Awal 2026, Kasus Suspek Campak di Talise Meningkat: Bayi, Balita, dan Anak Sekolah Paling Rentan

Awal 2026, Kasus Suspek Campak di Talise Meningkat: Bayi, Balita, dan Anak Sekolah Paling Rentan n tren kasus suspek campak di wilayah kerja Puskesmas Talise
Kesehatan

Bagikan Berita ini!

Faktasulteng.id, PALU - Kasus suspek campak di wilayah kerja Puskesmas Talise, Kota Palu, mengalami peningkatan pada awal tahun 2026, dengan lonjakan terjadi pada Januari hingga Februari yang masing-masing mencatat sekitar 25 kasus. Kelompok yang paling terdampak adalah bayi, balita, dan anak usia sekolah.

Berdasarkan data tren yang dihimpun Puskesmas Talise, peningkatan kasus mulai terlihat sejak awal tahun 2026. Pada Januari dan Februari tercatat sekitar 25 kasus suspek campak, sementara sejak awal Maret hingga saat ini tercatat sekitar 10 kasus. Hampir seluruh pasien menunjukkan gejala khas seperti demam, ruam kemerahan pada kulit, batuk, pilek, serta mata merah, dan dalam beberapa kasus disertai komplikasi seperti diare dan pneumonia.

Petugas Surveilens Puskesmas Talise, Tia Septi Inggriani, SKM menjelaskan bahwa kelompok usia yang paling banyak terdampak adalah bayi, balita, dan anak usia sekolah. “Sebagian besar kasus terjadi pada bayi, balita, dan anak-anak usia sekolah,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa gejala awal campak kerap disalahartikan sebagai demam biasa oleh masyarakat. “Biasanya setelah tiga sampai empat hari baru muncul ruam kemerahan yang menjadi ciri khas campak,” jelasnya.

Pada tahun 2025, jumlah kasus relatif lebih rendah dan tersebar sepanjang tahun. Peningkatan tertinggi hanya terjadi pada November dengan sekitar 11 kasus, kemudian menurun pada Desember. Hingga saat ini, belum ada kasus yang terkonfirmasi positif melalui pemeriksaan laboratorium karena spesimen campak harus diperiksa di laboratorium rujukan di luar Kota Palu.

Sebagian besar kasus yang ditemukan memiliki status imunisasi yang tidak lengkap, sehingga meningkatkan risiko penularan penyakit di masyarakat. Kondisi ini menjadi perhatian bagi warga Kota Palu, khususnya di wilayah Talise, mengingat tingginya kerentanan pada kelompok usia anak serta potensi penyebaran yang lebih luas.