KM 8 Kebun Kopi, Titik Nadir Perjalanan Mudik Mahasiswi Naila

KM 8 Kebun Kopi, Titik Nadir Perjalanan Mudik Mahasiswi Naila Kartu Tanda Mahasiswa Milik Almarhumah Naila (19). Foto: Ist.
Feature

Bagikan Berita ini!

PARIGI MOUTONG – Debu jalanan Kilometer 8 Kebun Kopi, Parigi Moutong, pada Selasa siang itu, menjadi saksi bisu tragedi yang merenggut impian seorang mahasiswi. Naila (19), dengan tas berisi mukena baru dan baju koko putih bertuliskan “Buat Mama,” mengakhiri perjalanannya di titik itu. Bukan kampung halaman yang menyambut, melainkan isak tangis dan duka mendalam.

Naila, mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, sedang dalam perjalanan mudik menuju Desa Ginunggung, Kabupaten Tolitoli. Di dalam tasnya, tersimpan rapi hadiah untuk kedua orang tuanya. Mukena dan baju koko itu, masih dalam bungkusan plastik, seolah menyimpan harapan yang belum sempat terwujud.

“Dia anak yang baik, sangat sayang sama orang tuanya,” kata seorang kerabat, suaranya tercekat menahan tangis.

Perjalanan mudik yang seharusnya penuh kebahagiaan, berubah menjadi mimpi buruk. Kendaraan yang ditumpangi Naila dan seorang rekannya terlibat kecelakaan tragis. Naila tewas di tempat kejadian, sementara rekannya mengalami luka parah, dengan kondisi kaki yang dikabarkan putus.

Hamid Maddusila, warga yang ikut mengevakuasi korban, hanya bisa menggelengkan kepala. “Korban sudah ditangani Unit Laka Lantas Polres Parimo,” ujarnya singkat.

Kabar duka ini menyebar cepat di media sosial, memicu gelombang ucapan belasungkawa. Warganet, yang tak mengenal Naila secara pribadi, ikut merasakan kehilangan. Doa-doa mengalir, berharap almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

“Semoga husnul khatimah. Bayangkan, hadiah untuk orang tua, tidak sempat diberikan,” tulis seorang warganet, menyuarakan kesedihan yang sama.

Di Desa Ginunggung, Tolitoli, keluarga Naila tengah mempersiapkan pemakaman. Mukena dan baju koko putih itu, mungkin akan tetap diberikan, sebagai kenangan terakhir dari seorang anak yang begitu mencintai orang tuanya.

Sementara itu, di Kilometer 8 Kebun Kopi, jejak tragedi masih membekas. Jalanan itu, yang seharusnya menjadi jalur mudik yang ramai, kini menjadi saksi bisu betapa perjalanan hidup bisa berakhir begitu tiba-tiba.

Kronologi Lakalantas

Sampai dengan berita ini diterbitkan, media ini belum menadapatkan informasi dari pihak berwajib terkait kronologi lengkap lakalantas yang merenggut nyawa Naila dan luka parah pada rekannya.

Namun dari informasi salah satu grup whatsApp yang diduga berisi teman-teman almarhumah beredar pesan “barusan dapat kabar katanya mereka itu pelan² bawa motor di pinggir, Cuma tiba² ada mobil yang ba lambung lalu menyeret mereka, Makanya sampai habis kakinya dan bahkan isi kepalanya keluar Yaa Allah semoga kita semua yang dalam grub ini, beserta keluarganya kita selalu dalam lindungan allah” tutup pesan yang cukup menyayat hati itu. (**)