PDLH IX WALHI Sulteng Jadi Panggung Gagasan Calon Direktur dan Dewan Daerah Periode 2025–2029
- Jumat, 21 November 2025 - 08:09 WITA
- Editor: Ananda Ramadan
- | Penulis: Abdy Nusantara
Dewan Daerah WALHI Sulteng memaparkan gagasan dalam forum PDLH IX di Kantor WALHI Sulteng, Palu.
Faktasulteng.id, Palu — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Tengah menggelar penyampaian gagasan para calon Direktur Eksekutif Daerah dan calon Dewan Daerah periode 2025–2029, yang dirangkaikan dengan Pertemuan Daerah Lingkungan Hidup (PDLH) ke-IX tahun 2025. Kegiatan berlangsung di Kantor WALHI Sulteng, Jl. Tanjung Manimbaya No. 126, Palu, Kamis (20/11/2025).
Dengan mengangkat tema “Memperkuat Kedaulatan Rakyat atas Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dari Dampak Industri Ekstraktif di Sulawesi Tengah,” forum ini menjadi momentum penting dalam merumuskan arah gerakan lembaga di tengah ekspansi industri ekstraktif yang dinilai semakin masif di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Dalam agenda tersebut, dua nama tampil sebagai calon Direktur Eksekutif Daerah WALHI Sulteng, yakni Sunardi Katili dan Wiwin Matindas. Adapun untuk posisi Dewan Daerah terdapat empat kandidat, yaitu Annisa Putri Karandji, Muh. Tjakra A. Djupri, Rizal, dan Stevandi.
WALHI Sulteng menegaskan bahwa forum penyampaian gagasan ini tidak hanya bertujuan memaparkan visi dan misi kandidat, tetapi juga menjadi ruang evaluasi dan refleksi bersama. Selain menggali ide serta pemikiran para calon, kegiatan ini dirancang untuk menguji kapasitas kritis, khususnya dalam memperjuangkan kedaulatan rakyat atas sumber daya alam di Sulawesi Tengah.
‘’GSM (Green Study Movement) adalah orang – orang muda yang harus terus dirangkul, mereka merupakan motor penggerak WALHI. Karena ini merupakan calon fungsionaris baik yang menjadi eksekutif daerah maupun dewan daerah,’’ ujar salah satu calon eksekutif.
Sejumlah LSM, organisasi mahasiswa, serta berbagai unsur masyarakat sipil turut hadir dalam kegiatan ini. Keterlibatan mereka menunjukkan bahwa persoalan lingkungan hidup bukan hanya urusan segelintir orang, tetapi isu bersama yang membutuhkan pengawalan kolektif.
Acara ini diharapkan dapat memperkuat konsolidasi gerakan kolektif WALHI Sulawesi Tengah, sekaligus memastikan kepemimpinan periode berikutnya memiliki komitmen kuat dalam membela ruang hidup rakyat pesisir dari ancaman ekspansi industri yang merusak ekosistem dan mengabaikan hak-hak masyarakat.
(Abdy HM)