Pasca Operasi Amandel Berujung Maut, Direktur RSUD Kolonodale Didesak Mundur
- Rabu, 18 Februari 2026 - 14:12 WITA
- Editor: Apri
- | Penulis: Redaksi
Tangkapan Layar Video Profil RSUD Kolonodale Via Youtube IT Support RSUD Kolonodale Official.
Kolonodale, Faktasulteng.id Dugaan kelalaian medis di RSUD Kolonodale, Kabupaten Morowali Utara, memicu gelombang protes warga setelah seorang pasien Rudin (20) meninggal dunia pasca operasi amandel, Senin (17/2). Peristiwa ini mencuatkan tuntutan akuntabilitas publik, termasuk desakan pencopotan Direktur Rumah Sakit dari jabatannya.
Berdasarkan keterangan keluarga, dari rilis yang diterima media ini, korban mengalami pendarahan hebat tak lama setelah tindakan medis dilakukan. Pihak keluarga menyatakan telah berulang kali meminta pertolongan, namun respons tenaga medis dinilai lambat. "Kejadian ini harus menjadi momentum evaluasi total terhadap manajemen pelayanan rumah sakit," tegas Renaldi Kuamas, Ketua Umum Badko HmI Sulteng, yang juga keluarga korban.
Menurut rilis tersebut masyarakat Morut kini mendesak Dinas Kesehatan Morowali Utara untuk segera melakukan audit medis transparan guna memastikan standar operasional prosedur (SOP) dijalankan dengan benar, mengingat Morowali Utara merupakan wilayah dengan cakupan geografis terbesar di Sulawesi Tengah yang membutuhkan sistem rujukan dan penanganan darurat yang solid.
Klarifikasi RSUD Kolonodale: Operasi 8 Jam dan Kondisi Tak Terprediksi
Menanggapi tudingan tersebut, Direktur RSUD Kolonodale, dr. Sherly Pede, memberikan penjelasan resmi yang dikutip dari media beritamorut.com Pihak manajemen menegaskan bahwa seluruh tindakan telah dilakukan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP), termasuk pemeriksaan penunjang sebelum operasi.
“Pertama-tama kami menyampaikan ungkapan turut berdukacita yang mendalam kepada keluarga,” ujar dr. Sherly yang dikutip dari beritamorut.com
Ia menegaskan bahwa seluruh tindakan medis terhadap pasien telah dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Sebelum operasi diputuskan, pasien disebut telah menjalani pemeriksaan menyeluruh, termasuk pemeriksaan penunjang, guna memastikan kelayakan tindakan operasi.
Terkait lamanya proses operasi yang menjadi sorotan dan pertanyaan keluarga kurang lebih sampai 8 jam, pihak rumah sakit menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat terjadi dalam situasi tertentu dan tidak selalu dapat diprediksi.
“Terkait proses operasi yang memakan waktu cukup panjang, hal seperti ini adalah kondisi yang kadang terjadi terhadap pasien. Apa penyebabnya? Tidak diketahui secara pasti. Kejadian seperti ini tidak bisa diprediksi karena kondisi masing-masing pasien tentu berbeda-beda,” jelasnya.
Menurut manajemen, operasi selesai dilakukan dengan kondisi pasien stabil dan selanjutnya dipindahkan ke ruang ICU untuk observasi pascatindakan.
Setelah beberapa hari dirawat di ICU, kondisi pasien dinilai stabil dan dipindahkan ke ruang perawatan biasa.
Namun, saat berada di ruang perawatan bedah, pasien tiba-tiba mengalami perdarahan. Penanganan dan Proses Rujukan Pihak RSUD menyebut tindakan pertolongan segera dilakukan untuk menghentikan perdarahan, termasuk pemberian transfusi darah. Dokter yang menangani juga mempertimbangkan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap, yakni RSUD Undata Palu.
Proses rujukan melalui sistem SISRUTE disebut telah dilakukan. Namun, berdasarkan jawaban dari rumah sakit tujuan, pasien diminta untuk distabilkan terlebih dahulu sebelum dapat dirujuk.
“Setelah perdarahan tertangani dan transfusi selesai dilakukan, pasien kembali dipindahkan ke ICU untuk stabilisasi. Di ICU pun pasien tetap mendapatkan transfusi,” terang dr. Sherly.
Meski demikian, pada Minggu pagi kondisi pasien kembali memburuk. Pasien dilaporkan mengalami batuk disertai perdarahan hebat. Tim medis segera melakukan penanganan untuk menghentikan perdarahan, namun nyawa pasien tidak dapat diselamatkan.
Manajemen RSUD Kolonodale menegaskan bahwa penanganan telah dilakukan sesuai prosedur medis dan membuka ruang klarifikasi apabila diperlukan.
Pihak rumah sakit juga menyatakan siap memberikan penjelasan lebih lanjut secara resmi guna menjawab pertanyaan keluarga maupun masyarakat terkait kronologis medis dan langkah-langkah yang telah ditempuh selama perawatan pasien.
Data dan Konteks Wilayah: Urgensi Layanan Kesehatan
Berdasarkan data Statistik Daerah Provinsi Sulawesi Tengah 2025, Kabupaten Morowali Utara merupakan wilayah yang luas (8.736,006 km²) dengan tantangan geografis yang tinggi. Sebagai pusat rujukan bagi 125 desa, RSUD Kolonodale memegang peran vital dalam menjaga Angka Harapan Hidup masyarakat Morowali Utara yang saat ini berada di angka 72,35 tahun.
Tragedi yang menimpa Rudin di usia 20 tahun menjadi ironi bagi daerah yang tengah memacu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) hingga mencapai 71,64, dan juga sebagai daerah tujuan investasi, Ketergantungan pada RS rujukan di ibu kota provinsi (Palu) menunjukkan adanya celah dalam kemampuan stabilisasi pasien darurat di tingkat kabupaten yang harus segera dievaluasi. (Apri)