Tenun Donggala Dibidik Go Global, Gubernur Anwar Hafid Tetapkan Towale sebagai Sentra Wisata Budaya
- Rabu, 10 Desember 2025 - 09:32 WITA
- Editor: Ananda Ramadan
- | Penulis: Redaksi
Gubernur Anwar Hafid bersama Ketua TP PKK Sulteng Sry Nirwanti Bahasoan melihat langsung proses pembuatan Tenun Donggala (IST)
Faktasulteng.id, DONGGALA – Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hafid, M.Si., menegaskan arah kebijakan pemerintah provinsi untuk menjadikan Desa Towale di Kecamatan Banawa Tengah sebagai prioritas pengembangan desa wisata berbasis budaya. Hal itu disampaikan saat Ia membuka kegiatan Networking of Tenun Central Sulawesi yang digelar di Desa Wisata Towale, Selasa, 9 Desember 2025, bersamaan dengan peresmian destinasi baru Pantai Karampuana.
Dalam sambutannya, Anwar menilai Towale memiliki nilai budaya yang kuat, terutama Tenun Donggala yang telah berstatus Warisan Budaya Nasional sejak 2015. “Tenun Donggala ini sudah menasional. Sekarang kita ingin kembali mendunia, seperti dulu ketika sarung Donggala menjadi kebanggaan dan bernilai tinggi,” ujar Gubernur.
Anwar berkisah tentang masa ketika sarung Donggala kerap dijadikan “modal hidup” masyarakat karena memiliki nilai ekonomi yang bisa diandalkan setiap waktu. Ia menambahkan bahwa kebangkitan kembali kecintaan generasi muda terhadap motif Donggala membuatnya optimistis. Ia bahkan mengaku selalu mengenakan Batik Donggala dalam berbagai pertemuan dinas—baik di daerah maupun di Jakarta—sebagai bentuk promosi budaya. “Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi,” tegasnya.
Bentuk komitmen serupa juga ia sorot dari Ketua Dekranasda Sulteng, Sry Nirwanti Bahasoan, yang disebut hampir selalu mengenakan Batik Donggala dalam aktivitas dinas maupun perjalanan luar daerah. Anwar menyebut hal itu sebagai contoh bahwa pelestarian budaya perlu dimulai dari diri sendiri.
Pada kegiatan yang dihadiri 223 penenun itu, Anwar menyampaikan rasa hormatnya atas kedatangan Presiden/CEO Eco Fashion Week Australia (EFWA), Dr. Zulhal Bupan Mils. Ia menilai kehadiran tokoh mode dunia tersebut membuka ruang kolaborasi internasional antara penenun Donggala dengan desainer dan lembaga kreatif global. “Beliau datang dari jauh hanya untuk membantu kita mengangkat warisan budaya nasional ini,” ucapnya.
Gubernur juga menyatakan kekagumannya terhadap kemampuan para penenun menciptakan motif secara mandiri. Untuk mendukung pengembangan usaha penenun, ia memastikan bahwa pemerintah akan menyalurkan bantuan modal pada tahun 2026. “Tahun 2026, pemerintah akan memberikan bantuan modal lima juta rupiah kepada setiap penenun. Agar kreativitas semakin berkembang dan warisan budaya kita semakin maju,” katanya.
Ia turut mendorong ragam desain yang lebih sesuai selera generasi muda—motif yang lebih sederhana dan tidak terlalu mengilap—agar Tenun Donggala semakin adaptif terhadap pasar.
Sementara itu, dalam sambutannya, Dr. Zulhal Bupan Mils menyampaikan apresiasinya kepada Pemda Donggala, masyarakat Towale, serta para desainer lokal seperti Ibu Ece, Evan, dan Nasa. Ia menjelaskan bahwa sejak 2017 dirinya aktif memperjuangkan eco-fashion di tingkat internasional dengan fokus pada kreativitas berbasis serat alami seperti merino, kapas, cerami, dan alpaka.
“Tujuan kami adalah menginspirasi komunitas lokal, mengubah cara pandang mereka terhadap hubungan antara fesyen dan lingkungan, serta membuka kesempatan bagi desainer dan model muda untuk berkembang,” tutur Dr. Zulhal. Ia menegaskan bahwa kolaborasi lintas negara merupakan kunci agar kerajinan berbasis serat alami mampu bersaing di pasar dunia. “Kami bekerja bersama desainer nasional dan internasional, pemerintah, komunitas kreatif, lembaga pendidikan, dan media untuk mengangkat kerajinan berbahan alami ke level dunia,” tambahnya.
Acara tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Donggala Taufik M. Burhan, Kepala Dinas Pariwisata Sulteng, Kepala Desa Towale, para penenun, serta desainer lokal yang menampilkan karya mereka melalui peragaan busana. (**)