Sebanyak 1.650 Balita di Sigi Mengalami Stunting, Dinkes: Fokus pada Tiga Kecamatan dengan Prevalensi Tertinggi
- Senin, 10 Maret 2025 - 15:07 WITA
- Editor: Redaksi
Foto: Ilustrasi/IST.
Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, saat ini menghadapi tantangan serius dalam penanganan stunting pada balita. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sigi mencatat peningkatan angka stunting dari 13,90% pada November 2024 menjadi 14,71% pada Desember 2024.
Dr. Trieko Stefanus Larope, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi, mengungkapkan bahwa tiga kecamatan menjadi fokus utama penanganan karena memiliki angka prevalensi stunting tertinggi:
- Puskesmas Dombusoi, Kecamatan Marawola Barat: Dari 212 balita, 101 mengalami stunting (47,6%).
- Puskesmas Kamaipura, Kecamatan Tanambulava: Dari 264 balita, 92 mengalami stunting (34,85%).
- Puskesmas Tinggede, Kecamatan Marawola: Dari 396 balita, 111 mengalami stunting (28,03%).
“Saat ini, Dinkes Kab. Sigi fokus dalam penanganan ketiga kecamatan tersebut karena memiliki angka prevalensi paling tinggi dibandingkan yang lainnya,” ujar dr. Trieko.
Selain tiga kecamatan tersebut, Dinkes Kabupaten Sigi juga mencatat data stunting di puskesmas lain, yang memperlihatkan variasi angka prevalensi. Dari 19 puskesmas di Kabupaten Sigi, tercatat 11.216 balita, dengan 1.650 di antaranya mengalami stunting (14,71%).
Upaya penanganan stunting yang dilakukan oleh Dinkes Kabupaten Sigi meliputi:
- Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri.
- Pemeriksaan kehamilan rutin.
- Pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil untuk memastikan kecukupan gizi dan zat besi.
Diketahui, stunting menjadi perhatian utama di Indonesia, termasuk dalam program Presiden dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi ini berdampak negatif pada tumbuh kembang anak dan fungsi otak. Dinkes Kabupaten Sigi terus berupaya keras untuk menekan angka stunting dan memastikan generasi muda tumbuh sehat dan cerdas. (FDL)