Kumpulan Pepatah Dalam Bahasa Kaili
- Jumat, 31 Oktober 2025 - 19:59 WITA
- Editor: Apri
- | Penulis: Apri
Tangkapan Layang Instagram @kailinesia.id
Faktasulteng.id, Kailinesia - Suku Kaili merupakan salah satu suku besar yang mendiami wilayah tengah Pulau Sulawesi, khususnya di Provinsi Sulawesi Tengah. Mereka tersebar di Kabupaten Donggala, Sigi, dan Kota Palu, hingga ke wilayah pesisir timur seperti Parigi Moutong, Tojo Una-Una, dan Poso. Permukiman masyarakat Kaili terbentang dari lembah di antara Gunung Gawalise, Nokilalaki, Kulawi, hingga Raranggonau, serta menyentuh kawasan pantai di Teluk Tomini dan Teluk Palu yang subur dan kaya sejarah.
Dalam bahasa dan budaya mereka, penyebutan “orang Kaili” dikenal dengan istilah To Kaili — awalan “To” menjadi penanda identitas manusia atau kelompok dalam bahasa setempat.
Asal-usul nama Kaili sendiri dipercaya berakar dari sebuah legenda tentang pohon Kaili, sejenis tumbuhan yang dahulu banyak ditemukan di hutan-hutan sekitar Sungai dan Teluk Palu. Konon, di masa lampau, sebuah pohon Kaili yang menjulang tinggi di tepi pantai Bangga menjadi penanda arah bagi para pelaut yang hendak berlabuh. Pohon itu tidak hanya menjadi penunjuk jalan, tetapi juga lambang kehidupan dan kebersamaan bagi masyarakat sekitar.
Seiring perjalanan waktu, suku Kaili berkembang menjadi rumpun etnik yang kaya dan beragam, terdiri atas lebih dari tiga puluh kelompok bahasa dan budaya, seperti Kaili Rai, Ledo, Da’a, Moma, Unde, Inde, Tara, hingga Bare’e. Di balik keragaman itu, terdapat satu benang merah yang mengikat mereka: kearifan hidup yang diwariskan melalui pepatah dan tutura (cerita lisan).
Pepatah Kaili bukan sekadar ungkapan bahasa, tetapi cermin nilai-nilai luhur masyarakatnya—tentang kerja keras, kebersamaan, dan hubungan harmonis dengan alam. Melalui pepatah inilah, kearifan lokal suku Kaili terus hidup, menuntun generasi muda untuk memahami jati diri mereka sebagai To Kaili di tengah arus perubahan zaman.
Pepatah adalah kiasan yang dinyatakan dengan kalimat selesai, yang mengiaskan keadaan atau kelakuan seseorang (Badudu, 1986:6). Pepatah juga diartikan sebagai sejenis peribahasa yang berisi nasihat atau petuah, dalam hal ini ajaran tua-tua (Hakim, 1995:v).
Daftar Pepatah Kaili
a. patuju manjedu langi rakuya naeda bata
-
'maksud menggapi langit diapakan pendek badan'
-
Makna: Maksud hati ingin menjangkau atau menggapai langit, tetapi sayang kemampuan terbatas.
b. vesia lale vesia muni pakavai
-
'begitu lalat begitu juga tungau'
-
Makna: Perbuatan seorang anak sesungguhnya meniru contoh yang diperlihatkan oleh orang tuanya atau lingkungan keluarga sekitarnya.
c. belo rapovia belo rakava
-
'baik dibuat baik didapat'
-
Makna: Kalau kebaikan yang diperbuat, kebaikan pula yang diperoleh.
d. damo madungga pade manjaba tanah
-
'nanti terjatuh baru memegang tanah'
-
Makna: Setelah tertimpa oleh kesalahan, baru berusaha.
e. da napai da nekarapai nariapa nekalingasimo
-
'masih pahit masih mendekati setelah ada sudah melupakan'
-
Makna: Di saat susah selalu meminta pertolongan, setelah senang lupa kepada orang yang telah memberikan pertolongan.
f. da naria da nepodanu napakasipa niporayu
-
'masih berada disenangi setelah miskin sudah dibenci'
-
Makna: Di saat berada disenangi oleh keluarganya, setelah jatuh miskin sudah tidak disenangi lagi.
g. da nikoni da nekeni
-
'sudah dimakan masih di bawah'
-
Makna: Sudah diberi makan masih meminta lagi untuk dibawa pulang.
h. da ri tana-tana ri langimo
-
'masih di tanah-tanah di langit sudah'
-
Makna: Kemampuan baru sedikit, tetapi bicara sudah melambung tinggi.
i. dopa nisama jara nagovamo
-
'belum dikekang kuda, sudah mendahului berlari'
-
Makna: Belum dipikirkan matang-matang sudah mengambil tindakan.
j. dopa nototai nokelumo
-
'belum buang air besar, sudah berstinja'
-
Makna: Sesuatu yang belum terkabul, tetapi telah digembar-gemborkan.
k. ia mo nanguli ia mo nangala
-
'dia sudah berkata dia pula mengambilnya'
-
Makna: Dia yang berkata, dia pula yang melanggarnya; Dia yang memberi nasihat, dia pula yang melanggarnya.
l. kedo nu manusia nombasiloki karona mboto
-
'tingkah laku manusia menerangi badannya sendiri'
-
Makna: Perbuatan manusia merupakan gambaran kepribadiannya.
m. lompe ntau jaa nusampesuvu
-
'baik orang jahat keluarga sendiri'
-
Makna: Bagaimanapun baiknya orang lain tetaplah orang lain, bagaimanapun jahatnya sanak saudara tetaplah ia keluarga.
n. mau aga molumakoka vukotu kana manggalepamo
-
'walaupun hanya berjalan dengan lutut tetap melangkah terus'
-
Makna: Demi meraih sukses, sekalipun menemui kesulitan dan rintangan berat, pekerjaan tetap diteruskan.
o. mau membua malanga kana raivumo ntana
-
'biar terbang meninggi tetap ditimbun tanah'
-
Makna: Walaupun mempunyai kedudukan dan pangkat tinggi, tetapi semuanya itu tidaklah berarti apa-apa karena pada akhirnya kembali ke asal tanpa pangkat tinggi.
p. nangganasipa mata mekalingasimo mate
-
'setelah melihat mata sudah dilupakan mati'
-
Makna: Setelah menjadi orang yang terpandang, lupa kepada yang menciptakannya.
q. nompene ri vamba mbaso nanau ri vamba kodi
-
'naik melalui pintu besar turun melalui pintu kecil'
-
Makna: Kalau menerima berita tentang aib seseorang hendaknya jangan disebarkan lagi kepada umum, cukup hanya diketahui oleh keluarga sendiri.
r. pikiri tanondooka pade raviataka
-
'pikirkan renungkan baru berbuat'
-
Makna: Pikirkan dan renungkan baik-baik sebelum melangkah sehingga tidak sia-sia.
s. sema mabuto ledo mabutu
-
'siapa yang malas tidak kebagian'
-
Makna: Sukses itu dapat diraih dari hasil keringat sendiri, bukan hanya diberikan begitu saja.
t. taisi karo mboto ulu pade mantaisi koro ntau
-
'beraki badan sendiri dulu baru memberaki badan orang'
-
Makna: Berakhlak badan sendiri dulu baru memberaki badan orang.
u. kalosu notutu ntimali
-
'pinang bertutup sebelah-menyebelah'
-
Makna: Orang yang wajahnya jelek sekali sehingga tak ada lawan jenis yang tertarik atau jatuh cinta kepadanya.
v. Tomata nabelo nibalahi nu ja'a
-
'orang baik dibalas dengan jahat'
-
Makna: Kebaikan seseorang dibalas dengan kejahatan.
w. anana manjava umana
-
'anaknya mengikuti bapaknya'
-
Makna: Perilaku seorang anak mencerminkan perbuatan bapaknya pada waktu lampau.
x. mosari koro mboto
-
'menyentani badan sendiri'
-
Makna: Orang yang suka memuji diri sendiri.
Daftar Pustaka:
Ponulele, N., Hali, A. G., Hamid, I. A., & Barasandji, S. (1998). Ungkapan dan peribahasa bahasa Kaili. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.