Wamen Kependudukan: Perbaikan Jamban Jadi Bagian Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting
- Kamis, 01 Oktober 2026 - 11:53 WITA
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka. (Foto/IST)
Faktasulteng.id, Palu – Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menjelaskan perbaikan jamban bagi keluarga berisiko stunting merupakan salah satu bentuk dukungan dalam Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting).
Isyana mengatakan, program Genting tidak hanya berfokus pada pembangunan rumah atau jamban. Program tersebut membuka ruang kolaborasi dengan orang tua asuh yang memiliki berbagai program untuk mendukung pencegahan stunting.
“Program Genting itu bermacam-macam. Ada yang bedah rumah, ada yang jamban. Fokusnya adalah bagaimana kita mencarikan orang tua asuh yang memang punya program-program untuk pencegahan stunting,” kata Isyana.
Menurutnya, bentuk dukungan orang tua asuh dapat disesuaikan dengan kebutuhan keluarga sasaran. Selain perbaikan jamban, dukungan dapat berupa pemberian makanan tambahan, edukasi gizi, pengelolaan sampah, perilaku hidup bersih dan sehat, hingga edukasi mengenai tumbuh kembang anak.
Dalam kegiatan yang berlangsung di Labuan Kota Palu tersebut, BRI turut berkolaborasi melalui program bantuan pembangunan jamban bagi keluarga yang masuk kategori berisiko stunting dan belum memiliki fasilitas sanitasi yang layak.
Isyana menegaskan, upaya pencegahan stunting tidak dapat dilakukan oleh satu kementerian atau lembaga saja. Intervensi membutuhkan kolaborasi lintas kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, BUMN, BUMD, perguruan tinggi, dan masyarakat.
“Pencegahan stunting itu tidak hanya intervensi spesifik saja. Semuanya harus ada kolaborasi lintas kementerian, lintas lembaga, lintas sektor,” ujarnya.
Ia mencontohkan dukungan terhadap pemenuhan gizi melalui Makan Bergizi Gratis (MBG) yang juga menjadi bagian dari upaya pencegahan stunting. Menurut Isyana, intervensi perlu dilakukan sejak masa kehamilan hingga periode *1.000 hari pertama kehidupan*.
Dalam kunjungan tersebut, keluarga penerima manfaat juga mendapatkan MBG untuk ibu dan anak yang belum bersekolah. Sementara anak yang telah bersekolah mendapatkan makanan melalui program MBG di sekolah.
Isyana juga membuka peluang bagi perusahaan melalui program CSR untuk membantu keluarga berisiko stunting, termasuk dalam perbaikan rumah dan penyediaan sanitasi.
“Kita membuka betul kolaborasi dengan kementerian, lembaga, BUMN, BUMD untuk sama-sama membantu memastikan penurunan stunting ini bisa betul-betul terjadi,” katanya.
Menurut Isyana, keluarga yang menjadi sasaran bantuan akan terlebih dahulu diidentifikasi berdasarkan data keluarga berisiko stunting. Dengan begitu, bantuan dari orang tua asuh maupun dunia usaha dapat diarahkan kepada keluarga yang membutuhkan.
Ia berharap kolaborasi tersebut dapat memperkuat upaya pemerintah dalam menurunkan angka stunting secara nasional melalui intervensi yang tidak hanya berfokus pada gizi, tetapi juga sanitasi, edukasi, kesehatan, dan kondisi lingkungan keluarga.