Tradisi Noarua di Lorong Uwe Salura Hidupkan Silaturahmi Sambut Bulan Suci Ramadan
- Jumat, 06 Februari 2026 - 20:13 WITA
- Editor: Abdy Nusantara
- | Penulis: Abdy Nusantara
Tradisi Noarua, kearifan lokal masyarakat setempat berupa makan bersama memperingati malam Nisfu Syaban dan menyambut bulan suci Ramadan, kembali digelar warga di Lorong Uwe Salura, Kelurahan Tondo, Palu
Faktasulteng.id, PALU – Tradisi Noarua, kearifan lokal masyarakat setempat berupa makan bersama memperingati malam Nisfu Syaban dan menyambut bulan suci Ramadan, kembali digelar warga di Lorong Uwe Salura, Kelurahan Tondo, Palu. Suasana kebersamaan itu diungkapkan Ketua RT 1 , Mustika Sari, saat ditemui Jumat (6/02/2026).
Menurut Mustika, tradisi yang telah berlangsung turun-temurun tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang mempererat hubungan sosial antarwarga.
“Ini bukan hanya acara makan-makan, tapi momen meningkatkan ukhuwah Islamiyah. Di sinilah kita saling menyapa, saling memaafkan, dan menguatkan persaudaraan. Saya bangga menjadi orang Kaili yang masih menjaga budaya ini,” ujarnya.
Ia menceritakan, pola pelaksanaan Noarua sempat dilakukan terpusat di masjid. Namun model itu dinilai kurang efektif karena warga harus berkeliling ke banyak rumah hingga larut malam. Setelah berdiskusi, masyarakat sepakat memusatkan kegiatan di satu titik dengan konsep membawa makanan dan piring dari rumah masing-masing.
“Ada orang tua pengurus masjid yang curhat anaknya protes karena harus keliling puluhan rumah sampai tengah malam. Dari situ kami berinisiatif kumpul di satu tempat saja. Ternyata warga senang dan terharu karena lebih terasa kebersamaannya,” katanya.
Kegiatan tersebut juga menjadi ruang bertemunya berbagai kalangan, mulai tokoh masyarakat, ibu-ibu, hingga mahasiswa yang tinggal sekitaran lorong uwe salura, Tondo. Warga berharap tradisi Noarua terus dilaksanakan tidak hanya pada momen keagamaan, tetapi juga sebagai perekat sosial di tengah kehidupan perkotaan yang makin individual.
Bagi masyarakat Lorong Uwe Salura, Noarua menjadi penanda bahwa identitas budaya Kaili tetap hidup di tengah perubahan zaman. “Selama masih ada kebersamaan, tradisi ini tidak akan hilang. Inilah cara kami menyambut Ramadan dengan hati yang lebih dekat,” tutup Mustika. (Abdy HM).