak-anak lainnya dari penularan campak,” tutupnya.