Bukan Hanya Ikon KIK Sulteng, Lalampa Toboli Jadi Penopang Ekonomi Warga

Bukan Hanya Ikon KIK Sulteng, Lalampa Toboli Jadi Penopang Ekonomi Warga Penjual Lalampa melayani pembeli di salah satu warung kawasan Toboli, Parigi Moutong. (Foto: Laila Hidayati/Faktasulteng.id)
FaktaTravel

Bagikan Berita ini!

Di sepanjang jalur Trans Sulawesi yang melintasi Desa Toboli, Kabupaten Parigi Moutong, aroma daun pisang terbakar bercampur wangi ikan tuna dan ketan selalu menjadi penanda khas bagi para pelintas jalan. Senin siang, 11 Mei 2026, suasana di sejumlah warung penjual Lalampa Toboli terlihat ramai didatangi pembeli yang singgah untuk beristirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Bagi sebagian orang, Lalampa mungkin hanya jajanan tradisional berbahan ketan berisi ikan tuna yang dibungkus daun pisang lalu dibakar di atas bara api. Namun bagi warga Desa Toboli, kuliner khas itu adalah denyut ekonomi yang menjaga dapur keluarga tetap menyala.

Aktivitas produksi Lalampa di desa tersebut berlangsung hampir setiap hari. Di rumah-rumah produksi sederhana milik warga, para ibu rumah tangga bekerja sejak pagi menyiapkan ketan, mengolah ikan, membungkus adonan, hingga membakar ratusan Lalampa untuk dipasok ke warung-warung di sepanjang jalan.

Nurwani, salah satu pemilik rumah produksi Lalampa di Desa Toboli, mengatakan usaha mereka masih berjalan secara mandiri tanpa memiliki warung sendiri. Produksi dilakukan berdasarkan pesanan dari para penjual.

“Kami hanya menerima pesanan dari warung-warung. Ada yang pesan 500, 600, jadi sesuai pesanan itu kami buatkan Lalampanya. Karena kami tidak punya warung sendiri jadi kami menerima pesanan,” ujarnya saat ditemui tim Faktasulteng.id.

Menurut Nurwani, jumlah produksi tidak selalu sama setiap hari. Permintaan meningkat ketika arus perjalanan ramai, terutama pada akhir pekan atau musim liburan. Meski terlihat menjanjikan, keuntungan yang diperoleh belum sepenuhnya besar karena harus dibagi dengan para pekerja dan biaya produksi yang terus meningkat.

“Kalau penghasilan kotor sehari biasa bisa dua sampai tiga juta rupiah, tapi itu belum dibagi dengan karyawan. Modal juga dari kami sendiri,” katanya.

Di rumah produksinya, Nurwani tidak bekerja sendiri. Ia bersama kelompok ibu-ibu di Desa Toboli membangun sistem kerja berbasis gotong royong. Ada yang bertugas memasak ketan, menyiapkan ikan, membungkus Lalampa, hingga membakar dan mendistribusikan ke warung-warung langganan.

Bagi warga setempat, usaha Lalampa bukan sekadar bisnis kuliner, tetapi juga sumber mata pencaharian yang membuka lapangan kerja rumahan bagi perempuan desa.

Sementara itu, Dewi Yulianti, pemilik Warung Lalampa Hilwah Toboli yang telah beroperasi sejak 2013, mengaku permintaan Lalampa bisa mencapai ribuan bungkus dalam sehari ketika kondisi ramai.

“Kalau lagi ramai saya bisa ambil sampai seribu dari pembuat. Kalau tidak cukup, ambil lagi di tempat lain, kadang 500 atau 300,” tuturnya.

Nurwani, salah satu pemilik rumah produksi Lalampa di Desa Toboli, bersama warga saat memproduksi Lalampa. (Foto: Laila Hidayati/Faktasulteng.id)
Nurwani, salah satu pemilik rumah produksi Lalampa di Desa Toboli, bersama warga saat memproduksi Lalampa. (Foto: Laila Hidayati/Faktasulteng.id)

 

Meski penjualan cukup tinggi, Dewi menyebut margin keuntungan yang diperoleh para penjual maupun pembuat Lalampa masih relatif tipis. Banyak biaya operasional yang harus ditanggung sendiri, mulai dari bara api, minyak, hingga kemasan.

“Keuntungannya tipis karena masih tanggung bara, minyak, kantongan. Tapi alhamdulillah masih ada sedikit. Pembuat juga begitu, karena bahan bakunya mahal jadi untungnya tidak terlalu besar,” ungkapnya.

Di tengah tantangan tersebut, eksistensi Lalampa Toboli justru semakin dikenal luas. Pada akhir 2025 lalu, Lalampa khas Toboli resmi ditetapkan sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sulawesi Tengah.

Penetapan itu tidak hanya memperkuat identitas Lalampa sebagai kuliner khas Parigi Moutong, tetapi juga menjadi pengakuan atas tradisi dan pengetahuan lokal masyarakat Toboli yang diwariskan secara turun-temurun.

Kini, Lalampa Toboli bukan hanya menjadi ikon kuliner Sulawesi Tengah bagi para pelintas jalan Trans Sulawesi. Di balik asap pembakaran dan hangatnya ketan yang baru matang, terdapat perjuangan ekonomi warga desa yang terus bertahan dengan modal mandiri dan semangat gotong royong.

Bagi masyarakat Toboli, setiap bungkus Lalampa yang terjual bukan sekadar makanan, melainkan harapan yang terus dibakar di atas bara kehidupan. (Laila Hidayati)