Nyawa Bocah SD Melayang Akibat Bullying Sadis, Perut Membengkak Hingga Muntah Darah
- Minggu, 01 Juni 2025 - 12:00 WITA
- Editor: Apri
Foto: Ilustrasi/Ai
Faktasulteng.id, Riau - Sebuah kasus tragis yang melibatkan tindakan perundungan berujung maut menimpa seorang siswa sekolah dasar di Indragiri Hulu, Riau. KB (8), siswa kelas 2 SD, dikabarkan meninggal dunia setelah diduga dianiaya oleh lima orang kakak kelasnya. Kasus ini mencuat pada Senin, 27 Mei 2025, setelah viral disosial media dan memicu keprihatinan mendalam di masyarakat.
Menurut keterangan sang ayah, Gimson Beni Butarbutar, KB seringkali menjadi korban perundungan (bullying) lantaran perbedaan suku dan agama. “Seminggu yang lalu dia sudah sering dibully. Dibilang suku ini, agama ini,” ungkap Gimson dengan nada pilu.
Insiden yang merenggut nyawa KB ini diduga bermula pada Senin, 19 Mei 2025. Saat itu, KB pulang sekolah lebih cepat dengan kondisi ban sepeda yang sudah dikempeskan oleh kakak kelasnya. Keesokan harinya, Selasa, 20 Mei 2025, KB kembali pulang cepat, beralasan ada acara di sekolah. Kecurigaan Gimson mulai timbul. Ia kemudian meminta sang istri untuk menjelaskan kepada pihak sekolah bahwa KB memang sedang sakit dan telah meminta izin untuk tidak masuk.
Namun, kondisi KB justru memburuk pada malam harinya. Ia mengalami demam tinggi, bolak-balik ke kamar mandi, dan mengeluhkan sakit pinggang. Kecurigaan Gimson semakin menguat setelah melihat bagian bawah perut anaknya membengkak.
Untuk mencari tahu penyebab pasti, Gimson mendatangi teman KB bernama Rio. Dari Rio, terungkap pengakuan mengejutkan bahwa KB telah dipukuli oleh lima orang kakak kelasnya. Gimson sempat melaporkan hal ini kepada wali kelas, namun sayangnya tidak ada tindakan lanjutan yang diambil.
Tak tinggal diam, Gimson lantas mendatangi sekolah dan berhasil menemui salah satu terduga pelaku berinisial DR. DR mengakui telah meninju KB dari belakang. Nama lain yang sempat disebut adalah HM, namun orang tua HM membantah keterlibatan anaknya dan justru menyebut ada pelaku lain yang turut terlibat.
Kondisi KB terus memburuk dan mencapai titik kritis pada Minggu, 25 Mei 2025. Ia muntah lendir bercampur darah, mengalami sesak napas, dan kejang-kejang. KB kemudian segera dirujuk ke RSUD Pematang Reba. “Dalam perjalanan ke rumah sakit itu dia sudah kejang-kejang. Ngeri kondisinya,” kenang Gimson, sang ayah, dengan nada getir. Sayangnya, meski sempat mendapat perawatan medis, nyawa KB tidak dapat tertolong.
Kapolres Indragiri Hulu (Inhu) AKBP Fahrian Saleh Siregar menyatakan bahwa pihak kepolisian telah mengidentifikasi lima terduga pelaku perundungan ini, yaitu HM (12), RK (13), MJ (11), DR (11), dan NN (13). Saat ini, pihak kepolisian masih menunggu hasil autopsi untuk melengkapi proses penyelidikan dan memastikan penyebab kematian korban secara medis. Kasus ini menjadi sorotan serius, mengingat tindakan perundungan yang berujung pada hilangnya nyawa seorang anak di bawah umur. (**)